by

Sidang Terbaru Agung Sucipto, Ajudan Ungkap Perintah NA

Nurdin Abdullah

Smartcitymakassar.com – Makassar. Hari ini, Kamis (3/6/2021) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Makassar, sidang lanjutan terdakwa Agung Sucipto selaku penyuap Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah (NA) kembali digelar. Sidang sebelumnya diketahui pada Kamis (27/5/2021) yang juga bertempat di Ruang Sidang Utama, Prof Harifin A Tumpa, Pengadilan Negeri (PN) Makassar.

Pada sidang hari ini, diagendakan mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum KPK. Adapun saksi ada lima yakni Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, Kepala Dinas PU Pemerintah Provinsi Sulsel, Rudy Djamaluddin, mantan Kabid Bina Marga Dinas PUTR Edy Jaya Putra, mantan Adc Gubernur Sulsel nonaktif Muhammad Salman Natsir dan Syamsul Bahri.

‘FooterBanner’


Adapun sidang dipimpin oleh Hakin Ketua Ibrahim Palino, didampingi dua Hakim Anggota, yaitu M. Yusuf Karim, dan Arif Agus Nindito.

Pada kesaksian Salman, ia mengaku pernah diperintahkan oleh Nurdin Abdullah untuk menerima uang melalui mantan Kepala Biro Barang dan Jasa, Sari Pudjiastuti.

Salman mengutarakan, saat itu dihubungi NA sekitar jam 7 pagi hari Minggu untuk ke rumah pribadi NA di Perdos Unhas, Makassar. Setiba disana, ia diperintahkan untuk bertemu dengan Sari Pudjiastuti.

“Saya diperintahkan untuk ketemu Bu Sari, pesannya untuk ambil titipan,” ujar Salman yang juga merupakan anggota Polisi.

“Bu Sari saya jemput lalu minta diantar. Ternyata tujuannya ke apartemen Vida View,” sambung Salman.

Menurut Salman, sesampai di Vida View mereka menunggu di parkiran. Tidak lama kemudian ada mobil hitam datang dan memindahkan koper ke mobil.

“Yang pindahkan uangnya saya tidak kenal, tapi bukan Agung Sucipto yang serahkan. Kopernya warna kuning,” jelas Salman.

Salman mengaku tak tahu isi koper tersebut saat itu. Ia kemudian menanyakan ke Sari dan dijawab uang. Setelahnya, Salman kemudian kembali mengantar Sari ke hotel The Rinra. Sementara uang yang dikoper dibawa ke Bank Mandiri Panakkukang dan bertemu dengan Pak Ardi.

“Saya yang bawa turun dari mobil dan serahkan ke Pak Ardi. Setahu saya dia Kepala Cabang Bank Mandiri,” ujarnya.

Salman kemudian menyampaikan pesan Nurdin Abdullah ke Ardi. Ia ingin ada uang baru sebanyak Rp 800 juta. Namun uang baru yang tersedia saat itu hanya Rp 400 juta. Uang yang ada di koper saat itu juga ternyata kurang Rp 1,6 juta.

“Setelah itu Pak Ardi siapkan hanya Rp 400 juta saja. Terus dia kembali, Pak Ardi bilang ada kurang uang Rp 1,6 juta yang di koper,” jelas Salman.

BACA JUGA:  Edy Rahmat Ungkap Uang yang di OTT KPK Atas Permintaan NA dan untun Keperluan Ini

Kekurangan uang kemudian disampaikan Salman ke Sari Pudjiastuti. Sari meminta agar bisa ditutupi dulu agar cukup Rp 1 miliar.

“Saya kemudian ke ATM dulu untuk tutupi kurangnya dan serahkan ke Pak Ardi,” tambahnya.

Uang baru yang Rp 400 juta itu kemudian dibawa Salman ke rumah jabatan. Ia menaruhnya di atas meja kerja NA. Namun, NA memerintahkan lagi agar uang Rp 400 juta lagi diambil di bank. Posisi NA saat itu masih di kediamannya.

“Pak Nurdin saat itu masih di kediamannya, jadi saya simpan di meja beliau. Saya kembali ke Perdos untuk laporkan dan disuruh ambil lagi (Rp 400 juta-red), saya ketemu Pak Ardi lagi untuk ambil sisanya,” kata Salman.

Uang itu hanya ditaruh di kantong plastik. Kemudian dibawa lagi ke rujab dan diserahkan ke Nurdin Abdullah di ruangan kerjanya.

Setelahnya, Salman tidak tahu lagi uang itu untuk apa.

“Saya dapat Rp 10 juta dari Bu Sari setelah digantikan Rp 1,6 juta. Saya bilang ini lebih dan dia bilang tidak apa-apa,” ujar Salman.

Sebelumnya, pada sidang Kamis 27 Mei 2021 lalu, Sari menjelaskan NA selalu memilih kontraktor yang bisa memberinya uang tunai untuk operasional.

Apa yang diungkap Salman sebelumnya juga telah diungkap Sari pada persidangan sebelumnya. Bahkan Sari menyebut kontrakator pemilik uang yang diserahkn di vida viuw adalah H. Momo. Adapun uang Rp 1 Miliar tersebut menurut Sari diserahkan orang kepercayaan Haji Momo di sebuah penginapan samping RS Awal Bros.

“Setelah diserahkan ke saya, saya simpan di rumah kemenakan, saya pindahkan tempat ke koper. Setelah itu ajudan pak NA, bernama Pak Salman mengambil uang tersebut di depan Apartemen Vida View,” jelas Sari pada persidangan 27 Mei lalu.

Sebelumnya Sari juga menceritakan jika NA membutuhkan biaya operasional.

“Dia (NA-red) mengatakan, jika ia memerlukan biaya oprasional Rp 1 miliar, dan dia bertanya siapa yang bisa membantu. Setelah itu saya menyampaikan jika itu tergantung beliau, dan pak NA memilih Haji Momo,” jelas Sari.

Sebagai informasi, Ardi telah diperiksa KPK sebagai saksi pada 23 Maret lalu. (Ip)

Comment