Coretan Redaksi: Kemerdekaan Itu Milik Siapa?

Ilustrasi pemulung (int)

Smartcitymakassar.com – HARI INI, 17 Agustus 2022, Indonesia kembali merayakan HUT Kemerdekaannya yang ke 77. Diusia yang bisa dikatakan sudah menjelang ‘matang’, bangsa ini seharusnya makin berefleksi tentang pencapaiannya, khususnya di sektor kesejahteraan rakyat.

Pertanyaannya, benarkah mayoritas rakyat kita telah menuai hasil perjuangan para pahlawan pendahulu kita?

Dalam berbagai pemberitaan media, Indonesia banyak diklaim telah berhasil -walau dalam kondisi ketidakpastian global, tetap menunjukkan tanda pertumbuhan ekonomi yang baik secara makro. Namun bagaimana dengan realitas keseharian sebagian besar rakyat –mengingat pertumbuhan ekonomi makro ini hanya angka statistik.

Lalu bagaimana dengan keseharian hampir mayoritas rakyat yang tak menikmati hasil pertumbuhan itu? Yang hanya mampu bertahan hidup dengan pertanyaan: hari ini apa bisa makan” dan bukan “hari ini kita makan apa?”.

Kisah Menarik Perempuan Tua Bernama Aminah

Beberapa waktu lalu, Redaksi SmartCity bertemu ibu tua ini di tepi jalan depan sebuah pusat perbelanjaan mentereng (mall) di Makassar. Dia duduk, seperti sedang beristirahat sejenak di tepi trotoar jalan bersama seorang anak kecil perempuan.

Usia ibu tua ini sekitar 70 tahunan lebih. Dari kerutan wajah yang lunglai dan jalan yang terbungkuk-bungkuk, bisa dipastikan dia telah melewati demikian banyak penderitaan hidup

Di samping ibu renta ini teronggok karung plastik. Entalah apa isinya. Redaksi SmartCity hanya bisa menduga, isi karung tersebut adalah botol dan gelas bekas air mineral. Ini hanya dugaan kami.

Karena kami bukanlah seorang crazy-rich yang kerap nongol diberbagai tayangan TV dan medsos dengan membagi-bagikan uang dicampur motif ‘pamer‘, saya hanya bisa menatapnya dari seberang jalan.

Namun, keinginan yang meledak-ledak menyembul ingin lebih tahu kehidupan ibu renta ini. Maka perlahan Redaksi SmartCity menghampiri. Menyapa dengan harapan mendapat respon yang baik. Syukurlah, ibu tua ini menjawab keblai salam kami.

Dari sanalah Redaksi SmartCity tahu, namanya ibu Aminah. Dia tinggal dengan cucunya, Rabiah (8 tahun) di sebuah gubuk reot di daerah Antang Makassar. Di sana pulalah kami tahu bila isi kantung yang dibawanya adalah botol dan gelas plastik bekas air mineral. Itulah pekerjaan ibu Aminah. Seorang pemulung. Dari keterangannya dia biasa mengumpulkan duit 20 ribu rupiah perhari dari hasil pekerjaannya.

Tapi dia dengan tegas mengatakan dirinya bukan pengemis. Dia pantang mengemis. Dengan penghasilan kurang lebih 10 ribu rupiah perhari, dia menghidupi dirinya dan cucunya.

Persis di samping tempat kami duduk, di situ terletak jalan masuk ke pusat perbelanjaan. Beragam mobil dalam berbagai merek berseleweran keluar masuk. Kami tak tahu persis apakah pemilik mobil tersebut sempat melirik kami atau tidak karena kaca mobil mereka tertutup rapat dan dilapisi stiker gelap (kaca riben). Pastilah di dalam mobil itu penyejuk udara (AC mobil) menciptakan kenyamanan dan mereka tak merasakan teriknya mentari yang menusuk kulit.

Namun, Redaksi SmarCity tak terlalu menanggapi itu semua. Hanya merasa jengah dengan kondisi kesenjangan ekonomi yang demikian menganga di depan hidung kami.

Tak perlu memiliki ilmu sosio-ekonomi yang tinggi untuk ‘membaca’ bagaimana lebarnya kesenjangan sosial-ekonomi masyarakat kita. Kami tiba-tiba mengingat kata-kata Mahatma Ghandi. Persisnya lupa tapi intinya kurang lebih begini: “sebenarnya bumi ini sangat melimpah dan cukup untuk kehidupan yang bagi seluruh umat, namun karena keserakahanlah yang membikin dunia ini demikian terlihat memilukan”.

Mungkin memang kita telah Merdeka secara de jure dari kolonialisme penjajahan asing, namun dalam dimensi keadilan dan pemeratan, bangsa ini masih digelantungi oleh keserakahan segelitir orang. Sebuah proses pembusukan hati nurani yang mencampakkan rasa kepedulian pada sesama. Lalu apakah kita sudah benar-benar merdeka? [Redaksi]

Comment