Setelah Mangkrak di 2015, Akhirnya RSP UIN Alauddin Makassar Rampung dan Siap Digunakan

Rumah Sakit Pendidikan (RSP) UIN Alauddin Makassar

Smartcitymakassar.com – Makassar – Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) UIN Alauddin Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel) telah rampung dan siap digunakan.

Hal ini dilansir dari unggahan akun Instagram resmi Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR pada Kamis (18/08/2022)

Bahkan pada 26 Juli 2022 lalu, BPPW Sulsel telah melakukan serah terima pemanfaatan dan pengelolaan gedung RSP UIN Alauddin Makassar kepada Rektor UIN Alauddin Makassar.

Gedung RSP UIN Alauddin Makassar merupakan salah satu bangunan gedung yang ditangani Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR melalui BPPW Sulawesi Selatan.

Pembangunannya meliputi gedung 9 lantai dan 1 lantai basement dengan luas lahan 7.462 meter persegi serta total luas bangunan 23.877 meter persegi.

Terdiri atas ruang UGD, poliklinik dan laboratorium, ruang poli, endoscopy dan hemodialisis 4 ruang operasi, perawatan intensif dan kebidanan, ruang pendidikan atau kelas, ruang perawatan, dan ruang managemen.

Melalui pembangunan RSP UIN Alauddin Makassar, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan rumah sakit yang mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan, penelitian, serta pelayanan kesehatan secara terpadu di kota Makassar.

Sebagai informasi, RSP UIN Alauddin Makassar sebetulnya telah dibangun pada tahun 2011-2012 oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk pada tahap pertama dan kedua.

BACA JUGA  Tingkatkan Kepatuhan Berlalu Lintas Masyarakat Moncongloe Maros, Tim LP2M Unhas Gelar Penyuluhan Hukum

Kemudian, proyek Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri Islam Negeri (PTKIN) Sulawesi Selatan ini kembali dilanjutkan oleh PT Jasa Bakti Nusantara tahun 2015 dan akhirnya berhenti pada tahun yang sama.

Hingga akhirnya, Kementerian PUPR kembali melanjutkan proyek yang mangkrak atas penugasan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ditargetkan selesai April 2022.

Pembangunannya dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk yaitu PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk dengan nilai kontrak Rp 133,9 miliar.

Sementara konsultan manajemen konstruksi dilakukan oleh PT Genta Prima Pertiwi dengan nilai Rp 1,55 miliar, serta konsultan pengawasan berkala dilaksanakan oleh PT Dana Consultant dengan nilai Rp 480 juta.

Lingkup kegiatan proyek ini adalah pekerjaan persiapan, struktur, arsitektur, mekanikal dan elektrikal, serta site development. [tbr]

Comment