Coretan Redaksi: Prof. Azyumardi, Sang Begawan dan Pilar Pemersatu Bangsa Itu Telah Pergi

Prof. Azyumardi Azra (foto: NU Online)

Smartcitymakassar.com – BAGI Indonesia dengan kehilangan sosok seperti Prof. Azyumardi Azra bagai runtuhnya lagi satu pilar yang menjadi penopang tegaknya keberagaman, toleransi dan pluralisme di negeri ini.

Barangkali kami tak hendak ikut menggarami laut dengan ‘sok tahu‘ bertutur tentang kiprah sosok Guru Bangsa seperti Prof. Azyumardi Azra. Para ahli, pakar, cendekiawan telah demikian banyak mengulas tentang Sang Begawan Bangsa yang hingga akhir hayat-nya ini tetap memberi inspirasi serta membawa kita dalam kesejukan namun juga sikap kritis yang menjulang.

Dalam kadar seujung kuku pengetahuan dan pemahaman yang kami miliki, Prof. Azrumardi di mata kita adalah sosok yang telah melampau segala remeh-temeh ego dan ambisi duniawi. Meminjam kata pemikir Edward W. Said, Prof. Azyumardi adalah contoh seorang cendekiawan besar par exellence.

Bagi Redaksi, ada lima tokoh dan guru bangsa yang dalam kancah pergulatan pemikiran kebangsaan dan keberagaman sangat memegang teguh prinsip-prinsip toleransi yang menyejukkan dan kini telah meninggalkan kita

Pertama adalah Prof. Nurcholish Madjid, kedua Romo Manguwijaya, ketiga Abdurrahman Wahid (Gus Dur), keempat Prof. Syafii Maarif dan kelima Prof. Azyumardi Arza.

Kelima tokoh bangsa ini dalam konteks perjuangan sebenarnya berada dalam zona dan ranah yang sama. Namun yang membedakan mereka adalah gaya (style) serta corak karakter dalam mengurai setiap persoalan kebangsaan dan keberagaman dalam toleransi.

Prof. Azyumardi sangat dikenal dengan karakter dan integritasnya yang sangat “lurus dan mencorong”. Sikap kritisnya pada kekuasaan tak pernah surut namun senantiasa dipaparkan dalam narasi yang menyejukkan.

Prof. Azymardi adalah penyambung paling paripurna dalam menyuarakan hati nurani rakyat. Beliau juga dikenal dengan kesederhanaan hidup yang sudah berada pada level kezuhudan.

Sikap kritis yang sangat ‘keras’ dari Prof. Azyumardi merupakan trade mark-nya. Dalam mengkritisi persoalan beliau cukup keras. Namun semuanya dituturkan dalam bahasa yang santun tapi menohok ke jantung persoalan.

Dan yang paling mengagumkan dari sosok Prof. Azyumardi adalah beliau tidak pernah menunjuk hidung seseorang. Beliau senantiasa berbicara dalam aras moralitas perbuatan, bukan masuk ke dalam polemik mendiskreditkan orang lain.

Itulah sebabnya Sang Begawan ini tak memiliki musuh. Sosok yang tak pernah sekali pun diterpa isu miring. Semua orang dan kelompok menghormatinya sebagai sosok Guru Bangsa yang membawa suara moralitas dan hati nurani kemanusiaan. Sang pengawal keberagaman dan toleransi.

Kepergian Prof. Azyumardi bukan saja menjadikan kita kehilangan sosok panutan. namun juga kehilangan sang pembawa inspirasi hidup dan pilar pemersatu bangsa dalam ancaman sikap intoleransi yang senantiasa menghantui bangsa kita. Selamat jalan Prof Azra, Damailah di Surga. [Redaksi]

Comment