by

Resesi Berlanjut, Ekonomi Indonesia Terkontraksi 0,74 di Triwulan Pertama

Warga tampak berkerumun membeli keperluan untuk menyambut Idul Fitri di tengah pandemi COVID-19 yang belum mereda, di Pasar Tanah Abang di Jakata, 3 Mei 2021. Reuters

Smartcitymakassar.com – Ekonomi sepanjang kuartal pertama 2021 masih mengalami kontraksi sebesar hampir 1 persen, menunjukkan Indonesia masih mengalami resesi ekonomi akibat pembatasan aktivitas selama pandemi COVID-19, lapor Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/5). 

Walaupun ini adalah kuartal keempat ekonomi Indonesia berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif sejak pandemi, namun konstraksi sebesar 0,74 persen pada Januari – Maret 2021 adalah kemajuan yang signifikan dibandingkan minus 2,19 persen dalam kuartal sebelumnya, demikian menurut pejabat terkait.

‘FooterBanner’


“Ini menunjukkan tanda-tanda perbaikan ekonomi semakin nyata,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube.

Penurunan ini tetap sangat kontras dibandingkan dengan kwartal yang sama pada Januari – Maret 2020, sebelum dilumpuhkan COVID-19, di mana ekonomi Indonesia berada pada pertumbuhan 2,97 persen.

Sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber utama kontraksi dalam periode ini, sebut Suhariyanto.

“Ini dipengaruhi pembatasan mobilitas yang berdampak pada penurunan trafik penumpang berbagai moda transportasi dan jumlah perjalanan moda transportasi,” sebut Suhariyanto.

Pada tiga bulan pertama, sektor transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi hingga 13,12 persen. Penurunan kinerja juga terjadi pada sektor akomodasi dan makanan minuman dengan minus 7,26 persen dan jasa lainnya dengan minus 5,15 persen. 

Sebaliknya, sektor yang masih tumbuh positif adalah informasi dan komunikasi dengan meningkat 8,72 persen, pengadaan air 5,49 persen dan jasa kesehatan 3,64 persen. 

Konfirmasi pemulihan ekonomi juga ditekankan Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, setelah melihat data dari tiga kuartal terdahulu, yang masing-masing menunjukkan -5,32 persen pada kuartal II 2020, menjadi -3,49 persen di kuartal III-2020, dan -2,19 di kuartal terakhir 2020.

“Kalau kita lihat berdasarkan berbagai data, kita lihat pemulihan ekonominya terlihat dan conform kita pada posisi yang menuju positif dan ini adalah kurvanya adalah kurva V seperti di berbagai negara lain,” jelas Airlangga, Rabu.

Suhariyanto mengatakan, kebijakan untuk kembali melarang mudik tahun ini bakal berdampak pada kinerja konsumsi rumah tangga yang memiliki sumbangan terbesar ke PDB, terutamanya pada sektor transportasi, pariwisata dan perhotelan. 

“Kalau kita jumlahkan, share ketiga ini ke konsumsi rumah tangga hampir 25 persen dari total konsumsi rumah tangga, sehingga secara keseluruhan larangan mudik akan berpengaruh ke konsumsi rumah tangga,” katanya. 

“Tapi pilihan kita adalah di tengah pandemi COVID-19, jadi kebijakan ini sangat bijak,” tambahnya. 

Pembatasan mobilitas orang juga menyebabkan sisi permintaan terhambat sehingga inflasi pada kuartal pertama tahun ini bergerak lambat sebesar 1,37 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegoro meyakini kinerja konsumsi rumah tangga tidak akan berhenti meski adanya larangan mudik Lebaran. 

BACA JUGA:  Kapolri, Jaksa Agung, Menkominfo Tandatangani SKB Pedoman Implementasi UU ITE

“Konsumsi rumah tangga masih akan terdongkrak meski terbatas di Jabodetabek yang memang penetrasi e-commerce-nya lebih tinggi dibanding kota-kota lainnya,” kata Bhima. 

“Di kuartal II/2021, terlebih adanya larangan mudik, maka penggunaan internet atau yang termasuk dalam jasa telekomunikasi pasti akan meningkat pesat,” lanjutnya.

Tertinggal dengan negara mitra

BPS mencatat kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini tertinggal dari negara mitra dagang Indonesia baik di kawasan Asia Tenggara maupun Asia Pasifik. 

Mitra dagang utama Indonesia, Cina, berhasil mengalami pertumbuhan positif pada kuartal pertama dengan mencapai 18,3 persen. Amerika Serikat (AS), mitra dagang terbesar kedua, tumbuh 0,4 persen pada periode waktu sama. 

“Mitra dagang utama kita Cina yang mengalami kontraksi cukup dalam pada triwulan pertama 2020, yaitu minus 6,8 persen, pada triwulan I tahun ini bergerak positif dan tumbuh sangat impresif 18,3 persen,” kata Suhariyanto. 

Pertumbuhan positif juga terjadi di negara mitra lainnya, seperti Singapura (0,2 persen), Korea Selatan (1,8 persen), Vietnam (4,48 persen) dan juga Hong Kong (7,8 persen). 

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta menyebut pertumbuhan negara mitra dagang Indonesia adalah momentum yang bisa dimanfaatkan Indonesia dalam meningkatkan kinerja ekonomi. 

“Ini bisa memperkuat permintaan ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut,” kata Arif dalam keterangan tertulisnya. 

Dari sisi dalam negeri, Arif mengatakan pemerintah masih akan tetap memprioritaskan penanganan pandemi dari aspek kesehatan untuk mempercepat kembali normalnya mobilitas warga. 

Selain itu, pemerintah juga akan bekerja sama dengan otoritas moneter untuk mempertahankan dan memperbaiki sisi pasokan maupun permintaan khususnya dari sektor konsumsi. 

“Kita melihat bahwa neraca perdagangan kita surplus pada kuartal I dengan ekspor tumbuh 6,74 persen dan impor masih terkendali 5,27 persen,” kata Arif, seraya menambahkan, “ini menunjukkan perekonomian kita mampu bertahan. Kita akan segera masuk ke zona positif.”

Sepanjang Januari sampai Maret 2021, BPS mencatat neraca perdagangan surplus U.S.$5,5 miliar (setara Rp80,3 triliun) yang ditopang dengan kenaikan ekspor sebesar 17,11 persen menjadi U.S.$48,9 miliar dan impor sebesar 10,76 persen menjadi U.S.$43,38 miliar. 

Asian Development Outlook (ADO) yang dirilis Asian Development Bank (ADB) pekan lalu, memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan tumbuh 4,5 persen, dengan progres pemulihan secara menyeluruh dimulai pada September. 

Pertumbuhan ekonomi yang mengarah pada perbaikan di kuartal berikutnya ini sejalan dengan pembukaan kegiatan ekonomi secara bertahap di kota-kota besar Indonesia, sebut ADB. 

Kendati demikian, ADB mengingatkan proyeksi ini bisa terganggu dengan ancaman dari mutasi baru virus COVID-19, laju vaksinasi yang tidak merata di dunia, dan pengetatan keuangan global yang tidak terduga. 

“Ini jadi risiko yang bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi saat pemulihan.

Kemudian juga adanya ketegangan perdagangan antara Amerika dan Cina yang mungkin menyebabkan kondisi pengetatan finansial,” ungkap Ekonom Senior ADB James Villafuerte. (Sumber: benarnews.org)

Comment