Coretan Redaksi: Mundur

Ilustrasi mengundurkan diri

Smartcitymakassar.com – LIZ TRUSS berjalan perlahan menuju podium. Tak ada yang bisa menebak secara pasti apa yang ada dibenak perempuan berambut pirang pengganti Boris Johnson itu. Namun semua sudah tahu bahwa dia akan mengumumkan secara resmi mengunduran dirinya dari tampuk jabatan sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris.

Dia baru menjabat PM Inggris selama enam pekan. Dan kemudian menyatakan mundur. Kemelut perekonomian yang semakin dalam di negara Monarki Konstitusional itu tak mampu dia atasi. Serangan dahsyat justru berasal dari tubuh partainya. Partai Konservatif. Dan dia mundur.

Sebuah jabatan memang adalah sebentuk amanah. Karenanya dia fana. Dan penuh risiko. Tapi Liz Truss tahu diri. Dan dia berjalan tegak untuk menyatakan mundur.

Tapi peristiwa ini terjadi di belahan benua Eropa. Bukan di negeri kita. Bukan di Indonesia. Sebuah negeri –yang entah dimulai sejak kapan– menempatkan “mundur” sama sebangun dengan “lari dari tanggung jawab. Walau kita tahu itu hanyalah sebentuk dalih.

Namun yang pasti, “mundur” dari jabatan publik karena sesuatu ketidakbecusan dalam mengembang amanah adalah sebuah hal yang “tabu” di negeri ini. Bahkan lebih “tabu” dari perbuatan korupsi atau telah lalai sehingga menyebabkan ratusan nyawa melayang.

Peristiwa tragedi stadion Kanjuruhan yang menyebabkan ratusan jiwa melayang misalnya. Hasil rekomendasi tim gabungan independen pencari fakta telah mengeluarkan rekomendasi: jelas tegas, PSSI harus bertanggung jawab. Tapi…

Lalu bagaimana dengan rentetan wabah penyakit yang terus meneror masyarakat dan harus dibayar mahal dengan berjatuhannya korban meninggal? Bahkah untuk kasus gagal ginjal akut, Ombudsman menilai pemerintah gagal melindungi masyarakat dalam kasus ini. Siapa yang harus bertanggung jawab? Entahlah.

Memang, dan itu sangat terasa, di negeri ini, ada yang telah raib dari sebuah jabatan: etika dan moralitas dan rasa malu. Karenanya, seorang pejabat akan melakukan apa saja untuk tetap bercokol di “kursi empuk”-nya.

Lalu, sejak kapan kepemimpinan model begini bertumbuh di Indonesia? Entalah. Yang pasti model ini bukan sebuah warisan sejarah budaya Indonesia: Hatta adalah contoh paling cemerlang, bagaimana kepemimpinan senantiasa diapit oleh moral, integritas dan prinsip.

Ketika perbedaan paham dengan Presiden Soekarno semakin menajam dan tak bisa dikompromikan lagi, Hatta yang menjabat Wakil Presiden itu menyatakan mundur. Dan kita hingga saat ini masih terkagum-kagum dengan sikapnya. Dengan pendirian dan prinsip kepemimpinannya. Tapi saat ini? Entalah! [Redaksi]

Comment