Coretan Redaksi: Sambo

Ferdi Sambo dalam persidangan

Smartcitymakassar.com – BAGAIMANA kita berbicara tentang sebuah kebenaran? Apa landasan pijak yang kita pakai dalam memutuskan suatu peristiwa, atau ide, atau pengetahuan atau apa pun itu sedang berada dalam aras kebenaran?

Di abad pertengahan, kebenaran adalah sesuatu yang diucapkan raja. Kebenaran juga ada di tangan para pemegang kendali fatwa Gereja bagi umat Nasrani atau Ulama Islam yang dekat dengan kekuasaan. Dengan demikian, ada benarnya ketika pemikir mutakhir Prancis Michael Foucault mengindentifikasi bahwa kebenaran senantiasa melekat pada kekuasaan. “Kebenaran adalah kekuasaan”.

Namun, sejak abad pencerahan, dominasi itu runtuh. Tembok yang tebal dalam lapis-lapis dalih mengatasnamakan Tuhan digugat habis-habisan. Humanisme merangsek dengan paradigma baru bahwa kebenaran adalah empirik dan positivistik: fakta adalah tuhan baru.

Fakta. Tapi apakah itu fakta? Bisakah kita memisahkan antara obyektifitas dengan subyektifitas yang saling berkelindan dalam sebuah peristiwa? Karena bagaimana pun, setiap ide, peristiwa, pengetahuan selalu dalam ranah interpretasi manusia. Dan manusia –mengutip sebuah kata bijak adalah ladang kesalahan.

Di sinilah barangkali kita memang harus berendah hati untuk semua itu. Bahwa sebuah kebenaran adalah sebuah upaya. Sebentuk niat untuk memberi interpretasi yang setidak nya mendekati apa yang “Ada”. Hanyalah sebuah upaya yang mungkin disertai keyakinan tapi juga membawa potensi ada kekeliruan di sana.

Dalam konteks ini, kasus Ferdi Sambo menjadi bagian dari upaya mencari kebenaran sebuah peristiwa yang terjadi tersebut. Hukum memang senantiasa mengandaikan sebuah fakta untuk berangkat dalam menilai. Dan di sanalah Hakim –sebagai wakil Tuhan di bumi– mempertaruhkan keyakinannya berdasar interpretasi “fakta-fakta” yang mengemuka di persidangan.

Kasus Sambo memang demikian meledak. Mulai dari bisik-bisik di ruang kantor Kementerian hingga berdebatan sengit di Warung Kopi.

Sambo adalah sebuah persilangan paling rumit dari sebuah fenomena simbolik, fakta hukum, strata sosial-ekonomi, kriminalitas dari sebuah negeri yang kadang ‘gagap’ dalam bersikap adil.

Tapi apakah adil itu? Bagaimana sesuatu dikatakan telah memenuhi rasa keadilan? Apakah adil itu identik dengan “pembalasan”?Mari kita ikuti persidangan Ferdi Sambo dengan segala ‘drama’ yang tersuguhkan di sana. [Redaksi]

Comment