by

Imigrasi Bantah Tudingan Kekerasan Kepada Diplomat Nigeria di Jakarta

Tangkapan layar dari video tertanggal 9 Agustus dan diposting di akun YouTube Channels Television Nigeria ini menunjukkan salah satu dari tiga petugas imigrasi Indonesia menekan kepada seorang diplomat Nigeria di dalam sebuah kendaraan. Courtesy Channels Televisi viaYouTube

Smartcitymakassar.com – Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Rabu (11/8) membantah bahwa petugas imigrasi menganiaya seorang diplomat Nigeria yang ditangkap dalam operasi menyasar imigran ilegal, sementara Kementerian Luar Negeri Indonesia meminta maaf atas insiden yang berujung pada pada protes Nigeria dengan menarik duta besarnya itu.

Sebuah video yang menunjukkan Abdul Rahman Ibrahim, seorang diplomat di Kedutaan Nigeria di Jakarta, disudutkan dan ditekan di dalam mobil oleh beberapa petugas imigrasi telah menjadi viral di media sosial, memicu kecaman negara Afrika Barat itu kepada Indonesia.

‘FooterBanner’


Situs berita milik pemerintah Nigeria, Voice of Nigeria, pada Selasa melaporkan pemerintah setempat telah menarik kembali Duta Besar Nigeria di Indonesia, Usman Ogah, sebagai respons atas insiden tersebut seraya mengancam mereka akan meninjau ulang hubungan diplomatik kedua negara. 

Kemenkumham menyatakan bahwa tindakan petugas imigrasi yang terekam dalam video itu merupakan respons atas pemukulan oleh Ibrahim setelah diplomat tersebut menyerang salah satu petugas saat dibawa ke kantor imigrasi, demikian kata Ibnu Chuldun, Kepala Kanwil Kemenkumham Jakarta.

Ibnu mengatakan bahwa kejadian itu bermula dari operasi terhadap warga negara asing asing (WNA) yang izin tinggalnya sudah habis pada Sabtu (7/8), namun diplomat yang terjaring itu tidak kooperatif ketika diminta menunjukkan identitas, sehingga dia dibawa oleh petugas.

“Justru WNA asal Nigeria itu yang melakukan pemukulan terhadap petugas kami saat dalam perjalanan ke kantor imigrasi,” kata Ibnu dalam keterangan tertulis kepada pers. 

“Yang bersangkutan dibawa ke kantor karena bersikap tidak kooperatif dengan menghardik petugas yang melakukan pemeriksaan dokumen dan malah menantang untuk ditahan,” lanjutnya. 

Dalam video Youtube oleh Channels Television, terlihat tiga petugas imigrasi Indonesia menekan seorang pria berkulit hitam di dalam mobil, di mana salah satu petugas menekan kepala laki-laki kulit hitam itu yang berteriak “leherku… leherku, …aku tidak bisa bernapas!”

Pusat Pelaporan Investigasi Internasional (ICIIR) yang berbasis di Abuja mengidentifikasi diplomat yang terlibat dalam insiden itu sebagai Abdul Rahman Ibrahim.

Ibnu mengatakan, apa yang terlihat pada video, menurutnya adalah bentuk pencegahan petugas agar yang bersangkutan tidak kembali melakukan kekerasan. Seorang petugas imigrasi bahkan mengalami luka bengkak dan pendarahan di bibir bagian kiri diduga akibat pemukulan Ibrahim.

“Ini bisa dibuktikan dari hasil visum yang dilakukan atas petugas kami,” kata Ibnu. 

Dubes Indonesia meminta maaf

Atas kejadian tersebut Kementerian Luar Negeri Nigeria menuntut “sanksi yang sesuai” terhadap pejabat Indonesia yang terlibat.

“Pemerintah Nigeria mengutuk dalam istilah yang paling keras apa yang sebenarnya merupakan tindakan kejahatan internasional yang sangat tidak terpuji oleh pejabat Indonesia terhadap perwakilan terakreditasi dari Republik Federal Nigeria, yang sama sekali tidak bisa dibenarkan dan bertentangan dengan hukum internasional,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Nigeria.

BACA JUGA:  BIN Bantah Sistemnya Dibobol Kelompok Peretas

Awal pekan ini, Kemlu Nigeria telah memanggil Duta Besar Indonesia di Abuja untuk mengkonfirmasi insiden tersebut dan “memprotes keras.”

Juru bicara Kemlu Indonesia Teuku Faizasyah membenarkan adanya pemanggilan Dubes Indonesia Usra Hendra Harahap oleh Kemlu Nigeria. Ia menambahkan bahwa dalam pertemuan itu Dubes RI menyatakan, “penyesalannya atas insiden yang telah menimbulkan ketidaknyamanan di antara kedua pihak.” 

“Kami masih mendalami, untuk itu upaya komunikasi diplomatik masih akan terus dilakukan. Harapan kami akan ada keterangan yang lengkap dari imigrasi terutama terkait kejadian di lapangan seperti apa yang sebenarnya,” katanya. 

Menteri Luar Negeri Nigeria Geoffrey Onyema mengatakan kepada media lokal bahwa Duta Besar Indonesia telah meminta maaf.

“Duta Besar menjelaskan apa yang dia pahami terjadi dan meminta maaf dengan tulus atas nama Pemerintah Indonesia,” kata Onyema.

Dia juga mengatakan tindakan pejabat Indonesia adalah “jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap Konvensi Wina,” lapor surat kabar Nigeria The Guardian.

Pada Rabu (11/8), pejabat Kemlu Indonesia bidang protokoler dan konsuler serta Direktorat Jenderal Afrika melakukan pertemuan dengan pihak Kedutaan Besar Nigeria di Jakarta untuk mendalami dugaan pelanggaran, sebut Teuku Faizasyah. 

“Sebagai dua negara bersahabat, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Nigeria terus melakukan serangkaian komunikasi intensif untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan insiden seorang diplomat Nigeria dengan petugas imigrasi Indonesia,” kata Faizasyah melalui sambungan telepon dengan BenarNews, Rabu. 

Kepala Kanwil Kemenkumham Ibnu mengatakan bahwa peristiwa tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi bila WNA tersebut sejak awal bersikap kooperatif dan terbuka dengan statusnya sebagai diplomat. “Kami berharap penjelasan ini sekaligus bisa menjernihkan tudingan yang beredar di media sosial atas petugas kami,” kata Ibnu.

Ia mengatakan bahwa mediasi telah dilakukan antara Ibrahim dengan petugas imigrasi.

“Kedua pihak mengakui telah terjadi kesalahpahaman dan sepakat berdamai disaksikan oleh Pimpinan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan dan Duta Besar Nigeria,” ujar Ibnu. 

‘Sekarang dia adalah buktinya’

Menlu Nigeria Geoffrey Onyema mengatakan komunitas warga Nigeria di Indonesia cukup besar,

“Kami telah mendapat keluhan tentang sejumlah warga Nigeria dan itu menjadi hal penting yang kami bicarakan dengan pemerintah Indonesia,” ujarnta seperti dikutip oleh media lokal.

Dalam lamannya, ICIIR mengatakan bahwa itu bukan pertama kalinya warga Nigeria dilecehkan oleh petugas imigrasi di Indonesia.

Ebubedike McDowell, warga Nigeria yang tinggal di Indonesia, mengatakan kepada ICIIR bahwa kedutaan Nigeria sering menutup mata terhadap bagaimana warga negara mereka diperlakukan di Indonesia.

“Ketika warga biasa di sini mengeluh kepada mereka bagaimana petugas imigrasi (Indonesia) memperlakukan kami, mereka akan mengabaikan kami dan mengatakan kami harus membawa bukti,” kata McDowell seperti dikutip ICIIR.

Warga Nigeria lainnya, Daniel Uboh mengatakan kepada ICIIR bahwa dia pernah bertemu dengan diplomat Abdul Rahman Ibrahim.

“Saya pernah bertemu dengan Ibrahim dan melaporkan kepadanya bagaimana perlakuan petugas imigrasi Indonesia kepada warga Nigeria,” kata Uboh.

“Jawaban yang ia berikan kepada saya adalah ‘mana buktinya?’ Sekarang dia adalah buktinya.” (Sumber: benarnews.org)

Comment