Mark Zuckerberg Suka Beli Cakar di Pasar Terong dan Pasar Kalimbu

Smart Tawwa148 Views

Smartcitymakassar.com – Makassar. ANDA kenal dengan pemilik nama Mark Zuckerberg? Pastilah. Oh iya, pemilik FB ini teman saya lho. Dulunya sering ketemuan beli cakar di Pasar Terong dan Pasar Kalimbu, kota Makassar.

Saking seringnya ketemu, akhirnya kenalan. Eh, pas saya ke Parepare beli cakar, ketemu meka sede’ di sana. Tapi, Daeng Mark ndak beli cakar, ia pamit sama saya, mau pulang ke Amrik lewat pelabuhan Nusantara, Parepare.

Sempat ji tawwa dia ajak saya ke Amrik, namun saya menolak. Padahal, sudah lama meka juga mau ke sana bertandang ke rumahnya Tetta Joe Biden. By the way anG bus ketek, kenapa saya menolak ke sana? Karena di Amrik tidak ada bale rakko, bale bolong, sibawa ronto’.

Lalu, beberapa bulan kemudian. Datanglah surat si Mark dari Amrik (ceritanya masih jadul, belum pi ada hp) Dalam surat itu, ia mau berbisnis pakaian cakar. Ia yang kumpul pakaiannya, lalu dikirim ke Makassar, kemudian sayalah yang menjualnya. Perencanaan bisnis sudah disusun secara rapi. Analisis SWOT dilakukan. Termasuk juga mengukur segala kemungkinan positif dan negatif dengan perinciaan yang ketat.

Namun, sebaik-baik manusia berencana, Tuhanlah Sang Pemilik terbaik dari segala apa yang direncanakan. Apa boleh buat, kenyataan berkata lain. Pengiriman pertama pakaian cakar, di Teluk Guinea perairan Afrika Barat, kapalnya dibajak oleh perompak dari Somalia. Apes sudah, rugi bandar kamase!

Setelah kejadian di Teluk Guinea itu, jalinan pertemanan dengan Daeng Mark putus. Saya kehilangan kontak dengannya. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, saya baca di koran kalau Daeng Mark pada tahun 2004 meluncurkan Facebook dan 4 tahun kemudian pada 2008, Facebook sudah masuk dan berkembang pesat di Indonesia.

Padahal, Daeng Mark ini adalah mahasiswa jurusan Psikologi Harvard lho. Kok bisa ya, mahasiswa Psikologi sukses di bidang pengembangan teknologi internet yang memudahkan dalam sharing informasi antar individu tanpa harus terikat oleh jarak dan sekat-sekat geografis?

Awalnya, Daeng Mark mengutak-atik dan menciptakan program komputer hanyalah kegiatan untuk bersenang-senang saja. Mungkin latar belakang keilmuan Psikologi itulah ia tertarik untuk membuat situs-situs sosial. Sebelum menciptakan Facebook, ia telah merilis Coursematch yang memudahkan para mahasiswa melihat mata kuliah yang diambil, Facemash yang memungkinkan para pengguna mengukur daya tarik orang lain.

Setelah sukses sebagai founder sekaligus COE Facebook dan menjadi salah satu orang terkaya di dunia, ia tak lupa diri. Tetap hidup sederhana, jauh dari kehidupan glamor dan mewah. Coba meki lihat baju yang dipakainya, boleh dikata, sanging itu-itu ji na pake. Belum lagi waktu menikah, hanya mengundang 100 orang saja.

Mau tahu berapa harga mobilnya? Tak lebih dari 300 juta bermerek Honda Jazz. Ruang kerjanya jadi satu dengan karyawan (padahal big boss itu kaue). Saat pergi ke kantor, ia sendiri yang mengendarai mobil alias tidak pakai sopir. Begitu juga saat istrinya pergi belanja, ia sendiri yang menemani. Belum lagi kegemarannya dengan beramal dan terlibat kegiatan sosial. Pokoknya tidak lupa diri tawwa, salut deh!

Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah Daeng Mark Zuckerberg ini masih mengenali saya, temannya dulu yang suka beli cakar di Pasar Terong dan Pasar Kalimbu?

Alhasil, pertanyaan itu terjawab saat jam weker batariak bikin saya terbangka-bangka!

Comment