by

Miliki Kekayaan Budaya, Ini Baju Tradisional Rampi Luwu Utara

Foto: Baju Tradisional Rampi /Idaryani Nurningsih

Smartcitymakassar.com – Seko dan Rampi merupakan dua kecamatan yang berada di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel) yang merupakan kecamatan yang terjauh dan terluas di Kabupaten Luwu Utara. Seko dan Rampi merupakan daerah yang dianugrahi alam yang indah dan kekayaan cagar budaya yang telah ada sejak masa ribuan tahun yang lampau yang menarik untuk diteliti dan dikunjungi.

Dilansir dari resensi buku ‘Rumah Peradaban Seko dan Rampi’ yang diterbitkan Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, asal mula nama Seko itu sendiri berasal dari perkataan Datu Luwu yang berasal dari kata Seko yang memiliki arti diatas (gunung), nama ini diambil berdasarkan letak daerah yang memang berada di atas gunung. Dalam buku ini juga diceritakan konteks keberadaan jejak arkeologis di Seko, terdapat beberapa penting yaitu adanya I’song (lesung) besar yang dipastikan sebagai kalamba yang merupakan temuan kalamba satu-satunya yang pernah ditemukan di wilayah Sulawesi Selatan yang berupa bongkahan batu benbentuk lingkaran dengan ukuran yang cukup besar dimana di dalamnya berlubang terlihat seperti lesung raksasa. Kemudian temuan dua buah batu bergores (Hatu Rondo dan Batu Sura) yaitu sebuah bongkahan batu berukir dengan ukuran yang bervariasi. Selain itu, temuan situs kubur yang menyerupai kuburan yang ada di Toraja yang juga merupakan temuan yang langka di wilayah Sulawesi Selatan.

‘FooterBanner’


Sedangkan puncak perkembangan sejarah kebudayaan Rampi tampaknya berada pada masa pendirian bangunan Megalitik dan pemujaan arwah leluhur. Hal ini ditemukannya sebaran peninggalan budaya megalitik di sepanjang wilayah budaya rampi yang langka ditemukan di Sulawesi Selatan yaitu di Situs Timo’ Oni, Situs Kontara, dan Situs Watu Urani. Situs Timo’ Oni terletak di lembah perbukitan Bola (Biri’ Bola) wilayah tanah adat Tokoi Onondowa, Kecamatan Rampi. Disitus ini terdapat dua arca megalitik yang terbuat dari batu andesit, namun memiliki ukuran yang berbeda yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai perwujudan dari sepasang suami istri. Adapun Situs Kontra terletak di tepi sebelah kanan proses jalan kecamatan dari Desa Onondowa ke arah Barat Laut tepatnya di Dusun Pongtara, Desa Dodolo, Kecamatan Rampi. Situs ini terdapat arca megalitik telah mengalami keausan yang sangat tinggi, namun bentuk artifisial berupa pahatan dan bentuk rupa manusia masih dapat diamati dengan jelas. Situs di Rampi yang juga memiliki tinggalan arca megalitik yaitu Situs Watu Urani yang terletak di Dusun Lumbu Rampi, Desa Rampi. Di situs ini sebauh arca megalitik dan sebuah batu menhir yang berdiri berdampingan diatas punggung bukit yang bernama Biri’ Reue’ yang di yakini sebagai perwujudan dari pasangan suami istri yang terkait dengan sejarah asal muasal Rampi.

BACA JUGA:  Ini Data Persentase Kemiskinan Luwu Utara Jika Dibandingkan Kab/Kota di Sulsel 2002 hingga 2020

Baju Adat Rampi

Banyak hal yang bisa dijumpai pada wilayah pegunungan Luwu Utara ini. Misalnya di Desa Onondowa ibu kota Kecamatan Rampi, masih terdapat pengrajin pakaian kulit kayu. Pakaian ini terus dipromosikan sebagai pakaian khas dari Rampi. Adapun pakaian ini memang khas dan unik, bukan saja karena bahannya yang terbuat dari kulit kayu, tetapi juga proses pembuatannya.

Masih dalam buku ‘Rumah Peradaban Seko dan Rampi’ pakaian kulit kayu ini menjadi salah satu warisan leluhur yang masih dijaga oleh masyarakat Rampi, karena merupakan pakaian tradisional yang dipergunakan khusus pada upacara adat tertentu, seperti pernikahan dan penyambutan tamu.

Salah satu sumber menjelaskan, bahan pakaian dari pohon kayu yang mengandung getah, seperti beringin putih, kayu kalo, kayu bea dan lainnya.

Dari tangkai pohon kayu bergetah itu diambil kulitnya dan dipisahkan antara kulit kasar dengan kulit halus, lalu direbus selama dua hingga tiga jam. Tujuan perebusan itu agar bahan kulit kayu itu menjadi lunak dan dapat diolah menjadi baju, topi, tas kecil dan lainnya.

Setelah itu kulit kayu tersebut dibungkus dengan menggunakan daun liwonu (bahasa Rampi), dan didiamkan selama 4 hingga 7 hari.

Setelah semua selesai dilakukan proses utamanya yaitu memukul kulit kayu agar menjadi satu untuk dibentuk menjadi baju, topi (siga) dan lainnya. Adapun alat yang dipergunakan untuk memukul tersebut dalam bahasa lokal Rampi disebut batu pe haha yang berupa batu bentuk persegi kotak yang dijepit dengan kayu yang berfungsi sebagai pegangan.

Selanjutnya warna baju tetap mempertahankan warna asli kulit kayu asalnya atau tidak menggunakan bahan pewarna yang telah dicampur dengan bahan kimia. Adapun warnanya adalah merah tua dari getah pohon yang sudah besar. Sementara warna hijau dari getah daun dan bunga.

Lebih lanjut, baju tradisional Rampi memiliki bermacam-macam motif. Untuk laki-laki itu ada tiga, yaitu motif ular, motif beringin, dan tanduk kerbau. Sedangkan perempuan ada lima motif yang dominan.

Berbicara soal motif tentunya memiliki makna tersendiri. Motif tulang ular misalnya, digunakan oleh bangsawan.

Proses pewarnaannya, menggunakan akar dan daun yang berwarna.

Dari awal hingga selesai, proses pembuatan baju tradisional Rampi biasanya memakan waktu hingga 20 hari. (Ip)

Comment