by

IDI: Rumah Sakit COVID-19 Mulai Kewalahan, Oksigen Menipis

Tenaga kesehatan melayani seorang pasien virus Corona di sebuah tenda darurat untuk mengakomodasi lonjakan penderita COVID-19 di Rumah Sakit Daerah Cengkareng di Jakarta, 24 Juni 2021.

Smartcitymakassar.com – Sejumlah rumah sakit di pulau Jawa sudah kewalahan karena tidak dapat lagi menampung pasien baru, sementara pasokan oksigen kian menipis tiap harinya, kata Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jumat (25/6).  

Hampir seluruh rumah sakit rujukan COVID-19 di Jawa Barat okupansinya sudah di atas 90 persen, sementara semua rumah sakit di Bantul dan Sleman di Yogyakarta penuh, dengan pasokan oksigen yang sangat minim, kata pejabat IDI.

‘FooterBanner’


“Bahkan banyak RS (rumah sakit) yang okupansinya sudah di atas 100 persen,” ujar Ketua IDI Jawa Barat, Eka Mulyana dalam konferensi pers virtual.

“Di Bandung sudah 103 persen. Artinya lonjakan kasus ini terjadi di mana-mana. Ini berarti kita sudah kolaps,” kata dia.

Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan dan berakibat akan terpaparnya tenaga medis, ujarnya.

Jumlah korban meninggal dari para tenaga kesehatan terus bertambah. Berdasarkan data IDI pusat per Juni, setidaknya 949 tenaga kesehatan gugur karena COVID-19. Dari jumlah tersebut, 399 diantaranya merupakan dokter.

Sementara dalam periode Februari – Mei 2021, tercatat 61 dokter meninggal dunia, 14 orang diantaranya sudah menerima vaksin lengkap, kata IDI.

Eka mengatakan beberapa rumah sakit sudah terlihat antrian pasien yang mencari perawatan. “Beberapa RS bahkan sudah melaporkan kekurangan ventilator, nasal cups (selang bernafas) dan pasokan oksigen,” kata dia. 

Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukan pasien mengantri di RSUD Chasbullah Abdulmajid Bekasi, Jawa Barat. Terlihat tenda yang didirikan di areal parkir rumah sakit penuh sehingga membuat pasien lainnya terpaksa mendapatkan perawatan di halaman parkir dan di bak mobil pickup yang dibawa pasien.

Hal senada disampaikan Ketua Satgas Penanggulangan COVID-19 IDI Yogyakarta, Tri Wijaya yang mengatakan semua rumah sakit di Bantul dan Sleman penuh, sementara pasokan oksigen yang sangat minim.

“Ada kendala pengiriman oksigen yang kurang per hari hanya dikirim enam sampai delapan tabung oksigen padahal satu rumah sakit setidaknya butuh 20 tabung. Akhirnya kami menggunakan oksigen dari pembelian retail, atau yang dijual di pinggir-pinggir jalan itu. Kami harus usahakan bagaimana oksigen dapat terpenuhi dengan segala cara,” katanya.

Di Yogya sendiri, ujar dia per hari ini, terdapat 150 dokter dari total 3000 tenaga kesehatan yang terpapar COVID-19. Bantul dan Sleman menjadi kabupaten dengan angka konfirmasi tertinggi di Yogyakarta.

Minggu ini kasus COVID-19 di Indonesia telah mencapai lebih dari 2 juta sejak virus corona pertama kali terdeksi di dalam negeri pada 2 Maret 2020. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 hingga Jumat menunjukkan kasus terkonfirmasi di Indonesia bertambah 18.872, menjadikan total yang terjangkit mencapai 2.072.867. Jumlah korban meninggal dunia bertambah 422 dalam 24 jam terakhir menjadi 56,371.

Kelelahan Dokter

Ketua IDI Pusat, Adib Khumaidi mengatakan situasi gawat bisa dilihat saat rumah sakit dibanjiri pasien yang menandakan situasi dalam kondisi sangat krisis sehingga beban rumah sakit dan dokter menjadi sangat luar biasa.

BACA JUGA:  Kelangkaan Oksigen Medis Juga Dialami Bali

“Tidak bisa hanya dengan menambah tempat tidur saja karena konsekuensinya harus juga menambah sarana dan prasarana, juga sumber daya manusia (SDM). Bagaimana nanti mengatur pola shifting agar tidak menyebabkan kelelahan dokter,” kata dia.

Meskipun kolaps saat ini hanya terjadi di pulau Jawa, ujar dia, tidak menutup kemungkinan untuk terjadi di pulau lainnya seperti Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi apabila tidak segera ditangani dengan serius.

“Edukasi masyarakat itu penting supaya RS tidak kolaps dengan cara sosialisasi kapan harus datang ke fasilitas kesehatan, kenapa harus isoman (isolasi mandiri),” kata dia.

Eka melanjutkan kondisi yang digambarkan IDI ini merupakan kondisi di hilir dan contoh kasus di satu kota. Namun, kata dia, yang paling penting adalah kondisi di hulu karena masyarakat yang menyebabkan overload di rumah sakit.

“Lonjakan ini apakah karena arus mudik, silaturahmi lebaran. Perlu dipikirkan lagi apakah PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) Mikro ini sudah tepat atau perlu diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kembali,” ujarnya

Menkes: ‘Oksigen cukup’

Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengatakan keluhan IDI menandakan situasi yang sudah semakin serius karena penambahan kenaikan kasus positif yang melonjak tiap harinya.

“Pemerintah harus respon ini dengan serius karena ketika kita sudah mengalami kolaps secara serentak maka kita akan sulit menangani dan akan terjadi kematian yang sangat tinggi karena sudah sulit ditangani,” kata dia kepada BenarNews.

Ia mengatakan pemerintah harus segera memberlakukan pembatasan yang maksimal di lokasi yang sudah kolaps tersebut.

“Jika tidak maka akan kebobolan. Daerah tersebut akan menyimpan bom wabah yang siap meledak dan apabila sudah seperti itu akan sulit dihentikan dan perlu waktu,” kata dia.

Seemntara itu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyangkal adanya kekurangan oksigen di sejumlah rumah sakit.

“Oksigen yang ada cukup,” ujarnya.

Budi menjelaskan menipisnya stok oksigen di Jawa Tengah lantaran gangguan operasional pabrik oksigen di Kendal, Jawa Tengah.

“Kalau kemarin ada isu di Jawa Tengah kekurangan oksigen itu karena pabriknya berhenti memproduksi karena listrik padam sebentar. Mesinnya butuh waktu untuk hidup kembali,” kata dia.

Pihaknya, kata Budi, telah berkoordinasi dengan supplier oksigen untuk mengalihkan kapasitas oksigen industri ke oksigen medis. Produksi oksigen di Indonesia sebagian besar untuk oksigen industri dengan persentase 75 persen industri dan 25 persen untuk oksigen medis.

“Satu produsen lokal sudah bersedia memproduksi hampir 90 persen oksigen di rumah sakit sehingga kita punya ruang lebih cukup,” kata dia

Budi merinci Jawa sendiri  memiliki 4 pabrik oksigen di Jawa Barat, 1 di Jawa Tengah dan 4 di Jawa Timur. “Jika ada yang kekurangan segera lapor maka kami akan pasok dari daerah lainnya untuk memenuhinya,” kata dia.

Sementara untuk mengatasi kurangnya ruangan, pihaknya akan membangun tenda darurat di halaman rumah sakit yang bisa difungsikan sebagai tempat mendeteksi pasien sehingga ruang IGD bisa dimanfaatkan untuk ruang perawatan. (Sumber: benarnews.org)

Comment