by

Nakes akan Dapat Suntikan Ketiga dengan Vaksin Moderna

Dokter dan tenaga kesehatan memperhatikan ambulans yang membawa kolega mereka, yang meninggal karena COVID-19 di RS Zainoel Abidin di Banda Aceh, 29 September 2020. AFP

Smartcitymakassar.com – Pemerintah mulai pekan depan akan memberikan suntikan vaksinasi ketiga (booster) kepada 1,47 juta tenaga medis di seluruh provinsi dengan menggunakan vaksin buatan perusahaan AS Moderna, demikian Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Jumat (9/7). 

Lonjakan kasus yang terjadi akibat sebaran varian Delta sejak Juni, dan juga angka tenaga kesehatan yang terus berguguran memunculkan desakan dari berbagai pihak untuk pemberian suntikan booster untuk para tenaga kesehatan. 

‘FooterBanner’


LaporCOVID-19, kelompok relawan yang memonitor data pandemi, mencatat dalam tiga hari terakhir setidaknya 74 tenaga kesehatan dengan sebagian di antaranya telah menerima vaksinasi lengkap dari CoronaVac buatan perusahaan Cina Sinovac Biotech meninggal dunia akibat COVID-19. 

Budi mengatakan pemberian Moderna bertujuan agar para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan penanganan COVID-19 mendapatkan kekebalan yang maksimal. 

“Kami sudah berdiskusi dengan BPOM dan juga penasehat independen terkait program ini. Vaksin ketiga akan diberikan menggunakan Moderna sehingga bisa memberikan kekebalan yang maksimal terhadap variasi mutasi yang ada,” kata Budi dalam keterangan pers. 

Vaksin buatan Moderna Inc memiliki tingkat efikasi mencapai 94,1 persen, demikian menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). Kedutaan Besar AS di Jakarta melalui akun Instagramnya mengatakan sebanyak 4 juta dosis vaksin Moderna bakal dikirimkan ke Indonesia melalui skema multilateral COVAX-WHO. 

Menkes Budi mengatakan vaksin tersebut bakal tiba pada Minggu (11/7), “sehingga mulai pekan depan kita bisa mulai vaksin ketiga untuk nakes.” 

Sebanyak 1,47 juta tenaga kesehatan menjadi sasaran prioritas dalam program vaksinasiyang dimulai pemerintah pada awal tahun dengan menggunakan CoronaVac. 

Per 9 Juli, sebanyak 1.207 tenaga kesehatan dinyatakan meninggal dunia sejak pandemi menjangkit Indonesia dalam 16 bulan terakhir, sebut data LaporCOVID-19.

Ketua Tim Mitigas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi, menyebut sebanyak 458 dari total angka yang dilaporkan oleh LaporCOVID-19 merupakan dokter. 

Adapun sejak awal Juli, 74 tenaga kesehatan dilaporkan telah menutup usia. Rekor kematian tertinggi tenaga medis akibat COVID-19 tercatat pada Januari 2021 yakni 151 orang, menurut LaporCOVID-19.  

Lonjakan kematian dokter tertinggi terjadi pada Januari dengan 65 orang meninggal dunia, lalu turun sepanjang Februari-Mei, namun meningkat lagi pada Juni, kata Adib dalam konferensi pers virtual. 

“Jadi pada Juni melonjak lagi jadi 48 orang, naik 7 kali lipat dibanding Mei dengan 7 dokter meninggal dunia. Kemudian pada bulan Juli, setidaknya sampai hari ini, sudah ada 35 dokter meninggal dunia,” katanya. 

Belum divaksin

Walaupun sejumlah nakes yang berpulang tersebut sebagian sudah divaksin, namun sebagian besar ternyata belum divaksin atau hanya menerima suntikan pertama dari dua suntikan Sinovac.

Adib Khumaidi mengatakan bahwa dari hasil penelusuran lapangan, angka kematian dokter yang tercatat sejak Februari hingga 24 Juni tahun ini dengan jumlah total 86 orang, baru 17 dokter di antaranya menerima vaksin lengkap, dan empat lainnya mendapatkan suntikan pertama. 

“Sekitar 41 persen belum divaksin sama sekali, 35 persen lainnya masih kita konfirmasi lebih lanjut. Ini memang mengherankan karena memang kita dengar semua nakes telah disuntik tapi data di lapangan menunjukkan hal lain,” katanya. 

“Kami sedang telusuri apakah ada hal-hal yang membuat mereka tidak bisa divaksin seperti faktor komorbid atau lainnya,” sambung Adib. 

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah juga menyampaikan situasi yang sama terhadap tingkat vaksinasi kepada perawat secara nasional. 

“Sejak Mei sampai akhir Juni akhir, dari 29 perawat yang meninggal dunia, 10 orang sudah divaksin lengkap, 17 orang tidak karena ada faktor komorbid, 2 lainnya masih kita telusuri,” kata Harif dalam kesempatan yang sama dengan Adib. 

Perlindungan tenaga kesehatan

Kementerian Kesehatan menyatakan meski CoronaVac memiliki tingkat efikasi sebesar 65,3 persen, namun vaksin itu tetap efektif dalam menghadapi varian terbaru COVID-19. 

“Kita tahu orang masih bisa terpapar walau sudah divaksin, apalagi nakes yang setiap hari bertemu dengan pasien sehingga memiliki risiko tinggi akan keterpaparan virus,” kata Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, kepada BenarNews. 

BACA JUGA:  Soal Perpanjangan PPKM Mikro Termasuk Luar Jawa-Bali, Ini Penjelasan Lengkapnya

Tri Yunis Miko Wahyono, epidemiolog dari Universitas Indonesia, mengatakan pemberian booster untuk tenaga kesehatan adalah langkah tepat menyelamatkan sistem kesehatan Indonesia.

“Harus ada upaya melindungi tenaga kesehatan, dan imunisasi ketiga ini menjadi salah satu hal yang penting, karena efikasi Sinovac akan terus menurun,” kata Yunis, saat dihubungi. 

Menurutnya, vaksin merek apa saja pada dasarnya bisa diberikan sebagai booster para tenaga Kesehatan.

Pemerintah menargetkan kedatangan sekitar 33 juta dosis vaksin pada bulan ini, yang terdiri dari 16 juta dosis vaksin Sinovac, 8 juta dosis vaksin dari COVAX, menggunakan skema yang berkoordinasi dengan berbagai negara melalui WHO— termasuk 4 juta dosis Moderna, dan 2,6 juta dosis hibah dari Jepang dan Uni Emirat Arab. 

“Tapi angka itu ada yang berpotensi delay karena bergantung dari ketersediaan manufakturnya,” kata Budi. 

Hingga Jumat, total 35,7 juta penduduk Indonesia telah menerima vaksinasi COVID-19, sebanyak 14,8 juta di antaranya telah disuntik dua kali. 

Data Kementerian Kesehatan juga mencatat angka terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 2.455.912, naik 38.124 dalam 24 jam terakhir. Angka kematian akibat virus bertambah 871, sehingga akumulasi nasional mencapai 64.631. 

Okupansi rumah sakit tinggi

Merujuk data Satgas Penanganan COVID-19, tingkat okupansi tempat tidur rumah sakit seluruh Pulau Jawa mencapai 81-90 persen per Selasa kemarin. Sementara keterisian ruang Intensive Care Unit berkisar 78-96 persen.

Angka tersebut jauh di atas standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO) yakni 60 persen.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Lia Gardenia Partakusuma, mengatakan beberapa rumah sakit juga masih kesulitan mendapatkan tambahan suplai oksigen sampai sekarang, saat kasus aktif terus bertambah.

“Dalam pantauan kami, kelangkaan masih terjadi di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta,” kata Lia saat dihubungi pada Jumat (9/7).

Randi Pahlawan, seorang warga Depok, mengatakan saturasi oksigen sang ibunya mendadak turun hingga 85 persen pada Senin tak lama usai dinyatakan positif COVID-19.

Dia mencari tabung oksigen di wilayah tinggalnya, namun puluhan toko yang dia datangi mengatakan barang yang dia cari habis.”Saya baru mendapatkannya pada Selasa setelah ada yang berbaik hati meminjamkan. Itu pun saya harus membayar mahal serta mengantre panjang untuk mengisi ulang,” kata Randy kepada BenarNews.

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan dalam keterangan pers virtual pada mengatakan, sebanyak 30 unit oksigen konsetrator tiba dari Singapura pada Jumat (9/7). 

Tiga puluh unit konsentrator tersebut merupakan bagian dari 10 ribu oksigen konsentrator yang dibeli pemerintah dari Singapura yang diharapkan dapat mengurangi kelangkaan oksigen.

Menkes Budi mengatakan pemerintah akan mengejar ketersediaan pasokan oksigen mencapai 2.400 ton per hari untuk penanganan pasien terkonfirmasi COVID-19 yang diprediksi masih akan melonjak dalam sepekan ke depan. 

Berdasarkan data Organization for Economic Co-operation and Development, ketersediaan dokter di Indonesia memang tergolong rendah, yakni 0,4 persen dokter menangani 1.000 orang. Angka itu merupakan terendah kelima di Asia Pasifik.

Budi mengatakan pemerintah bakal menambah kapasitas tempat tidur serta jumlah tenaga kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan. Dari 406.253 ranjang rumah sakit di seluruh Indonesia, baru 28 persen atau 111.890 yang digunakan untuk pasien COVID-19. 

Wakil Menkes Dente Saksono dalam keterangan pers Kamis, mengatakan pihaknya bakal mendayagunakan dokter magang sebanyak 5.418 orang, dokter pasca-magang sebanyak 4.454 orang, dan perawat yang baru lulus pendidikan sebanyak 100 ribu orang. 

Pulmonologist Rumah Sakit Persahabatan, Erlina Burhan, menambahkan banyaknya tenaga medis yang terpapar COVID-19 telah membuat dirinya terpaksa bekerja melebihi batas waktu dengan beban berat akibat membludaknya pasien. 

“Sekitar 200 staf yang terpapar dan tidak bisa bekerja,” ujar Erlina saat dihubungi. 

“Saya merasa saat ini betul-betul melelahkan karena kami kekurangan staf sementara pasien terus bertambah.”

Juga pada Jumat, pemerintah memperluas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk 15 kabupaten dan kota di luar Pulau Jawa dan Bali, berlaku pada 12 Juli hingga 20 Juli. 

Kementerian Kesehatan meminta rumah sakit di 15 daerah tersebut untuk segera mengkonversi lebih banyak tempat tidur pasien umum untuk pasien COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat. (Sumber: benarnews.org)

Ronna Nirmala di Jakarta berkontribusi dalam artikel ini.

Comment