by

Kondisi Data Kemiskinan Sulsel Terkini

Ilustrasi kemiskinan

Smartcitymakassar.com – Makassar. Bicara soal perkembangan terkini kondisi kemiskinan di Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya 5 tahun terakhir, ‘angka kemiskinan cenderung menurun’.

Walaupun diketahui sejak awal tahun 2020 ekonomi Indonesia termasuk Sulsel mengalami perlambatan akibat pandemi Covid-19.

‘FooterBanner’


Dilansir dari rilis terbaru BPS laporan bulanan Juni, Jumat (25/6/2021), hari ini, jika dibandingkan pada periode September 2015 (864.510 jiwa), maka pada September 2020 (800.240 jiwa) atau turun 64.270 jiwa.

Sementara persentase penduduk miskin di Sulsel pada periode yang sama, turun sebesar 1,13 persen.

Namun jondisi Kemiskinan September 2020 jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2020 mengalami peningkatan sebesar 23,41 ribu jiwa dan meningkat 40,66 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi September 2019.

Begitupun dengan persentase penduduk miskin pada September 2020 sebesar 8,99 persen atau mengalami peningkatan 0,27 poin dibandingkan kondisi Maret 2020 dan meningkat 0,43 poin dibandingkan dengan kondisi September 2019.

Terdapat perbedaan persentase penduduk miskin yang signifikan antara daerah perkotaan dan perdesaan. Persentase penduduk miskin di pedesaan lebih besar jika dibandingkan dengan perkotaan. Pada

September 2020, persentase penduduk miskin di pedesaan tercatat 12,25 persen sedangkan untuk perkotaan sebesar 4,92 persen.

Lebih lanjut, pada periode September 2019 – September 2020, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan meningkat. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami peningkatan 0,022 poin yaitu dari 1,628 (September 2019) menjadi 1,650 (September 2020). Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami peningkatan (P2) sebesar 0,023 poin yaitu dari 0,434 pada keadaan September 2019 menjadi 0,457 pada keadaan September 2020.

Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin jauh dari garis kemiskinan, dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin semakin melebar dibanding periode sebelumnya.

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi daripada daerah perkotaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan dan ketimpangan penduduk miskin di daerah perkotaan lebih baik dari pada daerah perdesaan.

Sebagai informasi, adapun tujuh Kab/kota di Sulsel yang terbesar jumlah penduduk miskinnya periode tahun 2018 hingga 2020, Bone, Makassar, Gowa, Jeneponto, Pangkep, Luwu dan Luwu Utara.

Selanjutnya, selama periode September 2019 – September 2020, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan meningkat sebesar 0,70 poin. Secara absolut terjadi peningkatan penduduk miskin sebanyak 32,69 ribu orang dari 162,39 ribu orang pada September 2019 menjadi 195,08 ribu orang pada September 2020.

Sementara itu di daerah perdesaan pada kurun waktu yang sama juga terjadi peningkatan persentase penduduk miskin di perdesaan sebesar 0,35 poin. Secara absolut jumlah penduduk miskin di perdesaan meningkat sebesar 7,97 ribu jiwa dari 597,19 ribu orang pada September 2019 menjadi 605,16 ribu orang pada September 2020.

5. Peningkatan jumlah dan persentase kemiskinan ditengarai merupakan dampak lanjutan pandemi Covid-19 yang menghantam perekonomian dan menurunkan daya beli masyarakat.

6. Terdapat perbedaan persentase penduduk miskin yang signifikan antara daerah perkotaan dan perdesaan. Persentase penduduk miskin di pedesaan lebih besar jika dibandingkan dengan perkotaan. Pada September 2020, persentase penduduk miskin di pedesaan tercatat 12,25 persen sedangkan untuk perkotaan sebesar 4,92 persen.

7. Perkembangan kemiskinan di Sulawesi Selatan dari September 2015 sampai September 2020 cukup berfluktuasi. Sempat mengalami kenaikan tipis pada September 2017, kemiskinan cenderung melandai hingga September 2019 dan mulai meningkat kembali di Maret 2020 hingga September 2020.

8. Penentuan penduduk miskin didahului oleh penentuan Garis Kemiskinan (GK) sebagai besaran nilai pengeluaran yang dibutuhkan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. Terdapat dua komponen untuk menghitung Garis Kemiskinan (GK) yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Selanjutnya penduduk miskin ditentukan berdasarkan posisi rata-rata pengeluaran per kapita per bulan terhadap Garis Kemiskinan. Penduduk dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan (GK) tergolong penduduk miskin.

BACA JUGA:  Pakar Tegaskan Saat Ini Masyarakat Lagi Stres, Pemerintah Jangan Mengedepankan Formalitas

9. Selama September 2019 – September 2020 Garis Kemiskinan mengalami kenaikan, yaitu dari Rp. 341.555.- per kapita per bulan menjadi Rp. 362.031.- per kapita per bulan atau meningkat sebesar 5,99 persen.

10. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis

Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan. sandang. pendidikan dan kesehatan). Pada bulan September 2019 sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75,19 persen dan pada bulan September 2020 peranannya sedikit menurun menjadi 74,91 persen.

11. Peranan GKM terhadap GK untuk daerah perkotaan pada bulan September 2019 sebesar 70,78 persen kemudian turun menjadi 70,62 persen pada bulan September 2020. Sementara untuk daerah perdesaan pada bulan September 2020 sebesar 78,58 persen, mengalami penurunan sebesar 0,13 poin persen dari bulan September 2019 yang sebesar 78,71.

12. Pada bulan September 2019 untuk daerah perkotaan, sumbangan GKNM terhadap GK sebesar 29,22 persen, sedangkan pada bulan September 2020 yaitu 29,38 persen. Hal yang sama juga terjadi pada daerah perdesaan, pada bulan September 2019 peranannya sebesar 21,29 persen menurun menjadi 21,42 persen pada bulan September 2020.

13. Komoditi makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras yang menyumbang sebesar 23,90 persen di perdesaan dan 17,87 persen di perkotaan terhadap GK.

14. Barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah: rokok kretek filter (12,86 persen di perkotan dan 14,02 persen di perdesaan), bandeng (4,23 persen di perkotaan dan 3,71 persen di perdesaan), telur ayam ras (3,58 persen di perkotaan dan 2,66 persen di perdesaan), kue basah (2,77 persen di perkotaan dan 2,71 persen di perdesaan), gula pasir (2,25 persen di perkotaan dan 3,07 persen di perdesaan), mie instan (2,06 persen di perkotaan), dan kopi bubuk dan kopi instan (2,09 persen di perdesaan).

15. Komoditi bukan makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah pengeluaran perumahan. Pada bulan September 2020, sumbangan pengeluaran perumahan terhadap GK sebesar 7,01 persen di perdesaan dan 8,91 persen di perkotaan.

16. Selain perumahan, barang-barang kebutuhan non makanan lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan diantaranya adalah bensin (4,75 persen di perkotaan dan 3,53 persen di perdesaan), pendidikan (2,37 persen di perkotaan dan 0,93 persen di perdesaan), listrik (2,02 persen di perkotaan dan 1,79 persen di perdesaan), air (1,92 persen di perkotaan) dan perlengkapan mandi (0,92 persen di perdesaan).

17. Pada periode September 2019 – September 2020, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan meningkat, begitupun dengan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami peningkatan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami peningkatan 0,022 poin yaitu dari 1,628 (September 2019) menjadi 1,650 (September 2020).

18. Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami peningkatan sebesar 0,023 poin yaitu dari 0,434 pada keadaan September 2019 menjadi 0,457 pada keadaan September 2020.

19. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin jauh dari garis kemiskinan, dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin semakin melebar dibanding periode sebelumnya.

20. Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di

daerah perdesaan jauh lebih tinggi daripada daerah perkotaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan dan ketimpangan penduduk miskin di daerah perkotaan lebih baik dari pada daerah perdesaan. (Ip)

Comment