by

Misi Pengangkatan KRI Nanggala Dihentikan, Ini Alasannya

Dalam foto tertanggal 30 April 2021 ini, seorang tentara angkatan laut melempar karangan bunga dalam acara penghormatan kepada jenazah 53 awak kapal KRI Nanggala-402 yang gugur bersama tenggelamnya kapal selam itu di perairan Bali. Pada 2 Juni 2021, TNI AL menyatakan, setelah sebulan lebih, upaya pengangkatan bangkai kapal tersebut dan pencarian jenazah awaknya secara resmi dihentikan. AFP

Smartcitymakassar.com – Upaya penyelamatan bangkai kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali resmi dihentikan pada Rabu (2/6), satu bulan setelah dimulainya misi yang melibatkan tiga kapal pemerintah Cina, dengan alasan bahwa upaya dan risiko pengangkatan kapal tersebut terlalu sulit, demikian pernyataan TNI Angkatan Laut.

“Semua operasi salvage telah dihentikan. Tiga kapal AL Cina juga sudah meninggalkan perairan Bali,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Julius Widjojono kepada BenarNews.

‘FooterBanner’


Julius mengatakan faktor lokasi karam yang curam dan dalam serta potensi tinggi terjadinya gelombang bawah laut yang besar menjadi alasan penghentian misi pencarian ini. 

“Tingkat risiko serta kesulitannya sangat tinggi,” katanya. 

Dalam operasi pengangkatan KRI Nanggala-402, tim telah melakukan penyelaman selama 20 kali dan berhasil mengangkat sejumlah material penting, sebut TNI AL. Julius tidak memaparkan lebih jauh material penting apa yang dimaksud. 

Nanggala-402 tenggelam di perairan utara Bali saat melakukan latihan penembakan torpedo pada 21 April 2021. 

Upaya untuk menyelamatkan ke-53 awaknya pupus ketika tiga hari kemudian TNI mengubah status kapal tersebut dari hilang menjadi tenggelam.

Hingga dinyatakannya upaya pengangkatan bangkai kapal resmi dihentikan pada hari ini, tidak satu pun jenazah dari awak kapal Nanggala tersebut berhasil ditemukan.

Pemerintah Cina pada awal Mei mengirimkan tiga kapal angkatan Lautnya (People Liberation Army Navy/PLAN) untuk membantu mengangkat potongan Nanggala-402 yang terbelah menjadi tiga bagian usai karam di kedalaman 838 meter.

Ketiga kapal tersebut yakni PRC Navy Ship Ocean Tug Nantuo-195, Xing Dao-863, dan Scientific Salvage Tan Suo 2, dengan dua di antaranya disebut memiliki kemampuan evakuasi hingga kedalaman 4.500 meter dan mengangkat beban hingga 2.000 ton. 

KRI Nanggala-402 memiliki bobot 1.395 ton dan panjang 59,5 meter.

Pada 18 Mei, salah satu kapal Cina berhasil mengangkat dua perahu karet (life raft)dari Nanggala-402 dengan bobot masing-masing sekitar 700 kilogram ke permukaan dengan menggunakan tali yang dikaitkan oleh robot.

Atase Pertahanan Cina untuk Indonesia Senior Kolonel Chen Yongjing menyampaikan dalam operasi pengangkatan selama sebulan terakhir, pasukan AL Cina berupaya mengumpulkan sebanyak-banyaknya dokumentasi berupa foto dan video. 

Pasukan juga berhasil mengangkat bagian dari Nanggala-402 yang seluruhnya telah diserahkan kepada pihak Indonesia. 

BACA JUGA:  DPR Sebut Kampung Tangguh Narkoba Ide Cerdas Kapolri Sebagai Pertahanan Peredaran Gelap Narkoba

“Ini merupakan salah satu bukti nyata kegiatan penyelamatan kemanusiaan yang dilakukan bersama TNI AL,” kata Chen, melalui keterangan tertulis yang dibagikan Dinas Penerangan TNI AL terkait rapat koordinasi pengakhiran operasi salvage, Rabu. 

“Kegiatan ini memiliki makna yang sangat besar pada perkembangan hubungan kemitraan strategis komprehensif TNI AL dan tradisi kedua negara yaitu berat dipikul berat sama dijinjing serta juga bermakna besar dalam kerja sama maupun saling percaya antara kedua militer,” sambung Chen. 

Sebelum karam, KRI Nanggala-402 diperkirakan telah melakukan penyelaman hingga sekitar 13 meter kemudian tergulung gelombang besar atau internal wave hingga terperosok ke kedalaman 838 meter, menujrut pejabat TNI AL. 

Dasar Laut Bali dicirikan oleh lereng yang curam dengan kedalaman maksimum 1.590 meter.

Asisten Perencanaan KSAL Laksamana Muda Muhammad Ali pada bulan lalu mengatakan pengangkatan dengan mengaitkan pengikat dari bangkai KRI Nanggala ke kapal pengangkat menjadi salah satu metode yang paling mungkin dilakukan. 

Namun proses tersebut membutuhkan kemampuan penyelaman yang handal baik dilakukan oleh penyelam manusia maupun robot, kata Ali. 

Nanggala-402 dibuat oleh perusahaan Jerman, Howaldtswerke-Deutsche Werft pada tahun 1977 dan mulai digunakan oleh TNI AL pada 1981. Pada periode 2009 ke 2012, KRI Nanggala menjalani pemeliharaan menyeluruh di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering di Korea Selatan.

Ketika dinyatakan hilang, pencarian KRI Nanggala-402 turut dibantu armada dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Australia yang mengirimkan kapal mereka serta Amerika Serikat yang mengirimkan pesawat pengintai maritimnya, P-8 Poseidon.

Sepuluh kapal selam

Pada awal Mei, Komisi I DPR RI mengungkapkan rencana strategis pengadaan delapan hingga sepuluh kapal selam untuk TNI Angkatan Laut (AL) hingga 2029, menyusul tragedi tenggelamnya KRI Nanggala 402.

Juru bicara TNI AL Julius Widjojono membenarkan adanya rencana penambahan kapal selam, namun menyatakan keputusan akhir berada di Kementerian Pertahanan. 

“Kami sudah ajukan kebutuhannya, minimal 12 kapal selam. Tapi keputusan ada di pihak atas, mau diberikan apa, seperti apa, kami siap melaksanakannya,” kata Julius. 

Julius mengatakan kebutuhan penambahan kapal selam dilakukan untuk menyeimbangkan kekuatan militer Indonesia dengan negara-negara tetangga.  

“Coba bandingkan dengan Singapura, negara kecil tersebut punya berapa? Kita sebagai negara kepulauan terbesar pernah hanya memiliki dua. Itu alasannya,” kata Julius, seraya menambahkan, “kita perlu keseimbangan kekuatan, geostrategi, negara kawasan seperti apa.”

Indonesia telah bekerja sama dengan Korea Selatan dalam pembuatan kapal selam dalam beberapa tahun terakhir dan tengah mengupayakan kerja sama teknis dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering.

Dengan tenggelamnya Nanggala-402, saat ini Indonesia hanya memiliki empat kapal selam tersisa. Tiga di antara kapal selam yang tersisa, KRI Aluguro-405, Ardadedali-404 dan Nagapasa-403, adalah buatan Korea Selatan.

Sementara KRI Cakra-401 berasal dari pabrikan yang sama dengan Nanggala-402. (Sumber: benarnews.org)

‘PostBanner’

Comment