(Opini) Quo Vadis GPMB Kabupaten Berau?Tulisan Bertajuk ‘Matinya Gerakan Literasi’ Sebagai Penunjuk Arahnya

Opini250 Views

Oleh: M. Ichsan Rapi, ST., MT

Smartcitymakassar.comMakassar. GERAKAN Pemasyarakatan Minat Baca atau disingkat GPMB kabupaten Berau periode 2022 – 2024, baru saja terbentuk beberapa bulan lalu. Boleh dikata GPMB Berau masih seumur jagung. Meski demikian, geliatnya sudah terasa dengan gerakan awalnya “Gerobak Buku, Pengadaan Buku, dan Gelar MUO dengan BRIN.”

Lalu, quo vadis GPMB Berau? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebuah tulisan menarik yang saya baca di salah satu media ternama di negeri ini bertajuk “Matinya Gerakan Literasi” yang ditulis oleh salah seorang Analis Data Ilmiah BRIN, Suherman.

Suherman memaparkan secara gamblang ada tujuh hal substansial yang tidak dilakukan dalam gerakan literasi, sehingga gerakan yang mencerdaskan tersebut, layu sebelum berkembang. Tentu saja kami di GPMB Berau tidak ingin menjadi bagian dari layu sebelum berkembang itu.

Oleh karenanya, saya sebagai bagian dari GPMB Berau, perlu kembali menegaskan ke mana arah yang hendak dituju. Agar arahnya tidak salah jalan, beberapa poin yang dikemukakan oleh Suherman menjadi sebuah kompas atau penunjuk arah.

Dalam tulisan Suherman, ada tujuh poin sehingga gerakan literasi jalan di tempat, yaitu: Kemandulan konseptual, Kekurangan dialog ilmiah, Ideologisasi, Debirokratisasi, Tidak fokus, Jejaring, Pendekatan kurang sinergis. Karena masing-masing poin punya domain sendiri, maka tulisan saya ini  tidak membahas semuanya.

Menurut hemat saya, hanya ada lima poin yang menjadi ranah GPMB Berau sebagai pedoman merumuskan kembali langkah-langkah apa yang akan menjadi program nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Lima poin Suherman itu, antara lain: Ideologisasi, Debirokratisasi, Tidak Fokus, Jejaring, dan Pendekatan Kurang Sinergis.

Pertama, Ideologisasi. Ideologisasi adalah upaya mengubah cara pandang, paradigma, atau mind-set masyarakat, terutama para fasilitator dan aktivis, supaya membaca dijadikan sebuah keyakinan atau kepercayaan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Jadi, poinya adalah membaca sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Program GPMB Berau perlu fokus kepada kegiatan membaca. Bagaimana menyediakan perangkatnya dulu, agar masyarakat bisa gemar membaca. Salah satu contoh dengan program GPMB Berau yakni, Gerobak Baca, Pojok Baca, dan Kontainer Baca. Gerobak Baca dan Pojok Baca di tempatkan di sekolah-sekolah  ruang publik atau di cafe-cafe. Sementara Kontainer Baca berada di tempat tertentu dan strategis.

BACA JUGA  Gandeng Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), Fakultas Hukum Unhas Gelar Seminar Nasional dan Workshop

Kedua, Debirokratisasi. Gerakan literasi berjalan dengan lamban karena melalui jalur birokrasi yang panjang dan berbelit. Program GPMB Berau harus melibatkan banyak aktivis yang merdeka, bukan pejabat struktural yang punya segudang pekerjaan yang melekat pada jabatannya.

Ketiga, Tidak Fokus. Kalau dalam tulisan Suherman, ia memilih literasi sains. Tujuan utama literasi sains adalah untuk membangun sikap atau karakter ilmiah (Scientific Attitude). Dalam kontenks wilayah Kabupaten Berau, saya memilih fokus ke Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Jadi, program GPMB Berau lebih fokus ke Gerakan Literasi Sekolah. Misalnya program Gerobak Baca bisa diupayakan di sekolah-sekolah.

Poin keempat dan kelima ini berhubungan, antara Jejaring dan Pendekatan Kurang Sinergis. Menurut Suherman, jejaring seperti Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang strukturalnya di tingkat nasional, provinsi, dan daerah kabupaten/kota, keduanya berjalan sendiri-sendiri. Untuk itu, perlu disinergikan program bersama antara GPMB Berau dengan GPMB Provinsi dan juga melibatkan stakeholder lainnya, yakni pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Kelima poin yang dikemukakan Suherman dalam tulisannya, inilah yang saya jadikan sebagai dasar filosofis untuk GPMB Berau ke depannya. Semoga menjadi sebuah penunjuk arah dan mari bekerja bersama-sama. Pesan Pendiri Ford Motor Company, Henry Ford, “Jika setiap orang bergerak maju bersama, maka kesuksesan akan mengurus dirinya sendiri.”

Penulis adalah Ketua GPMB Kabupaten Berau, Ketua IKA UNHAS Kabupaten Berau, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Berau Fraksi Gerindra**

Comment