by

Coretan Redaksi: Pandemi

Lukisan wabah Sampar

Smartcitymakassar.com – BARANGKALI dunia senantiasa menunjukkan cara unik dalam menaklukkan kesombongan manusia. Sastrawan dan filsuf besar Perancis, Albert Camus sangat memahami hal ini. Dalam karya novelnya yang berjudul “Sampar”, Camus seperti bergumam pahit tentang sebuah ketidakberdayaan. Sebuah realitas absurd yang diceritakan dengan demikian muram.

Di sebuah kota yang bernama Oran, realitas hidup menjadi semacam antrian menuju kematian. Kota ini diserang wabah penyakit Sampar dan kematian setiap malam bersejingkat mengetuk pintu warga kota. Kecemasan bergentayangan. Dan di puncak ketakutan ini, akhirnya warga seperti tak lagi peduli.

‘FooterBanner’


Daftar kematian kemudian hanya dipelototin dengan angka-angka statistik. Orang-orang tak lagi menyentuh kulit dan daging kemanusiaan. Semua nilai-nilai manusiawi dilenyapkan dalam kabut kematian yang memang terasa demikian dekat.

BACA JUGA:  Pakar Penyakit Menular AS: Varian Delta Sangat Berbahaya

Satu hal yang paling menyakitkan dalam hidup manusia adalah kehilangan harapan. Hidup bernilai karena diantara kepahitan kita masih mencercah sebuah harapan. Dan di kota Oran, harapan itu perlahan kering dan habis.

Barangkali dunia memang punya cara unik menegur kecongkakan manusia. Dan di masa pandemi COVID-19 saat ini, kita seperti menjadi warga kota Oran dalam karya Albert Camus. (MG)

Comment