by

Berbasis di Hanoi, Wapres AS Resmikan Kantor CDC untuk Asia Tenggara

Wakil Presiden AS Kamala Harris memberikan sambutan saat peluncuran resmi Kantor Regional Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Asia Tenggara di Hanoi, 25 Agustus 2021. Reuters

Smartcitymakassar.com – Wakil Presiden AS Kamala Harris meluncurkan kantor Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit  (Centers for Disease Control and Prevention – CDC) Amerika yang berbasis di Hanoi pada hari Rabu, dengan mengatakan aliansi Washington di kawasan itu bertujuan untuk saling memajukan kesehatan dan keamanan masyarakat.

Pusat CDC regional dirancang untuk meningkatkan kerja sama kesehatan dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), kata para pejabat, pada saat negara-negara di blok itu goncang akibat melonjaknya jumlah infeksi COVID-19 yang dipicu oleh varian Delta yang sangat menular.

‘FooterBanner’


“Kemitraan kami di Asia Tenggara penting bagi kesehatan rakyat, kekuatan ekonomi, dan keamanan kolektif kita” kata Harris di Twitter dalam kunjungannya ke Vietnam, sebagai bagian dari tur resmi pertamanya di Asia Tenggara, di mana sebelumnya ia singgah di Singapura.

Hingga saat ini Harris adalah pejabat paling senior dari pemerintahan baru Biden yang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara. Kantor CDC regional itu pertama kali diumumkan oleh pemerintahan Trump bulan September lalu.

“Kantor CDC akan memajukan keamanan kesehatan global dengan mempertahankan kehadiran yang berkelanjutan di kawasan ini, memungkinkan respons yang cepat dan efektif terhadap ancaman kesehatan – di mana pun itu terjadi – dan memperkuat misi inti CDC untuk melindungi warga Amerika,” kata Gedung Putih dalam rilis berita tentang perjalanan wakil presiden ke Hanoi tersebut.

Harris juga mengumumkan tambahan 1 juta dosis vaksin virus corona untuk Vietnam, menjadikan total sumbangan Washington ke negara itu menjadi 6 juta. Washington juga akan memberikan US$23 juta untuk membantu Vietnam meningkatkan akses atas vaksin.

Wakil perdana menteri Vietnam dan menteri kesehatan dari anggota ASEAN dan Papua Nugini menyaksikan Harris meresmikan kantor CDC di Hanoi, kata Gedung Putih.

CDC telah lama ada di Asia Tenggara, kata Rochelle Walensky, direktur CDC dalam sebuah pernyataan. Walensky dan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Xavier Becerra mendampingi Harris di Vietnam.

“Kemitraan lama kami dengan negara-negara kawasan ASEAN meningkatkan laboratorium kesehatan masyarakat, pusat operasi darurat, sistem pengawasan – semua hal yang dibutuhkan selama pandemi saat ini,” kata Walensky.

Persaingan vaksin

Menjelang kunjungan Harris, China mengatakan akan memberikan 2 juta dosis vaksin lagi ke Vietnam, menjadikan total sumbangan Beijing ke Hanoi menjadi 2,5 juta dosis.

Persaingan strategis, diplomatik, dan ekonomi antara Tiongkok-Amerika terjadi di negara-negara ASEAN terkait pengiriman vaksin virus corona dan juga Laut Cina Selatan yang dipersengketakan.

Sebelum donasi ke Vietnam yang diumumkan Rabu, Washington mengatakan sejauh ini telah menyumbangkan lebih dari 23 juta dosis vaksin dan lebih dari $158 juta dalam bantuan kesehatan dan kemanusiaan ke negara-negara ASEAN.

Beijing, sebaliknya, menyumbangkan dosis yang jauh lebih sedikit kepada anggota blok regional daripada Washington.

China telah menyumbangkan sekitar 17 juta dosis – termasuk 2 juta dosis terbaru ke Vietnam – ke negara-negara ASEAN, berdasarkan total yang diberikan menurut situs Bridge Consulting, sebuah perusahaan riset yang berbasis di Beijing.

Pada bulan Juni lalu, beberapa hari setelah Washington mengatakan bahwa sumbangan vaksin dan bantuan pandemi diberikan tanpa adanya ikatan, Beijing mengatakan hal yang sama.

BACA JUGA:  Kodim 1707 Merauke Gelar Serbuan Vaksinasi di SMP Negeri 1 Merauke

Tetapi seperti yang dikatakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada 17 Agustus, “tidak ada ikatan apa pun dengan donasi vaksin COVID-19 Cina ke negara itu, kecuali kapal mereka ada di sana.”

Duterte mengacu pada keberadaan kapal-kapal China di perairan Filipina di Laut China Selatan yang diperebutkan, yang diklaim sebagian besar oleh Beijing, yang bertentangan dengan penghargaan pengadilan internasional tahun 2016.

Di sisi lain, Washington bahkan mungkin “setuju untuk mentransfer IP [intellectual property /kekayaan intelektual] agar Vietnam dapat memproduksi vaksin,” Carlyle Thayer, seorang profesor emeritus di Universitas New South Wales dan Akademi Angkatan Pertahanan Australia di Canberra, mengatakan kepada Radio Free Asia (RFA), yang berafiliasi dengan BenarNews.

Dekat dengan ‘garis merah’

Para ahli memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatan di seluruh kawasan tersebut diregangkan dikarena lonjakan infeksi virus corona yang berasal dari varian Delta.

Negara-negara di Pasifik Barat menyumbang 10 persen kasus baru secara global, kata Dr. Takleshi Kasai, kepala regional Organisasi Kesehatan Dunia yang berbasis di Manila, pada hari Rabu. Kantor Badan Kesehatan PBB di Pasifik Barat itu mencakup 37 negara, termasuk seluruh Asia Tenggara.

“Di beberapa tempat, lonjakan itu mendorong sistem kesehatan mendekati apa yang kita sebut ‘garis merah’ – di mana jumlah kasus kritis melebihi kapasitas ICU, dan rumah sakit tidak dapat lagi memberikan perawatan yang dibutuhkan orang,” kata Kasai dalam konferensi media virtual.

“Varian Delta sekarang menjadi ancaman nyata – yang menguji kapasitas bahkan sistem kesehatan masyarakat terkuat di wilayah kami.”

Sebagai contoh, pusat karantina di provinsi Binh Duong Selatan, Vietnam, terisi melebihi kapasitas, sementara pemerintah setempat menginstruksikan pasien yang belum menunjukkan gejala untuk dikarantina di rumah, demikian laporan RFA Layanan Vietnam.

Pada hari Senin, Vietnam menempatkan Kota Ho Chi Minh, kota terbesar kedua, di bawah pembatasan ketat hingga September. Vietnam mencatat 354.355 kasus COVID-19 sejak 27 April, hari pertama gelombang keempat wabah virus corona di negara itu, hingga 23 Agustus.

Negara tetangga, Laos dan Kamboja, juga mengalami peningkatan jumlah infeksi minggu ini.

Sementara itu, di Manila, banyak penyedia layanan kesehatan terpaksa menolak pasien, dimana Rumah Sakit Umum Filipina yang dikelola pemerintah, yang melayani orang miskin, mengumumkan pada hari Selasa bahwa mereka kewalahan dan untuk sementara akan berhenti menerima kasus COVID-19.

Sejauh ini 73 persen dari semua unit perawatan intensif di 332 rumah sakit di Manila sudah ditempati, kata departemen kesehatan. Jumat lalu, Filipina melaporkan sebuah rekor, 17.231 infeksi baru.

Thailand pekan lalu melampaui satu juta kasus COVID-19, sementara Malaysia baru-baru ini, melaporkan rekor infeksi baru dalam beberapa hari – pada 20 Agustus terdapat 23.564 kasus, tertinggi sejak pandemi dimulai.

Jumlah kasus harian COVID-19 di Indonesia akhir-akhir ini menurun. Tetapi pada 13 Agustus, seperempat lebih dari total infeksi di negara itu sejak pandemi dimulai awal tahun lalu tercatat terjadi selama sebulan antara pertengahan Juli dan Agustus.

Negara terbesar dan terpadat di Asia Tenggara tersebut mencapai rekor lebih dari 56.000 infeksi baru pada 15 Juli, dan total infeksi COVID-19 melampaui 3 juta seminggu kemudian. (Sumber: benarnews.org)

Jason Gutierrez, Marielle Lucenio, Jojo Riñoza dan Dante Diosina Jr. di Manila; Ronna Nirmala di Jakarta; Nontarat Phaicharoen di Bangkok; dan S. Adie Zul di Kuala Lumpur turut berkontribusi pada laporan ini.

Comment