by

Masuk Bursa Cawapres dari Fixpool Indonesia, Tokoh KTI Dorong Andi Amran Sulaiman Maju

Andi Amran Sulaiman (ist)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Mantan Menteri Pertanian RI 2014-2019  Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP, (AAS) masuk dalam survey Calon Wakil  Presiden (Cawapres) yang dirilis Fixpoll Indonesia beberapa hari lalu. Namanya  bersama Sandiaga Uno disebut  sebagai representasi Indoneia Timur.

Hal ini tidak mengherankan, mantan Menteri Pertanian era Jokowi-Jusuf Kalla itu dinilai banyak kalangan sangat berpeluang dan punya modal besar mewakil Indonesia Timur merebut kursi kepemimpinan nasional.

‘FooterBanner’


Tak jarang Amran disebut the next JK. Ramuan figur yang berasal dari pulau Jawa dan non-Jawa terbukti jitu dan beberapa memenangi Pilpres.

Sebut saja duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Jusuf Kalla (JK) pada Pilpres 2004 dan Jokowi – JK pada Pilpres 2014. Mereka adalah hasil ‘perkawinan silang’ dari wilayah barat dan timur Indonesia.

Dari sejumlah nama yang beredar di lembaga survei, tokoh dari Jawa masih mendominasi.

Diantaranya yang santer terdengar adalah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Menparekraf Sandiaga Uno hingga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Namun perlahan tapi pasti, nama Founder Tiran Group, Andi Amran Sulaiman mulai diperhitungkan sebagai tokoh representatif dari wilayah timur Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, berbagai tokoh dari Kawasan Indonesia Timur (KTI) mengatakan sosok ASS memang pantas masuk dalam bursa Calon Wakil Presiden. Bukan hanya itu tokoh KTI ini bahkan mendorong agar AAS turut dalam kontestasi Pilpres mendatang.

Salah satunya adalah Ketua Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan (KAMI IMM  Sulsel), Abdul Rachmat Noer dan tokoh pengusahapengusaha nasional yang juga Ketua Umum Dewan Ekonomi Indonesia Timur, Annar Salahuddin Sampetoding

Menurut Abdul Rachmat Noer, masuknya nama AAS sebagai  Calon Wapres  adalah sesuatu yang logis karena kapasitas dan kompetensinya yang memang mumpuni untuk posisi tersebut.

“Saat ini, setelah Pak JK turun dari pusat kekuasaan, maka figur yang paling tepat mewakili Indoneisa  Timur  adalah Andi Amran Sulaiman,” ungkap Rachmat, Senin (30/8) kemarin.

Rachmat menyebut, beberapa faktor yang menguatkan  yakni memiliki integritas  dan kredibilitas tinggi. Memegang teguh komitmen untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur dan sejahtera, serta menentang keras perilaku yang merugikan rakyat seperti korupsi, kolusi dan, mafia pangan.

“AAS punya pengalaman dalam pemerintahan. Bahkan di periode beliau menjadi Mentan, Indonesia mampu melakukan swasembada pangan, meningkatkan ekspor  komoditas pertanian, memberantas mafia  pangan, dan sejumlah prestasi lainnya yang diakui dunia  internasional,” papar Sekjen  Kerukunan  Keluarga Turatea Jeneponto (KKTJ) ini.

BACA JUGA:  Projo Sulsel Ajukan Andi Amran Sulaiman Sebagai Calon Presiden

Selain itu, lanjut Rachmat, AAS juga memiliki modal ekonomi yang sangat mapan, sehingga tidak perlu tergantung kepada oligarki untuk pembiayaan kontestasi politiknya nanti.

Hal senada diungkapkan pengusaha nasional yang juga Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Timur, Annar Salahuddin Sampetoding.

Annar menilai Amran AAS adalah sosok pekerja kerja keras, pemikir produktif, dan berintegritas dalam mengemban amanah dimanapun posisinya.

Untuk itu Annar meminta tokoh-tokoh Sulsel mendukung AAS maju sebagai pemimpin nasional.

Bahkan Presiden Director Siner Group itu berharap tokoh senior sekaliber Jusuf Kalla dan Aksa Mahmud mau mendukung AAS di Pilpres.

“Saya yakin AAS mampu dan tidak akan membuat malu Pak JK dan Aksa jika mendapat amanah menjadi Cawapres,” tutur Annar Sampetoding di Makassar, Jumat (27/8/2021).

Sebelumnya, Dr Sawedi Muhammad, Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menyatakan, jika memang AAS benar-benar serius ingin bertarung di panggung Pilpres, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukannya secara paralel.

Pertama, komunikasi personal dengan elit partai, terutama PDIP sekaligus tukar pikiran mengenai perkembangan politik mutakhir, tantangan yang dihadapi parpol dan kontribusi positif yang bisa dilakukan menghadapi masalah bangsa yang semakin kompleks.

Kedua, lanjut Sawedi, AAS harus mempersiapkan gagasan dan visi kebangsaan baik dari aspek ekonomi, politik, hankam, sumber daya manusia, ketahanan pangan, energi dan lingkungan serta kebijakan luar negeri.

“Gagasan dan visi kebangsaan ini harus otentik, komprehensif dan visioner yang dirumuskan berdasarkan kondisi objektif bangsa Indonesia,” katanya.

Ketiga, AAS sebaiknya melakukan komunikasi intensif dengan elit-elit parpol, universitas dan tokoh agama di regional Sulawesi serta wilayah Indonesia Timur.

Keempat, melakukan diaseminasi gagasan dan visi ke Indonesiaan baik melalui talk show, podcast, sosial media, studium generale dan diskusi publik lainnya.

“Diskusi publik dan disseminasi visi ke Indonesiaan sesekali dilakukan di Pulau Jawa sebagai pemilik suara terbanyak,” saran Sawedi.

Dengan demikian, apabila langkah-langkah tersebut di atas dilakukan secara serius, maka akan sangat membantu mengangkat baik polularitas maupun elektabilitas AAS.

Pasalnya, tak sedikit pihak yang berharap AAS mempersiapkan secara serius langkah-langkah politiknya untuk maju di Pilpres mendatang. (*)

Comment