(VIDEO) Kata Jokowi Mari Kita Miliki Frekuensi yang Sama

Presiden Jokowi

Smartcitymakassar.com – Sentul – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepala Daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) se-Indonesia Tahun 2023, di Sentul International Convention Centre (SICC), Sentul, Jawa Barat, Selasa (17/01/2023).

Rakornas Kepala Daerah dan Forkopimda Tahun 2023 yang dihadiri oleh 4.545 peserta ini mengusung tema “Pertumbuhan Ekonomi dan Pengendalian Inflasi”.

Diketahui ada 5 poin penting dalam sambutan Presiden yakni inflasi, kemiskinan ekstrem, stunting, investasi dan stabilitas keamanan menjelang pemilu 2024.

Soal inflasi, awalnya Presiden RI mengatakan meskipun Indonesia bisa melalui tahun turbulensi ekonomi di 2022, namun perlu hati-hati pada tahun 2023, yang masih menjadi tahun ujian bagi ekonomi Indonesia dan ekonomi global,

Menurutnya, semuanya harus hati-hati, bekerja keras mendeteksi informasi-informasi dan data-data yang ada di lapangan sehingga jangan sampai kita keliru membuat kebijakan.

“Sekecil apapun kebijakan itu, harus berbasis pada data dan fakta-fakta di lapangan,” katanya.

Tahun 2023 diawali Managing Director dari IMF menyampaikan harus hati-hati dan waspada, meskipun pertumbuhan ekonomi kita berada pada posisi yang sangat baik.

Lanjut Presiden menjelaskan, Tahun 2023, Kristalina Georgieva, mengatakan sepertiga ekonomi dunia diprediksi mengalami resesi, sepertiga ekonomi dunia diprediksi mengalami resesi. Bahkan, untuk negara yang tidak terkena resesi, ratusan juta penduduknya merasakan seperti sedang resesi.

“Hati-hati. Sepertiga itu artinya kurang lebih 70 negara, kurang lebih. Dan guncangan ekonomi karena pandemi, karena perang, ini sudah menyebabkan 47 negara masuk menjadi pasiennya IMF,” kata Presiden.

Presiden kemudian mengingatkan kejadian krisis ekonomi tahun ‘97-’98, Indonesia menjadi pasiennya IMF, ambruk ekonomi dan ambruk politiknya.

Menurutnya, 47 negara dan lainnya masih mengantre di depan pintunya IMF. Sehingga Indonesia memiliki frekuensi yang sama dalam menghadapi situasi global yang sangat tidak mudah.

“Dan, sekarang yang menjadi momok semua negara adalah yang namanya inflasi, ini momok semua negara. Dan, patut juga kita syukuri, inflasi kita terakhir di angka 5,5 persen. Ini patut kita syukuri, berkat kerja keras kita semuanya. Coba dilihat di negara-negara lain, bahkan sudah ada yang sampai ke 92 persen, di Uni Eropa berada di angka 9,2 persen. Ini sebuah angka yang tinggi sekali,” kata Presiden.

“Sehingga saya minta, seluruh gubernur, bupati, dan wali kota bersama-sama dengan Bank Indonesia terus memantau harga-harga barang dan jasa yang ada di lapangan, sehingga selalu terdeteksi sedini mungkin sebelum kejadian besarnya itu datang. Sehingga, bisa kita kejar dan kita antisipasi untuk kita selesaikan,” sambung Joko Widodo.

BACA JUGA  Era Jokowi dan Menuju Kemajuan Ekonomi dan Pariwisata Sulawesi Utara

Selanjutnya Presiden meminta untuk berhati hati kenaikan harga pangan.

“Hati-hati, dengan yang namanya kenaikan beras. Kita sekarang memang harus bekerjanya detail seperti itu, apa yang naik di lapangan. Beras. Saya sudah dua hari yang lalu memperingatkan Bulog untuk masalah ini, karena di lapangan 79 daerah, beras mengalami kenaikan yang tidak sedikit. Urusan telur, 89 daerah juga mengalami hal yang sama, naik. Urusan kecil-kecil, urusan tomat, 82 daerah mengalami kenaikan dan daging ayam ras, 75 daerah mengalami kenaikan.

Ini tolong bupati, wali kota, gubernur sering-sering masuk pasar. Cek betul di lapangan, apakah data yang diberikan itu sesuai dengan fakta-fakta di lapangan. Jangan sampai, sudah enggak musim lagi sekarang ini, yang namanya bawahan ABS [asal bapak senang], “Baik, Pak. Tidak ada yang naik, Pak. Harga stabil, Pak.” Saya cek langsung ke lapangan,” terang Presiden.

Soal data, Presiden pun tak lupa mengingatkan BPS untuk memberikan data apa adanya.

“Jadi, BPS di daerah informasikan angka-angka yang apa adanya kepada kepala daerah,”kata Presiden.

“Juga, hati-hati mengenai tarif-tarif yang diatur oleh pemerintah maupun pemda, hati-hati. Saya berikan contoh saja urusan tarif PDAM, hati-hati. Kalau urusan listrik itu urusan kita, urusan BBM urusan kita. Tapi yang daerah yang berkaitan dengan tarif angkutan misalnya, tarif PDAM, hati-hati menentukan itu bisa menjadikan inflasi naik. Jadi dihitung betul, kalau masih kuat ditahan, kalau enggak kuat, naik enggak apa-apa tapi sekecil mungkin. Jangan sampai ada PDAM menaikkan lebih dari 100 persen, karena data yang masuk ke saya ada,” sambung Presiden.

Menurut Presiden, yang kedua terkait inflasi diatas, dirinya sudah melihat saat ini baik dari Kemendagri, BI, dan semua yang terkait terus menyampaikan informasi ke daerah. Olehnya Presiden minta semua daerah memiliki data.

“Dan, apa yang harus dilakukan saya kira saya sudah tidak ingin mengulang lagi pada pagi hari ini, karena semuanya sudah tahu bagaimana menutup ongkos transportasi, meningkatkan produktivitas petani, misalnya tomat mahal, perintahkan tanam tomat. Cabe mahal, perintahkan tanam cabe. Saya enggak usah mengulang,” tegas Presiden. [ip]

Berikut link videonya:

https://youtube.com/watch?v=KBVqmmXMm3k&feature=shares

Comment