News InDepth: Warna Cerdas Kota Makassar

Budaya, Makassar167 Views
Anjungan Pantai Losari (int)

Sejarah Kota Makassar adalah sejarah tentang  warisan (heritage) dari kekayaan kultural dan religiusitas lewat sebuah proses akulturasi yang  panjang dan membentang jauh. Ragam suku-etnis, tradisi,  kepercayaan dan kuliner menjadi warna-warni  yang demikian menarik di sana. Kota yang toleran dan terbuka memang menjadi ciri khas Makassar sejak dahulu.

Smartcitymakassar.com – Makassar – Sejak dicanangkannya program Smart City dan Sombere’ sebagai program unggulan pemerintahan kota (pemkot) Makassar, Walikota Moh. Ramdhan Pomanto terus berupaya melakukan berbagai terobosan inovatif. Dengan meramu konsep Smart City dengan keberagaman nilai kearifan dari tradisi lokal kota Makassar menjadikan program ini memiliki daya gugah tersendiri. Kota Makassar memang memiliki sejarah panjang serta demikian banyak mewarisi khazanah tradisi dan nilai-nilai kultural yang sangat menopang terwujudnya kota masa depan yang cerdas.

Dalam catatan sejarahnya, kota Makassar telah meletakkan sendi-sendi pokok dalam tahapan kota cerdas tersebut, yakni adanya watak kota yang terbuka dan toleran. Pada awalnya, Makassar merupakan salah satu bagian dari wilayah kerajaan Gowa. Pada abad ke 14 Masehi, nama Makassar mulai dikenal ketika tercantum dalam kitab Negarakretagama (Dasawarnana ) Pupuh XIV dari Mpu Prapanca. Disebutkan dalam kitab ini bahwa Makassar merupakan sebuah wilayah yang saat itu merupakan daerah taklukan kerajaan Majapahit.

Walaupun demikian, nama Makassar baru benar-benar mencorong ketika berada di bawah pemerintahan Raja Gowa ke IX, Karaeng Tumaparisi Kallonna (1510-1546). Melalui gagasan besar serta visi yang jauh dari Karaeng Tumaparisi Kallonna inilah, Makassar berada dalam masa-masa emas kejayaan.  

Terobosan awal yang dilakukannya adalah memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke pesisir pantai. Kemudian dia mendirikan benteng di muara Sungai Je’neberang dan mempekerjakan seorang Syahbandar yang bertanggungjawab terhadap lalu-lintas perdagangan.

Dengan gebrakan besar ini, maka pada abad ke 16 , Makassar menjelma menjadi pusat perdagangan yang dominan di kawasan timur yang dahulu dikenal dengan nama Nusantara. Bahkan lebih dari itu, kota ini menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara.

Dalam catatan perjalanan Tome Pires, Suma Oriental of Tome Pires di tahun 1535, menjelaskan bahwa saat itu para pedagang Makassar telah melakukan perniagaan dengan Malaka, Jawa, Borneo (Kalimantan), Siam serta semua tempat antara Pahang dan Siam. Memang konsep kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh kerajaan pada era tersebut adalah memberi ruang seluas-luasnya kepada pengunjung untuk melakukan aktifitas perniagaan.

Maskapai Dagang Belanda (VOC) kemudian datang dan ingin memonopoli hak perdagangan. Monopoli perdagangan “haram” dalam kebijakan VOC inilah yang menjadikan pihak kerajaan di Makassar selalu berbenturan dengan upaya Maskapai Dagang Belanda (VOC).

Namun yang sangat menarik di sekitar awal mula pertumbuhan kota Makassar ini adalah gambaran tentang sebuah kota yang demikian terbuka dan toleran. Sifat inklusif kota inilah yang menandai ciri dari sebuah kota yang bergeliat dalam perkembangannya. Dengan modal interaksi yang terbuka tanpa adanya sekat pembatas perbedaan perlakuan,  baik itu suku, bangsa dan agama, menjadikan Makassar di abad ke 16 M menjadi demikian ramai dan semarak.

Kota Makassar menjadi pusat yang sangat penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di kepulauan Maluku dan juga menjadi ‘markas’ yang penting pedagang-pedangang dari Eropa dan Arab. Sikap terbuka dan toleran itu memang tidak terlepas dari kebijakan raja Gowa-Tallo saat itu yakni Sultan Alauddin (raja Gowa) dan Sultan Awalul Islam (raja Tallo).

Keterbukaan dan sikap toleransi memang menjadi sejarah awal dari lahirnya kota Makassar. Inilah modal sosial (social capital) yang jejaknya jauh menjangkau hingga kini. Dalam proses interaksi publik kota di masa abad ke 16 Masehi itu bisa mencerminkan keberagaman yang menjadi warna-warni kultural yang sangat menarik.

Proses akulturasi serta dialektika budaya kemudian sangat mewarnai dinamika perkembangan kota berjuluk kota Daeng atau kota Anging Mammiri ini. Watak sebagai kota yang terbuka dan menerima keberagaman itulah yang menjadi ‘wajah’ kota Makassar hingga kini. Sebuah kota yang memiliki elan vital untuk terus bertumbuh dan menjadi kota masa depan.

Dengan demikian, kota dengan sejarah panjang adat tradisi, keberagaman suku serta  agama kepercayaan ini, menyimpan demikian banyak heritage (warisan) yang mampu menjadi sumber kekuatan kota masa depan dengan modal sosial yang demikian kuat. Warisan kultural itulah yang mejadi pesona khas kota Makassar hingga saat ini.

Keberagaman suku dan etnis dengan watak toleransinya yang kuat, ‘tumpah ruahnya’ berbagai kuliner khas Makassar serta berbagai khazanah warisan budaya lain menjadikan Makassar penuh warna-warni. Inilah ciri spesifik dari sebuah kota yang senantiasa mampu melakukan transformasi dengan nilai-nilai kecerdasan warganya.

Dalam Semarak Keberagaman

Kota Makassar atau lebih karib disapa kota Angin Mamiri memang menyimpan segudang warna-warni. Sebagai kota yang terletak di pesisir pantai, watak khas yang demikian menonjol adalah keterbukaan dan sikap toleransi. Inilah yang menjadikan kota Makassar menjadi magnet kuat bagi berbagai suku-etnis, budaya serta kepercayaan agama untuk datang dan bermukim di kota ini.

Sejarah berdirinya kota Makassar memang tidak terlepas dari nilai-nilai keterbukaan dan tolerasi tersebut. Dalam catatan sejarah , kota ini memang dirancang dan dibangun sebagai kota ‘masa depan’ oleh karaeng Tumaparisi Kallonna, Raja Gowa ke IX pada abad ke 14 M. Dengan membuka seluas-luasnya arus lalu-lintas perniagaan, peletak “batu pertama” kota Makassar ini memulai visi dan agenda pembangunan besarnya tentang sebuah kota.

Saat ini kota Makassar merupakan kota terbesar ke empat di Indonesia dan terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Dengan cakupan luas wilayah yang meliputi areal kurang lebih 175,79 km2 dan jumlah penduduk kurang lebih 2 juta orang, kota Makassar tumbuh dalam geliat semarak kota metropolitan. Sebagai pusat pelayanan di Kawasan Timur Indonesia (KTI), kota Anging Mammiri ini tampil berperan penting sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri,  pusat kegiatan pemerintahan, menjadi simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut dan udara serta pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan. Semua kegiatan ini bergerak dalam ruang aktifitas kota dengan interaksi beragam budaya, suku dan agama.

Secara garis besar, masyarakat kota Makassar merupakan masyarakat yang sangat pluralis. Terdiri dari beberapa etnis yang dan memiliki riwayat panjang dalam membangun kehidupan yang toleran serta berdampingan dengan damai. Di kota ini bermukim beberapa etnis seperti etnis Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, Melayu, Jawa, Arab, Tionghoa dan lain-lain. Keberagaman ini mencerminkan bagimana sendi-sendi kota yang terbuka dan toleran sangat mewarnai suasana kota Makassar. Proses interaksi warga kota demikian cair menyebabkan terjadinya dinamika yang mewujud dalam berbagai ekspresi kebudayaan. Proses akulturasi yang semakin menjadikan kota Makassar semarak dalam adat istiadat serta menciptakan berbagai pesona warisan budaya lebih beragam.

BACA JUGA  Danny Sabet Kepala Daerah Inovatif 2022 Bidang Pelayanan Publik

Salah satu etnis yang cukup menarik untuk diceritakan tentang bagaimana kota Makassar dimulai dengan watak yang demikian terbuka dan toleran adalah proses akulturasi yang terjadi dengan etnis Tionghoa di Kota Makassar.

Dalam catatan sejarah, orang-orang Tionghoa mulai datang dan bermukin di Makassar dan sekitanya pada masa Dinasti Tang di Abad ke 15 Masehi. Pada mulanya etnis Tionghoa ini datang untuk berdagang, namun seiring waktu menjadikan kota Makassar sebagai tempat bermukim, terutama di sekitar pesisir pantai pada masa pemerintahan kerajaan Gowa.

Pada umumnya, orang Tionghoa di Makassar berasal dari Propinsi Fulien dan Quan dong. Kedua propinsi ini mempunya kekhasan wilayah yang besar dan beda dengan propinsi-propinsi lain di negeri Tiongkok. Yang membedakan budaya dari sub etnis ini adalah ciri bahasanya. Ada empat rumpun bangsa Tionghoa  terbesar yang ada di Makassar yakni Hokkian,  Hakka, Kanton dan Hainan yang memiliki bahasa yang berbeda. Di kota Makassar, proses interaksi kebudayan etnis Tionghoa berlangsung secara harmoni dan melalui berbagai sinkretisitas (pembauran) yang cukup panjang. Semua itu bisa terlihat dalam berbagai khazanah seperti arsitektur dan kekayaan kulinernya.

Saat ini, salah satu kuliner khas Makassar yang cukup terkenal adalah mie kering. Sajian mie halus yang digoreng kering dan disajikan dengan kuah kental berisi daging ayam, sayuran dan kadang sea food. Makanan ini sangat populer di Makassar bahkan di beberapa daerah lain. Menjadi kekayaan kuliner yang dicari oleh para pendatang ketika berkunjung ke Makassar. Dalam khazanah dunia kesusastraan dan musik, warisan etnis Tionghoa juga terjejak di sana. Salah satunya adalah lagu daerah berbahasa Makassar Ati Raja.

Pesona Simbol ‘Tari Empat Etnis’

Tidak banyak yang mengetahui secara pasti bagaimana asal-usul Tari Empat Etnis Sulawesi Selatan ini muncul dalam khazanah seni budaya di Kota Makassar. Namun tarian ini demikian  mempesona banyak kalangan. Pada acara-acara penting, tarian ini menjadi magnet tersendiri.  Ditampilkan dalam berbagai event, baik itu yang bernuansa pagelaran budaya maupun sebagai acara lain semisal penyambutan tamu penting, pada launching sebuah produk atau sekadar acara selamatan biasa.

Satu hal yang menarik dari tarian Empat Etnis ini adalah paduan yang demikian harmoni namun sekaligus aktraktif dari para penarinya. Dengan menampilkan penari dalam busana tradisional dari empat etnis di Sulawesi Selatan yakni, Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, tarian yang berdurasi kurang lebih 15 menit ini benar-benar menggambarkan paduan yang menakjubkan tentang pluralitas dan dinamika keberagaman kultural masyarakat yang mendiami kota Makassar.

Tarian Empat Etnis merupakan ekspresi yang mencerminkan tentang bagaimana racikan harmoni dari tradisi dan kebudayaan mampu melahirkan sinergi yang kuat. Dalam tampilannya, setiap pergantian tarian, lagu daerah pun menyesuaikan irama yang menjadi latar tariannya. Semuanya terlihat menarik dan mengalir serta saling menguatkan.

Sebuah perpaduan antara perbedaan yang dapat menciptakan keindahan dalam seluruh gerak, irama serta semangat. Tarian Empat Etnis ini memang memadukan  dan merupakan kolaborasi dari beberapa tarian tradisional seperti tari Pakkarena dari etnis Makassar, tari Pajoge’ dari etnis Bugis, Tari Pa’gellu dari  etnis Toraja dan tari Pa’tuddu dari etnis Mandar.

Gelaran tarian ini dibuka dengan irama musik tradisional Pa’kanjara. Hentakan bertalu-talu dari bunyi gendang khas Makassar yang selanjutnya menampilkan penari dengan gerak khas tarian masing-masing dari empat etnis ini. Semua gerakan memiliki watak tersendiri sekaligus menyimpan makna dan simbol yang besar. Salah satu contohnya adalah gerakan memutar searah jarum jam dari tari Pakkarena yang melambangkan gerak siklus kehidupan manusia. Semua unsur ini diramu dalam dalam gerak terukur, konstruktif serta memiliki daya gugah yang kuat dalam keselarasan dan nilai-nilai simbolik tentang harmoni hidup.

Salah satu hal yang juga menarik dalam tari Empat Etnis ini adalah munculnya tampilan yang dilengkapi dengan tradisi Angngaru’ atau Aru. Angngaru’ merupakan sebuah tradisi sakral dari budaya tutur Sulawesi Selatan yang menyampaikan paseng atau pappasang (pesan bijak) berupa perikatan janji dan sumpah setia kepada pemimpin dengan gaya yang demikian memukau.

Dalam Angngaru’ ini, sang ‘punggawa’ (pengawal)  menyatakan kebulatan hati dan sumpah kesetiaan dengan tutur bahasa yang mampu ‘menyihir’ diserta dengan gerak tubuh yang demikian aktraktif. Panggaru’ atau orang yang sedang Angngaru’ ini menusukkan ‘badik’ (senjata tajam khas Sulawesi Selatan) kebagian tubuh mereka sendiri sebagai bentuk dan simbol kesungguhan dari sumpah kesetiaan mereka.

Batik Lontara as Indonesian Heritage

Salah satu indikasi sebuah kota mampu bergerak cerdas adalah kota di mana seluruh lini sumber daya yang ada memunculkan ‘energi’ potensialnya secara optimal dan sinergis. Bagaimanapun, kota adalah kancah kreatifitas yang terjalin secara simultan. Inilah yang menjadi gerak khas kota Makassar saat ini. Di bawah kepemimpinan Walikota Moh. Ramdhan Pomanto, berbagai terobosan dalam mewujudkan kota yang cerdas dan memiliki ciri khas telah banyak bergulir.

Dengan mengusung konsep Kota Sombere dan SmartCity, Danny Pomanto memang kerap menelurkan gagasan yang mengejutkan. Memadukan aplikasi teknologi dan nilai-nilai budaya memang menjadi ciri khas terobosan yang diperkenalkan walikota yang berlatar belakang pendidikan arsitektur ini. Salah satu yang menjadi gagasan cemerlangnya adalah memperkenalkan dan mengangkat Batik Lontara menjadi heritage Indonesia. Ke depan, Batik Lontara akan dijadikan sebagai komoditi andalan sekaligus sebagai ajang promosi wisata.

Di bawah Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif  Kota Makassar,  gagasan ini mulai diimplementasikan dengan menggelar workshop  pembuatan Batik Lontara beberapa waktu lalu.  Dalam kegiatan tersebut, Akbar Jura, pemilik butik “House of Lontara” akan turun mengajarkan langsung bagaimana metode dan pembuatan batik berciri khas Makassar ini. Tidak berhenti di situ, dalam proses tersebut, peserta worksop yang terdiri dari berbagai stakeholder di bidang Usaha Kecil Menengah (UKM) dan pengusaha juga akan diperkenalkan pada unsur wisata dari pembuatan batik Lontara yang dapat dipromosikan  sebagai salah satu warisan seni Indonesia.

Dan lebih menarik lagi, Danny Pomanto menjadikan Batik Lontara ini sebagai salah satu komoditi dari produk Industri Lorong yang juga menjadi gagasan cemerlangnya. Indutri Lorong adalah gagasan bagaimana menjadikan lorong di kota Makassar sebagai pusat-pusat home industry yang mandiri serta memberdayakan masyarakat penghuni lorong sebagai pelaku ekonomi kreatif dan produktik. Gerak sinergi dari berbagai lini serta ramuan apik berbagai unsur sumber daya  kota inilah yang menjadi bagian yang menjadikan Makassar penuh warna-warni yang mempesona. [yus]

 

 

 

Comment