by

Soal Electoral College dan Peluang Presiden dari Luar Pulau Jawa Tebuka Lebar

Ilustrasi kursi kepresidenan

Smartcitymakassar.com – Makassar. Terkait soal Pilpres di Indonesia, banyak masyarakat berpendapat dan menjadi perbincangan bahwa jangan harap orang dari luar Jawa akan bisa menjadi Presiden RI. Hal ini disebabkan karena Data Pemilih Tetap (DPT) di Pulau Jawa berjumlah 110.686.810 orang dari total 192.866.254 orang pemilih. Atau 57,29 persen pemilih di Indonesia ada di Pulau Jawa.

Adapun jumlah ini tersebar di enam provinsi dengan rincian DKI Jakarta 7.761.598, Jawa Barat 33.270.845, Jawa Tengah 27.896.902, Daerah Istimewa Yogyakarta 2.731.874, Jawa Timur 30.912.994 dan Banten 8.112.477. Jawa Barat adalah provinsi dengan DPT tertinggi se-Indonesia.

‘FooterBanner’


Terakhir Pilpres 2019, bahkan pendapat bahwa seandainya menggunakan sistem Electoral College seperti di Amerika maka Prabowo-Sandi menang dari Jokowi-Ma’ruf. Jika berdasarkan hasil KPU, benarkah pendapat ini ?

Dari berbagai sumber, akan dicoba mengurai tentang hal ini.

Apa itu Electoral College?

Penyelenggaraan Pemilu di AS memakai sistem electoral college. Rakyat AS tidak memilih langsung presiden mereka berdasarkan “one person, one vote, one value (OPOVOV), tetapi memilih elector yang akan mewakili suara rakyat untuk memilih presiden. Para elector ini adalah orang-orang dari partai pengusung capres atau mereka yang terafiliasi dengan capres. Setiap negara bagian di AS memiliki jumlah elector yang berbeda, tergantung jumlah kursi House of Representatives dan Senat. Penentuan jumlah kursi itu ditetapkan dari proporsi populasi penduduk di tiap negara bagian. Di negara bagian California yang memiliki sekitar 33 juta penduduk, elector-nya berjumlah 54. Artinya, setiap elector mewakili 614.000 penduduk.

Di AS, yang memiliki 50 negara bagian, total ada 538 electoral college, sesuai dengan 435 kursi House of Representatives ditambah 100 kursi Senat, plus tiga jatah elector di ibukota Washington D.C. Setelah mengantongi capres pilihan rakyat, para elector berkumpul di ibukota negara bagian untuk memilih capres. Untuk bisa melenggang menang ke Gedung Putih, capres setidaknya harus meraup minimal 270 electoral vote.

Electoral vote mengikuti model winner-takes-all di 48 negara bagian. Artinya, capres yang menerima electoral vote terbanyak otomatis mendapatkan semua suara electoral vote di negara bagian tersebut. Jika di negara bagian Pennsylvania, yang memiliki jatah 20 electoral college, capres A berhasil memenangkan 51 persen popular vote dan kandidat B hanya 49 persen. Kendati kandidat A menang tipis, ia sudah bisa menyapu bersih kuota 20 electoral college di Pennsylvania. Dua negara bagian yang dikecualikan dalam winner-takes-all adalah Nebraska dan Maine karena electoral vote dialokasikan berdasarkan proporsi kandidat dari popular vote di negara bagian tersebut.

Jika Electoral College Pada Pilpres 2019 Indonesia

Jika Electoral College Pada Pilpres 2019, dengan 34 provinsi dan memakai jumlah kursi DPR dan DPD pada Pemilu Legislatif 2019, maka total ada 711 electoral college. Rinciannya: 575 kursi DPR dan 136 kursi DPD. Kursi electoral paling gemuk diduduki oleh Jawa Barat yang mencapai 95, diikuti Jawa Timur 91, Jawa Tengah 81, Sumatra Utara 34, Sulawesi Selatan 28, Banten 26, DKI Jakarta 25, Lampung 24 dan seterusnya sampai minimal terdapat tujuh elector di beberapa provinsi.

BACA JUGA:  Pakar Tegaskan Saat Ini Masyarakat Lagi Stres, Pemerintah Jangan Mengedepankan Formalitas

Dengan model winner-takes-all, mari hitung siapa pemenangnya berdasarkan hasil KPU, dimana Prabowo-Sandi menang di 13 provinsi, sehingga total ia meraup 273 electoral vote. Sementara Jokowi-Ma’ruf yang unggul di 21 provinsi berhasil mengumpulkan 441 electoral vote.

Artinya meskipun pada pilpres 2019 menggunakan sistem electoral vote, maka Jokow-Ma’ruf tetap unggul.

Perlu dicatat bahwa skenario di atas bisa saja berubah karena satu dan lain hal. Penentuan jumlah anggota DPR dan DPD di Indonesia kerap berubah pada Pemilu Legislatif.

Peluang electoral vote Bagi Calon Presiden dari Luar Jawa

Namun, jika dibandingkan dengan sistem pemilu saat ini di Indonesia, setidaknya electoral vote kemungkinan mempunyai peluang lebih besar untuk melahirkan Preisden yang berasal dari luar Pulau Jawa.

Hal ini berdasarkan jika melihat electoral vote pada khusus pulau jawa dimana 95 (Jawa Barat), 91 (Jawa Timur) dan 81 (Jawa Tengah) dengan total 267 dari 711.

Artinya tersisa 444 electoral vote yang bisa diperebutkan untuk melahirkan Presiden dari luar Jawa.

Kritik terhadap Sistem Electoral College

Para kritikus menyebut electoral college yang tertuang dalam Konvensi Konstitusi 1787 adalah tindakan anti-demokratis. Pilpres AS justru memenangkan orang-orang yang sebenarnya kalah di pemilihan langsung.

Pengajar Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada (UGM) Nur Rachmat Yuliantoro dalam penelitiannya yang berjudul “Pemilihan Presiden Amerika Serikat dan Hikmahnya Bagi Indonesia” (2000, PDF) menjabarkan bahwa selama 200 tahun terakhir, tercatat ada 700 proposal yang dikirim ke Kongres AS untuk memperbaiki bahkan menghapus sistem electoral college.

Sistem ini juga dinilai tidak merepresentasikan kehendak rakyat di tingkat nasional. Distribusi electoral vote dianggap lebih mewakili di negara bagian yang berpenduduk banyak. Jumlah elector ditentukan oleh jumlah anggota Kongres dan Senat di negara bagian masing-masing.

Sistem winner-takes-all juga membuat sistem ini dinilai terlalu memaksakan sistem dua partai, Demokrat dan Republikan, sehingga menciutkan nyali partai lain atau kandidat independen.

Bagi para pendukung electoral college, sistem ini dinilai dapat menjaga stabilitas politik karena membantu memelihara sistem dua partai. Dalam sistem pemerintahan federal, electoral college juga dianggap mampu menyeimbangkan hubungan antara pemerintah pusat dan negara bagian karena sistem tersebut ditujukan untuk mewakili pilihan setiap negara bagian atas lembaga kepresidenan. (Ip)

Comment