by

Studi: Deforestasi di Indonesia Akibatkan Bencana Iklim

Kebakaran hutan yang terjadi di sebelah perkebunan kelapa sawit terlihat dalam foto udara yang diambil di atas Kumpeh Ulu, sebuah kabupaten di Muaro Jambi, 30 Juli 2019. Antara via Reuters

Smartcitymakassar.com – Asia Tenggara sangat menderita akibat dampak perubahan iklim, dan beberapa negara di kawasan ini seperti Indonesia dan Malaysia, berkontribusi terhadap bencana iklim, demikian laporan dari Forest Trends, sebuah LSM konservasi yang berbasis di Washington.

Indonesia bertanggung jawab atas 20 persen penebangan hutan tropis ilegal di dunia antara tahun 2013 dan 2019, yang menyebabkan kebakaran besar dan peningkatan emisi karbon di wilayah tersebut, kata kajian yang dirilis Selasa (18/5).

‘FooterBanner’


Komoditi yang dihasilkan dari kedelai, minyak sawit, dan ternak mendorong angka deforestasi ilegal global. Sebagian besar pembukaan hutan terjadi di Brasil dan di Indonesia selama 2013-2019, jangka waktu studi tersebut dilakukan.

Sebanyak 80 persen perkebunan kelapa sawit dunia berada di Asia Tenggara, dan banyak perkebunan kelapa sawit serta pulp di Indonesia dan Malaysia dibangun dengan cara menghancurkan hutan tropis secara ilegal, kata LSM tersebut.

“Tindakan kriminal perusakan hutan tropis secara kriminal untuk komoditas seperti daging sapi, coklat, kedelai, dan minyak sawit itu membabat 4,5 juta hektar lahan dan melepaskan 2,7 gigaton emisi setahun, kata pernyataan pers pada laporan “Panen Ilegal, Barang-barang Haram: Deforestasi Ilegal untuk Pertanian.”

Minyak sawit adalah komoditas dengan risiko kerusakan hutan terbesar di Asia-Pasifik, kata penelitian tersebut, dan Indonesia adalah negara yang paling buruk di Asia Tenggara dalam hal pembukaan hutan.

“Proporsi ilegalitas global untuk minyak sawit (59 persen) dan dipersulit dengan tidak cukupnya data di Malaysia. Hilangnya (hutan) ini terkait dengan kerugian ekonomi miliaran dolar, seperti yang diakibatkan oleh kebakaran hutan terkait kekeringan El Niño yang menciptakan peristiwa kabut asap besar-besaran. ”

Di Indonesia, perusahaan dan petani membuka lahan dengan membakar hutan Kebakaran seringkali menyebar ke kawasan hutan lindung. Dan kebakaran mengakibatkan kabut asap tebal yang melintasi batas negara dan melanda negara-negara Asia Tenggara lainnya.

KLHK: 2020 Deforestasi terendah

Meski temuan Forest Trends tampak mengerikan, masih ada harapan, karena Indonesia berhasil mengurangi deforestasi setiap tahun sejak puncaknya pada 2016, kata laporan itu.

Laju deforestasi Indonesia mencapai titik terendah dalam sejarah pada tahun 2020, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Pemerintah mengaitkan pengurangan tersebut dengan kebijakan seperti moratorium izin perkebunan kelapa sawit baru, dan larangan pembukaan hutan primer dan lahan gambut.

Tetapi para ahli lain telah mencatat bahwa penurunan itu kemungkinan karena lebih banyak hujan, jatuhnya harga minyak sawit, dan perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

BACA JUGA:  Tinjau Bangkalan Bareng Panglima TNI, Kapolri Paparkan Langkah Selamatkan Warga dari Risiko Covid-19

Jutaan mengungsi

Perubahan iklim yang menyebabkan terjadinya bencana alam itu juga mengakibatkan jutaan penduduk mengungsi. Internal Displacement Monitoring Center (IDMC) melaporkan bahwa sebagian besar relokasi baru di dalam negeri dipicu oleh bencana iklim pada tahun 2020, terutama di Asia Timur, Asia-Pasifik dan Asia Selatan

“Peristiwa terkait cuaca bertanggung jawab atas 98 persen dari semua pengungsian bencana yang tercatat pada tahun 2020,” kata studi oleh IDMC yang berbasis di Jenewa, dalam laporan global tahunannya, Kamis.

“Sebagian besar pengungsian adalah akibat badai tropis dan banjir di Asia Timur dan Pasifik dan Asia Selatan. Cina, Filipina, dan Bangladesh masing-masing mencatat lebih dari empat juta pengungsian baru, banyak di antaranya evakuasi untuk melakukan pencegahan. ”

Evakuasi adalah salah satu bentuk perpindahan, menurut IDMC.

Badai tropis, hujan monsun dan banjir bandang melanda daerah rawan yang merupakan rumah bagi jutaan orang di kawasan ini, kata laporan itu.

“Mengejutkan bahwa seseorang terpaksa meninggalkan rumah mereka di dalam negara mereka sendiri setiap detiknya tahun lalu,” kata Jan Egeland, sekretaris jenderal Dewan Pengungsi Norwegia, di mana IDMC menjadi bagiannya.

Laporan IDMC “Grid 2021” melacak perpindahan yang dipicu oleh peristiwa iklim ekstrim, perang dan konflik.

Seperti yang dicatat oleh Survei Geologi Amerika Serikat, perubahan iklim berperan dalam memperburuk bencana.

“Dengan meningkatnya suhu permukaan global, kemungkinan lebih banyak kekeringan dan peningkatan intensitas badai kemungkinan akan terjadi. Karena lebih banyak uap air yang dilepaskan ke atmosfer, hal itu menjadi sumber badai dahsyat,”kata badan pemerintah Amerika tersebut.

Topan Vongfong, juga dikenal sebagai Ambo, topan tropis pertama yang melanda Filipina pada tahun 2020, menyebabkan lebih dari 298.000 pengungsian, sebagian besar dalam bentuk evakuasi pencegahan.

Belakangan tahun itu, Topan Goni dan Vamco menyebabkan lebih dari tiga juta pengungsian di Filipina dan Vietnam pada bulan Oktober dan November.

Tindakan proaktif membangun ketahanan

Asia Selatan menyumbang hampir sepertiga dari pengungsian bencana baru dunia pada tahun 2020.

Sekitar 9,2 juta pengungsi tercatat di wilayah ini, yang menurut IDMC merupakan angka di atas rata-rata untuk dua tahun berturut-turut.

Penyebabnya adalah Topan Amphan, yang memicu hampir 2,5 juta pengungsian di Bangladesh saja, dari total 5 juta di wilayah tersebut.

“Badai ini merusak dan menghancurkan rumah dan infrastruktur lainnya dan menyebabkan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal,” kata IDMC.

“Perlu langkah-langkah yang lebih inklusif dan proaktif yang membangun ketahanan mereka yang secara teratur terpapar bahaya serupa juga jelas,” tambah organisasi itu. (Sumber:benarnews.org)

Comment