by

Berkas Nurdin Abdullah dan Edy Rahmat Sudah Lengkap

Nurdin Abdullah

Smartcitymakassar.com – Makassar. Sidang bagi para tersangka kasus dugaan suap perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sulsel Tahun Anggaran 2020-2021, akan segera dilaksanakan.

Diketahui sebelumnya tersangka KPK, Agung Sucipto alias Anggu (kontraktor) lebih dulu telah menjalani beberapa sidang di Pengadilan Tipikor Makassar.

‘FooterBanner’


Sementara kedua tersangka lainnya, oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melaksanakan tahap II dengan menyerahkan berkas perkara Gubernur nonaktif Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah (NA) dan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) nonaktif Provinsi Sulsel Edy Rahmat, beserta semua barang buktinya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kamis (24/6/2021).

“Setelah dilakukan pemeriksaan kelengkapan berkas perkara untuk tersangka NA (Nurdin Abdullah) dan tersangka ER (Edy Rahmat) oleh tim JPU dan dinyatakan lengkap, hari ini dilaksanakan tahap II (penyerahan tersangka dan barang bukti) dari tim penyidik kepada tim JPU,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangan tertulis, Kamis (24/6/2021) kemarin.

Ali mengatakan, penahanan keduanya dilanjutkan oleh Tim JPU masing-masing selama 20 hari dimulai 24 Juni 2021 sampai dengan 13 Juli 2021. Adapun NA ditahan di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur dan Edy Rahmat ditahan di Rutan KPK Kavling C1.

BACA JUGA:  Ada 15 Kab/Kota di Sulsel Level 3, Ini Ketentuan Inmendagri Nomor 26

“Dalam waktu 14 hari kerja, tim JPU menyusun surat dakwaan dan segera melimpahkan berkas perkara ke Pengadilan Tipikor untuk diperiksa, diadili dan diputus oleh majelis hakim,” tegas Ali.

Sementara itu, pemberi suap dalam kasus ini yakni Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto saat ini sudah berstatus terdakwa dan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Makassar.

Sebagai informasi, dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK dalam persidangan Agung sucipto, mengungkap peran Agung sebagai pemberi suap kepada NA. Bahkan terdakwa Agung sudah dua kali memberikan uang kepada NA sejak awal 2019 hingga awal Februari 2021.

Adapun jumlah dana suap yang diterima, pertama dengan nilai 150.000 dollar Singapura diberikan di Rumah Jabatan Gubernur Jalan Sungai Tangka awal tahun 2019. Kemudian dana kedua, saat operasi tangkap tangan tim KPK senilai Rp 2 miliar pada awal Februari 2021.

Dana tersebut diduga sebagai uang pelicin dalam hal pemenangan tender hingga pengerjaan proyek pembangunan infrastruktur di lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel pada beberapa kabupaten. (Ip)

Comment