by

Ribuan Demo di Indonesia Dukung Palestina Pasca Gencatan Senjata

Sejumlah warga Muslim berunjuk rasa mendukung Palestina dan mengecam Israel di depan gedung Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, 21 Mei 2021. Reuters

Smartcitymakassar.com – Ribuan orang kembali melakukan aksi unjuk rasa di sejumlah kota di Indonesia termasuk di Jakarta, tepatnya di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Jumat (21/5) untuk mendukung Palestina dan mengutuk serangan Israel ke Jalur Gaza.

Demonstrasi terjadi beberapa jam setelah gencatan senjata dideklarasikan oleh Israel dan Hamas, kelompok militan yang memerintah di Gaza.

‘FooterBanner’


Gencatan senjata itu mengakhiri 11 hari aksi udara Israel dan serangan roket Hamas yang telah menewaskan setidaknya 240 warga di Gaza dan 12 orang di Israel, demikian menurut pejabat terkait.

Pengunjuk rasa dari berbagai kelompok mahasiswa dan organisasi Islam mulai datang ke Kedubes AS usai salat Jumat.

Sambil mengibarkan bendera, beberapa diantaranya membentangkan spanduk bertuliskan antara lain “bergerak berjamaah, “Muslim bersatu untuk Al Aqsa”, “Save Palestine”, “Pray for Gaza”, dan “Zionists Go to Hell”

Beberapa peserta unjuk rasa sempat membakar bendera Israel, namun dihentikan oleh polisi.

“Kami mengutuk kekerasan dan pengusiran warga Palestina di Sheikh Jarrah serta penutupan Masjid Al Aqsa,” ujar koordinator lapangan Aliansi Pemuda Indonesia untuk Palestina, Bachrudin, mengacu pada pengusiran beberapa keluarga di Jerusalem oleh pemukim Israel yang menyebabkan ketegangan antara kedua belah pihak.

“Kami juga mengecam kejahatan genosida dan pembersihan etnis yang dilakukan oleh Israel,” ujarnya.

Demo sempat ricuh. Petugas menangkap 11 orang dari Himpunan Mahasiswa Islam yang dinilai mengganggu ketertiban umum.

“Diatur jaga jarak tidak mau, massa kemudian masuk ke jalanan yang dilewati mobil dan berupaya membakar ban,” kata Kabid Humas Polda Kombes Yusri Yunus.

Blok Politik Pelajar, salah satu kelompok yang turut dalam aksi, mengatakan bahwa 17 peserta unjuk rasa ditangkap dan mendesak pihak Polda Metro Jaya untuk segera membebaskan mereka.

“Penangkapan itu kami anggap tidak sesuai dengan hak kebebasan berpendapat. Karena tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan prosedur semestinya seperti peringatan atau himbauan,” bunyi pernyataan yang diterima BenarNews. 

Aksi dukungan kepada Palestina juga berlangsung di berbagai kota di sejumlah provinsi di Indonesia seperti di Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat.

Bentrokan baru

Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata, bentrokan baru meletus antara warga Palestina dan pasukan keamanan Israel di Masjid Al-Aqsa Yerusalem, Jumat.

Polisi Israel menembakkan granat kejut ke arah warga Palestina yang melemparkan batu dan bom molotof ke polisi di luar Al-Aqsa, demikian dilaporkan Reuters. Petugas medis mengatakan 20 warga Palestina terluka.

BACA JUGA:  Layak Dibanggakan, Wakil Rakyat di Kota Makassar Mendapat Kunjungan dari Empat Daerah

Setelah sejam bentrokan berakhir dan polisi Israel mundur ke posisi mereka di gerbang kompleks, menurut Reuters.

Pada Jumat dini hari waktu setempat, gencatan senjata yang ditengahi Mesir dan Qatar itu mulai berlaku, mengakhiri hari ke-11 serangan udara dari kedua belah pihak.

Serangan udara Israel menewaskan sekitar 243 warga Palestina, termasuk 66 anak, dan melukai setidaknya 1.900 lainnya, demikian menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Sementara itu 12 orang di wilayah Israel termasuk dua anak, tewas, dan setidaknya 350 orang luka-luka karena serangan roket yang ditembakkan kelompok Hamas dari Gaza. Laporan menyebutkan Hamas meluncurkan lebih dari 4000-an roket sejak 10 Mei, dan 90 persen diantaranya berhasil dipatahkan militer Israel.

Merespons gencatan senjata itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang sehari sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap Palestina di depan Sidang Umum PBB mengatakan bahwa penyebab yang mendasari konflik tersebut harus diselesaikan untuk mencapai perdamaian yang tahan lama.

“Jadi sekali lagi setelah gencatan senjata dilakukan, harus diberikan tekanan agar negosiasi segera dilakukan untuk menyelesaikan isu mendasarnya,” yaitu pendudukan Israel di tanah Palestina, ujar Retno kepada wartawan dalam jumpa pers online dari New York.

Kemudian, dia menyerukan Majelis Umum PBB untuk menyetujui ditempatnya pemantau internasional di Yerusalem untuk melindungi warga Palestina dan meminta akses bantuan kemanusiaan kepada rakyat yang terdampak.  

“Tanggung jawab utama kita adalah untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang menekankan pemimpin Israel dan Palestina memiliki tanggung jawab di luar pemulihan ketenangan untuk memulai dialog serius untuk mengatasi akar penyebab konflik.

“Gaza adalah bagian integral dari bangsa Palestina di masa depan dan harus ada upaya yang dilakukan untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional yang nyata untuk mengakhiri perpecahan,” kata Antonio dikutip Aljazeera.

Pakar isu Timur Tengah dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Siti Mutiah Setiawati menilai upaya mengakhiri konflik tersebut tidak cukup dengan himbauan PBB agar Israel menghentikan agresi militer melainkan juga harus ada tekanan dari negara besar seperti Amerika Serikat.

“Tergantung political will dari negara besar seperti Amerika untuk hentikan bantuan ke Israel, kalau Amerika tetap mensupport Israel dengan mengirimkan senjatanya ya akan tetap seperti ini,” ujarnya.

“Apabila PBB tidak mengambil tindakan tegas terhadap Israel yang jelas-jelas melanggar kedaulatan, HAM dan prinsip, maka tidak ada lagi yang bisa Indonesia lakukan, karena Indonesia dari segi geografi juga jauh letaknya,” tambah Siti. (Sumber: benarnews.org)

‘PostBanner’

Comment