Coretan Redaksi: Event Makassar F8 dan Efek Bilbao

Pembukaan event Makassar F8 (ist)

Smartcitymakassar.com – EVENT Makassar International Eight Festival and Forum atau Makassar F8 saat ini sedang berlangsung. Dibuka dengan aktraksi memukau pesawat tempur Sukhoi di langit Losari dan pagelaran tari kolosal ‘Kalompoanna Parasanganta’ dengan 500 penari dari siswi-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP), event yang sudah masuk kalender nasional Kementerian Parawisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ini kembali membuat kota Makassar, Sulsel berwarna-warni.

Bisa dikatakan, event tahunan ini telah menjadi salah satu gagasan kreatif dan bernas dari Wali Kota Makassar Danny Pomanto yang bisa mengundang decak kagum hingga ke dunia internasional.

Event Makassar F8 dalam takaran tertentu memang adalah sebuah upaya terobosan baru dalam memperlakukan paradigma baru penciptaan ekosistem wisata yang terintegrasi.

Melalui simpul yang diikat dalam Makassar F8, pembentukan episentrum ekonomi kreatif, budaya, usaha UMKM mampu menggelembungkan semua potensi masyarakat dalam satu tarikan perhelatan.

Gagasan ini mengingatkan kita pada sebuah torehan prestasi cemerlang yang pernah dilakukan nun jauh di belahan Eropa, tepatnya kota Bilbao Spanyol.

Kota itu bernama Bilbao, sebuah kota yang terletak di negara Spanyol. Di sana museum justru menjadi ‘pelatuk’ ledakan pariwisata yang menjadi tonggak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga di kota ini. Padahal museum saat itu hanya dianggap sebagai sekedar tempat penyimpanan benda masa lalu dan menjadi ‘beban’ sebuah kota untuk terus ‘membuang’ dana guna merawatnya.

Cerita tentang efek museum di Bilbao, Spanyol ini memang demikian spektakuler. Setelah kejadian teror besar yang meluluh-lantakkan gedung pencakar langit Wall Street di Amerika Serikat, kelesuan perekonomian kemudian menyebar ke penjuru dunia dan sampai juga ke kota Bilbao, Spanyol.

Saat itu kota Bilbao yang mengandalkan sumber pendapatan kotanya lewat perdagangan dan jasa ini benar-benar terkena imbas kelesuhan perekonomian. Kota yang dikenal sebagai kota pelabuhan ini mengalami masa-masa krisis yang cukup mengkhawatirkan.

Di saat-saat seperti itulah, Wali Kota Bilbao mengambil terobosan kebijakan yang sangat bernas dan bercorak transformatif. Sang Mayorini melakukan lompatan paradigma kebijakan dengan mengambil basis keunggulan khas kota yang mereka miliki sebagai ‘pemantik’ gerak pertumbuhan ekonomi kotanya. Maka dipilihlah museum sebagai alat pemicunya.

Museum Guggenheim yang berada di kota itu kemudian direnovasi secara besar-besaran. Sinergisitas antara seluruh stakeholder menjadi berdenyut kencang di sana. Museum kemudian menjadi semacam episentrum di mana orbit perputaran ekonomi kota ini bergerak kembali.

Kunjungan wisatawan adalah hal yang pertama dibidik oleh efek museum Guggenheim, Bilbao. Namun sebenarnya yang menjadi fenomenal dari kebijakan ini adalah munculnya dampak ikutan yang bersifat multiplier effect.

Museum di Bilbao kemudian menjadi ‘pusat orbit’ pertumbuhan ekonomi, di mana kunjungan wisatawan mampu menggerakkan berbagai sektor usaha lain yang menjadi penunjang, seperti perhotelan, transportasi, industri kerajinan serta jasa layanan lainnya. Dengan kata lain, efek museum Bilbao meletakkan sendi-sendi sebuah kota cerdas yang tumbuh bersama dinamika kreatifitas warganya.

Nampaknya kebehasilan yang dicapai oleh kota Bilbao kemudian memacu efek besar sampai ke luar negara Spanyol. Berbagai kota di Eropa kemudian menjadikan Bilbao sebagai rujukan sebuah kota yang sangat berhasil menemukan kekuatan lokalitasnya untuk pertumbuhan kesejahteraan warganya.

Kota seperti Amsterdaam di negeri Belanda kemudian meniru transformasi kota seperti yang dilakukan kota Bilbao. Menjadikan museum sebagai pusat yang menggerakkan energi kreatifitas warga kota untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inovatif. Efeknya memang luar biasa.

Kita tak tahu, apakah Wali Kota Danny mengetahui peristiwa ini. Namun dalam event Makassar F8 bisa dikatakan merupakan metamorfosa baru dalam efek Bilbao. Dengan varian serta dinamikanya yang berbeda. [Redaksi]

Comment