by

Jelang Idul Adha di Sulsel, Soal Regulasi Pusat dan Penerapan di Daerah

Gambar peta resiko

Smartcitymakassar.com – Makassar. Banyak pakar yang mengatakan bahwa kondisi parah covid-19 gelombang kedua saat ini yang melanda Indonesia, salah satu dampak dari peningkatan mobilitas masyarakat usai Idulfitri lalu.

Hal ini dikatakan Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Media, Wahyudi Askar, dalam diskusi virtual Indef, Jumat, (16/7/2021) lalu.

‘FooterBanner’


Wahyudi Askar pun menyayangkan regulasi pemerintah yang kerap tidak jelas. Menurutnya, hal ini terjadi karena terjadinya simpang siur di masyarakat terhadap regulasi pemerintah daerah setempat yang tidak jelas. Bahkan, sejumlah pejabat publik daerah secara terang-terangan memperbolehkan tempat wisata beroperasi saat libur idulfitri tersebut.

Diketahui, Kasus baru covid-19 di Indonesia pada 19 Juli 2021 ini memang turun. Namun demikian, angka kematian covid-19 malah memecahkan rekor tertinggi sepanjang pandemi covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan data pemerintah yang disampaikan BNPB, Senin (19/7/2021), ada 1.338 orang meninggal dunia. Rekor tertinggi sebelumnya tercatat pada 17 Juli dengan 1.205 orang meninggal dunia. Sejak Maret 2020 hingga saat ini, total sudah ada 74.920 orang meninggal dunia di Indonesia.

Jelang Idul Adha di Sulsel

Jelang Idul Adha di Sulsel, berdasarkan data yang diterima terdapat 4 Kab/Kota yang menetapkan salat idul adha dirumah masing masing. Artinya 20 Kab/Kota lainnya memperbolehkan Salat dirumah/masjid sesuai aturan.

Hal ini tentunya mengacu pada regulasi pusat, seperti SE Menteri Agama No 15 Tahun 2021 Tentang Penerapan Protokol Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Sholat Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M. Juga berdasarkan Intruksi Mendagri nomor 20 Tahun 2021, atau SE Satgas Penanganan COVID-19 Nomor 15 Tahun 2021 terkait pembatasan aktivitas masyarakat selama libur Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah/2021. Dan dilengkapi dengan SE bernomor 451.11/6812/B.Kesra tentang Pelaksanaan Salat Iduladha Tahun 1442 Hijriah/2021 Masehi Provinsi Sulawesi Selatan yang diteken oleh Plt Gubernur Sulsel.

BACA JUGA:  (Breaking News) Agung Sucipto Divonis 2 Tahun Penjara

Dilansir dari rilis humas Sekretariat Kabinet Republik Indonesia pada (17/7/2021), Juru Bicara (Jubir) Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito juga menyampaikan pada diktum KETIGA SE tersebut menegaskan bahwa, kegiatan peribadatan/keagamaan berjemaah di daerah yang menerapkan PPKM Darurat, PPKM Mikro Diperketat, dan kabupaten/kota non-PPKM Darurat tapi berstatus Zona Merah dan Oranye, ditiadakan dan dikerjakan di kediaman atau rumah masing-masing.

“Sedangkan untuk daerah lainnya yang tidak termasuk dalam cakupan tersebut maka dapat melakukan kegiatan ibadah berjemaah dengan syarat kapasitas maksimal di dalam rumah ibadah sebesar 30 persen dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat,” jelas Wiku.

Jika hanya berdasarkan zona Oranye dan merah di Sulsel

Berdasarkan Peta risiko dari Satuan tugas penanganan Covid-19 pusat, pertanggal 11 Juli 2021:

Dari 24 Kab/Kota di Sulsel:

Zona merah (risiko tinggi):

1. Selayar

Zona kuning (risiko rendah):

1. Luwu Utara

2. Wajo

3. Enrekang

4. Bantaeng

5. Bone

6. Toraja Utara

7. Luwu

Dan 16 Kab/Kota lainnya zona oranye (risiko sedang).

Apabila regulasi pusat seragam meniadakan Salat idul Adha bagi semua Kab/Kota zona oranye dan merah berdasarkan data dari satgas Satuan tugas penanganan Covid-19 pusat, maka hanya Luwu Utara, Wajo, Enrekang, Bantaeng, Bone, Toraja Utara dan Luwu (7 Kab/Kota) yang dizinkan Salat idul adha dilapangan/masjid.

Comment