by

69 Tersangka Teroris Grup Makassar dan Maumere Dipindahkan ke Jakarta

Dalam foto tertanggal 29 Maret 2021 ini, petugas polisi penjinak bom meneliti rongsokan sepeda motor yang digunakan suami-istri anggota kelompok militan pelaku bom bunuh diri di gereja katedral Makassar sehari sebelumnya.AP

Smartcitymakassar.com – Sebanyak 69 tersangka terkait dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang diduga terlibat dalam pemboman bunuh diri di Makassar bulan Maret lalu dipindahkan ke Jakarta untuk menjalani proses hukum lanjutan, demikian kata juru bicara kepolisian pada Jumat (2/7).

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan 69 tersangka yang diterbangkan hari Kamis ke Jakarta terdiri dari 58 tersangka militan dari Makassar dan 11 orang yang ditangkap di Kabupaten Merauke, Papua, bulan lalu atas tuduhan merencanakan penyerangan terhadap Uskup Agung Merauke Petrus Canisius Mandagi dan sejumlah kantor polisi di sana.

‘FooterBanner’


“Sebanyak 69 tahanan tindak pidana terorisme ini adalah anggota jaringan kelompok Vila Mutiara yang ditangkap pasca-terjadinya bom Katedral Makassar,” kata Ramadhan, dalam keterangan kepada jurnalis.

Kelompok Villa Mutiara merujuk pada jaringan terduga anggota JAD- kelompok militan yang telah berbaiat kepada negara Islam ISIS yang kerap melakukan pertemuan di kompleks perumahan tersebut.

Sepasang suami istri yang diduga anggota jaringan itu melakukan serangan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral di Makassar pada 28 Maret. Sebanyak 20 jemaah yang baru selesai melaksanakan misa mengalami luka akibat bom yang dirakit dalam panci tersebut.

“Pemindahan tahanan tindak pidana terorisme ke Jakarta tentu tujuannya untuk proses hukum lebih lanjut. Pemindahan 69 tahanan kasus terorisme dilaksanakan sesuai standar operasional pengawalan, pengamanan tahanan terorisme,” kata Ramadhan.

Kepala Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri mengatakan, terdapat seorang bayi berusia 6 bulan yang ikut dipindahkan ke Jakarta bersama 11 tersangka dari Merauke tersebut.

“Sebanyak 11 tersangka teroris itu ada yang pasangan suami istri, AP dan IK, yang baru punya bayi berusia sekitar enam bulan,” kata Fakhiri dalam keterangan tertulis yang dibagikan Humas Polda Papua.

Ke-69 tersangka tersebut akan ditahan di rumah tahanan khusus terorisme yang selesai dibangun pada akhir 2018, di Cikeas, Bogor.

Kabur

Di Bangka Belitung, seorang tersangka teroris bernama Agus Setianto alias Abu Raffa (44), kabur dari ruang pemeriksaan kepolisian pada Kamis dini hari setelah sesi interogasi, menurut laporan internal kepolisian yang dilihat BenarNews.

Pria yang disebut juga terafiliasi dengan JAD ini berhasil melepaskan borgol di tangan dan kakinya lalu kabur melalui jendela dan berlari ke arah hutan yang berada di belakang Polda Bangka Belitung pada Kamis dini hari, menurut laporan itu.

“Ya betul, memang kemarin pada waktu pemeriksaan ini yang bersangkutan melarikan diri dan saat ini dalam pengejaran sekaligus kita pengembangan,” kata Kapolda Bangka Belitung Inspektur Jenderal Anang Syarif Hidayat, dikutip dari Detik.com.

Agus merupakan salah satu dari tiga orang yang diduga anggota JAD yang ditangkap di Jakarta dan Bangka-Belitung pada Rabu (30/6) di atas dugaan keterlibatan pengiriman senjata api.

Tersangka lainnya adalah YS dan DS, yang diduga menerima kiriman paket dari Agus yang isinya senjata dan amunisi, antara lain tiga senapan panjang, tiga revolver, dua magazin dan ratusan peluru.

Kepolisian menyebut Agus berada di ruang pemeriksaan lantaran belum ada keputusan untuk menaikkan status tersangka ini dengan penahanan.

“Status tersangka belum dilakukan penahanan dan posisi masih dalam pengembangan pemeriksaan,” kata Anang kepada Detik.com.

Polda Bangka Belitung saat ini telah menyebarkan foto Agus, berikut melakukan penjagaan ketat di rumah keluarga dan kerabat, serta menutup akses keluar masuk penyeberangan menuju pulau tersebut.

“Masyarakat agar tetap tenang dan tidak melindungi karena akan dikenakan UU Terorisme apabila melindungi. Jika melihat ciri-ciri seperti foto tersebut agar melapor ke kepolisian terdekat,” ujar Anang.

BACA JUGA:  Tegasi Kinerja Polisi, Aktivis PMII Sulsel Segerakan Konsolidasi Internal

Peneliti Senior dari Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), Moh. Taufiqurrohman, sebelumnya menduga senjata ini akan dikirimkan ke jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok militan bersenjata yang telah berbaiat kepada ISIS, yang berpusat di Poso, Sulawesi Tengah.

Sel-sel kecil

Pakar intelijen dan keamanan dari Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, mengatakan meski tidak memiliki pemimpin pasca-penangkapan pemimpinnya Aman Abdurrahman, namun jaringan JAD dengan ISIS masih terjalin kuat.

“Mereka memiliki pengendali, Syaifulloh alias Daniel, yang diduga berada di Afganistan. Dari temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), diketahui ada aliran dana dari Syaifulloh dengan kelompok JAD dan MIT di sini,” kata Stanislaus kepada BenarNews.

“Ada yang bilang dia tewas, tapi ini masih belum terkonfirmasi,” katanya.

JAD menjadi kelompok yang akan selalu beradaptasi untuk mengecoh aparat keamanan, khususnya setelah kehadiran revisi UU Terorisme pada tahun 2018, paparnya.

JAD berada dibelakang aksi terorisme di Indonesia sejak 2016, termasuk Bom Thamrin tahun 2016, Bom Kampung Melayu 2017, dan pemboman di tiga gereja di Surabaya.

“Mereka terpecah menjadi sel-sel kecil, sel keluarga. Makanya dalam tiga tahun terakhir banyak kita dengar anggota JAD yang menjadi lonewolf atau pasangan suami istri pengebom bunuh diri. Semakin kecil selnya, akan semakin sulit terlacak,” katanya.

Meski potensi kerusakan atas serangan tidak akan sebesar kelompok yang lebih solid seperti JI, namun aparat keamanan tetap perlu mewaspadai ancaman keamanan dari kelompok ini.

“Banyak dari kombatan JAD tidak memiliki bekal pelatihan, tapi mereka selalu belajar, baik dari buku, internet, lainnya. Dan mereka lebih nekat untuk melakukan serangan,” kata Stanislaus.

Analis keamanan dan terorisme Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai sel-sel kecil yang lebih banyak muncul belakangan tidak harus selalu dikaitkan dengan JAD.

“Karena bisa saja mereka sebenarnya hanya simpatisan, pro-ISIS, yang terpapar melalui kanal-kanalnya JAD. Mereka tidak terorganisir langsung oleh kelompok JAD,” kata Khairul kepada BenarNews.

Khairul mengatakan, penting bagi aparat untuk tidak terburu-buru mengelompokkan simpatisan ISIS sebagai JAD.

“Hanya karena misalnya ditemukan bendera ISIS, maka disebut JAD, karena di Indonesia yang pro-ISIS itu JAD,” katanya.

“Selain pola penanganan dan program deradikalisasinya bisa jadi tidak tepat sasaran, klaim-klaim ini hanya akan menguntungkan bagi propaganda JAD. Seolah-olah kelompok mereka masih sangat besar dan aksi mereka ada di mana-mana.

Anggota JI

Pada Kamis, Densus 88 menangkap seorang terduga militan berinisial BA di Deli Serdang, Sumatra Utara, yang diduga sebagai anggota Jamaah Islamiyah (JI) dan pernah terlibat pelatihan bela diri dan militer dengan organisasi terlarang itu pada 2015.

“Sejak 2017, terpilih sebagai ketua koperasi attoyibah yang menjadi miliki JI dan sebagai penanam modal koperasi tersebut,” kata Ramadhan tentang BA.

Kepolisian mengatakan pihaknya akan menggeledah tempat tinggal BA yang diduga menyimpan barang bukti. “Saat ini, (BA) masih pemeriksaan di Polda Sumut,” katanya.

Dalam setahun terakhir, Densus 88 melakukan penangkapan terhadap tersangka JI yang diduga terlibat dalam pelatihan dan pendanaan jaringan tersebut. Polisi juga mengatakan mereka menemukan indikasi pendanaan untuk kelompok JI yang melibatkan lebih dari 20 ribu kotak amal di tujuh provinsi di Indonesia.

Polri sudah menangkap total 49 orang yang diduga anggota JI sejak akhir Februari, termasuk 22 orang di Jawa Timur yang diduga bagian dari sel yang dipimpin Fahim, tokoh senior JI di sana yang ditangkap pada 26 Februari 2021.

JI, yang terafiliasi dengan kelompok al-Qaeda, berada di balik serangan bomb Bali dan aksi lainnya pada tahun 2000an di Indonesia. (Sumber: benarnews.org)

Comment