by

Kelompok Tak Dikenal Serang Kantor Polisi di Papua, 1 Petugas Tewas

Dalam foto tertanggal 26 April 2021 ini iring-iringan mobil yang mengangkut jenazah Jenderal I Gusti Putu Danny Nugraha Karya, kepala badan intelijen Papua, yang meninggal dalam baku tembak antara polisi dan pemberontak separatis di provinsi itu, tiba di Jakarta untuk upacara pemakamannya. AFP

Smartcitymakassar.com – Sekelompok orang tidak dikenal menyerang markas pos polisi di sebuah distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, Jumat (28/5) dini hari, menewaskan seorang petugas dan merampas tiga senjata api, demikian keterangan Polda Papua.

Juru Bicara Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan korban adalah Kepala Subsektor Oksamal Briptu Mario Sanoy (29) yang tengah melakukan penjagaan malam bersama masyarakat setempat saat sekitar enam orang melakukan penyerangan secara tiba-tiba. 

‘FooterBanner’


“Pukul 01.30 WIT masyarakat melihat ada kurang lebih enam orang tak dikenal mendatangi Polsubsektor Oksamal,” kata Kamal melalui pernyataan tertulis kepada BenarNews, Jumat. 

“Pukul 06.00 WIT anggota linmas mendatangi Polsubsektor dan melihat dari kaca jendela Briptu Mario Sanoy tergeletak di lantai dalam keadaan berlumur darah.” 

Kamal mengatakan personel dari Polres Pegunungan Bintang akan menuju tempat kejadian perkara (TKP) dengan menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban. 

Jarak tempuh dari Distrik Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang menuju Distrik Oksamal bila menggunakan jalur darat dapat memakan waktu hingga satu pekan, sementara dengan helikopter bisa ditempuh dalam 30 menit, sebut kepolisian. 

Aparat belum mengkonfirmasi apakah kelompok separatis berada di balik penyerangan tersebut. “Saat ini masih berkoordinasi dengan TNI untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku,” kata Kamal. 

Juru bicara salah satu sayap kelompok pemberontak Papua, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Sebby Sambom, tidak bisa dihubungi untuk dimintai komentar. 

Dalam bentrok terakhir antara aparat keamanan dengan kelompok separatis, Prada Ardi Yudi Ardianto (21) dan Praka Alifnur Angkotasan (28) tewas diserang pada 18 Mei dengan senjata tajam saat melakukan pengamanan di Kabupaten Yahukimo, sebut juru bicara Kogabwilhan III Kol I Gusti Nyoman Suriastawa. 

Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan yang diklaim mereka sebagai aksi balas dendam tindakan pasukan gabungan TNI dan Polri yang menyerang pemukiman warga di Kabupaten Puncak, hal yang dibantah oleh aparat keamanan. 

Jakarta semakin meningkatkan operasi keamanan di provinsi paling timur Indonesia itu setelah Kepala Badan Intelejen Negara Daerah (Kabinda) Papua, I Gusti Putu Danny Nugraha Karya, tewas ditembak kelompok separatis bulan lalu saat ia dan aparat melakukan pemantauan keamanan di Kabupaten Puncak yang sedang bergejolak dengan tewasnya empat masyarakat sipil beberapa minggu sebelumnya.

Pada Kamis, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Purnomo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto kembali mengunjungi Papua untuk kedua kalinya dalam sebulan terakhir, untuk berdialog dengan pejabat daerah dan tokoh adat setempat sebagai upaya meredam konflik di sana. 

Hadi mengatakan pemerintah bakal berupaya maksimal untuk menyelesaikan setiap permasalahan dengan baik, juga melanjutkan pembangunan salah satunya untuk mendukung agenda Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 yang akan digelar di Papua pada 2-15 Oktober tahun ini. 

BACA JUGA:  Terungkap, Edy dan Anggu Disadap KPK 16 Kali

“Semua itu akan dapat terwujud dengan adanya stabilitas keamanan yang kondusif melalui partisipasi aktif semua pihak,” kata Hadi.

Satgas Nemangkawi diperpanjang

Pada Jumat, kepolisian kembali memperpanjang masa tugas pasukan gabungan TNI/Polri dalam operasi Nemangkawi di Papua yang akan habis pada bulan ini.

“Masih akan diperpanjang rencananya enam bulan sampai Desember 2021,” kata Asisten Operasi Kepala Kepolisian Inspektur Jenderal Imam Sugianto melalui pesan singkat. 

Operasi Nemangkawi telah diperpanjang sebanyak enam kali sejak pertama dibentuk pada akhir 2017. 

Pada April 2021, Kapolri Sigit mengatakan Satgas Nemangkawi ditugaskan untuk menjaga keamanan di Papua dengan mengedepankan pendekatan persuasif melalui perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat. 

“Saya yakin rekan-rekan Satgas Operasi Nemangkawi mampu memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat Papua bahwa kita semua cinta Papua,” kata Sigit. 

Empat wilayah rawan

Dalam rapat dengan DPR RI, Kamis (27/5), Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono mengatakan pihaknya telah memetakan empat kabupaten di Papua yang dianggap rawan aksi kekerasan oleh kelompok pemberontak. 

Keempat kabupaten tersebut adalah Intan Jaya, Mimika, Puncak dan Nduga. 

Di Intan Jaya, kepolisian menyebut ada tiga kelompok pemberontak yang antara lain kelompok Sabinus Waker, kelompok Undius Kogoya, dan kelompok Lewis Kogoya. 

Di Kabupaten Puncak, terdapat lima kelompok yang dipimpin oleh Goliath Tabuni, Lekagak Telenggen, Peni Murib dan Ando Waker. 

Sementara di Mimika terdapat satu kelompok pimpinan Joni Botak dan satu kelompok lain di Nduga yang dipimpin Egianus Kogoya. 

Kepolisian mengklaim sepanjang 2021 terdapat sedikitnya 26 kasus penyerangan, penembakan dan kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok separatis di empat kabupaten tersebut. 

“Dari kejadian itu, korban meninggal ada 14 orang, termasuk di dalamnya Kabinda, satu anggota Polri dan enam anggota TNI dan enam warga sipil,” kata Gatot. 

Dalam periode waktu yang sama, satgas telah menindak 31 orang dari kelompok separatis dengan 22 di antaranya meninggal dunia. “Selain itu ada juga 24 KKB yang menyerahkan diri,” kata Gatot merujuk kelompok kriminal bersenjata. 

Desakan pembebasan aktivis

Aliansi kelompok masyarakat sipil mendesak kepolisian untuk segera membebaskan Juru Bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Victor Yeimo yang ditangkap di Jayapura pada 9 Mei 2021 atas tuduhan melakukan penghasutan yang memicu kerusuhan di berbagai lokasi di Papua buntut insiden dugaan rasisme pada Agustus 2019. 

“Pasca-kejadian itu, banyak aktivis, termasuk Victor, yang terpaksa bersembunyi karena polisi dan militer melakukan operasi penyisiran untuk memburu apa yang disebut mereka sebagai ‘separatis’ dan ‘provokator’”, tulis pernyataan bersama aliansi. 

Mereka menegaskan bahwa “aktivisme bukanlah terorisme.”

Sedikitnya 40 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam kerusuhan di Papua dan Papua Barat pada Agustus – September 2019 yang dipicu oleh perlakuan rasis dari aparat dan sejumlah ormas lokal terhadap mahasiswa Papua di asrama mereka di Surabaya pada 17 Agustus tahun itu.

Tahun lalu, sedikitnya 13 aktivis dan pelajar Papua dihukum karena menaikkan Bintang Kejora, bendera kelompok separatis, dalam unjuk rasa pada 2019 menuntut referendum sebagai protes secara nasional atas perlakuan rasis yang diterima warga Papua. Mereka dihukum antara sembilan hingga 11 bulan penjara dengan dakwaan makar. (Sumber: benarnews.org)

‘PostBanner’

Comment