by

TNI Akui Usaha Pengangkatan Nanggala Sangat Sulit

Para prajurit angkatan laut memberikan penghormatan terhadap rekan-rekan mereka yang gugur bersama tenggelamnya KRI Nanggala 402 beberapa hari sebelumnya, di atas KRI Dr. Soeharso di Laut Bali, 30 April 2021. AFP

Smartcitymakassar.com – Lokasi karamnya KRI Nanggala-402 yang dalam dan curam serta potensi terjadinya gelombang internal laut yang kuat serta keberadaan tiga torpedo aktif di kapal tersebut menyulitkan upaya pemerintah untuk mengangkat bangkai kapal selam yang tenggelam di Laut Bali dan menewaskan ke-53 awak di dalamnya, demikian pejabat militer, Selasa (4/5).

Upaya tersebut tetap sulit meskipun tiga unit kapal militer canggih dari Cina telah tiba di perairan Bali untuk membantu proses evakuasi. Asisten Perencanaan (Asrena) KSAL Laksamana Muda Muhammad Ali mengatakan salah satu kapal AL Cina, PRC Navy Ocean Salvage & Rescue Yong Xing Dao-863, bakal lebih dulu dioperasikan untuk melihat kondisi KRI Nanggala-402 yang berada di kedalaman 838 meter di perairan utara Pulau Bali. 

‘FooterBanner’


“Dari Cina ini ada kapal survey yang dilengkapi dengan kapal selam ini yang bisa mencapai kedalaman 1.000 meter lebih, nanti kemungkinan kapal ini akan dioperasikan” kata Ali dalam jumpa pers di RS TNI AL Mintohardjo Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (4/5). 

Pemerintah Cina pada Jumat lalu mengirimkan tiga unit kapal AL-nya untuk membantu proses pengangkatan KRI Nanggala-402 yang tenggelam bersama 53 kru pada dua pekan silam, sebut juru bicara Kementerian Pertahanan Cina Ren Guoqiang, dikutip dari laman resmi kementerian.

Dua dari tiga kapal, PRC Navy Ship Ocean Tug Nantuo-195 dan Xing Dao-863 telah tiba sejak Minggu, dan saat ini sudah berada di utara pesisir Celukan Bawang, Bali, dekat lokasi tenggelamnya KRI Nanggala-402. 

Sementara satu kapal lainnya, Scientific Salvage Tan Suo 2, tiba pada hari Selasa, sebut Kabid Penerangan Internasional TNI Kolonel Laut Djawara Whimbo. 

Sebanyak 48 penyelam dari AL Cina juga akan dilibatkan dalam operasi pengangkatan.  

“Yong Xing Dao-863 ini membawa kapal selam mini yang membawa 48 penyelam. Yong Xin Dao dilengkapi peralatan robotik, side scan sonar, multibeam echo sounder, peralatan medis untuk chamber. Jadi kalau ada kecelakaan penyelam langsung dimasukan chamber untuk diselamatkan,” kata Ali.

Kendati demikian, lokasi karamnya KRI Nanggala-402 tetap memiliki risiko yang tinggi meski kapal-kapal AL Cina ini memiliki kemampuan menyelam dan mengangkat beban hingga 2.000 ton. 

“Untuk mengangkat agak sulit, karena menempelkan pengait dengan barang yang akan diangkat itu butuh tangan. Tangannya bisa penyelam bisa robot. Kalau penyelam harus pakai baju khusus untuk bisa sampai ke kedalaman segitu, ini agak sulit,” kata Ali. 

“Juga ada internal wave. Beberapa waktu lalu kita sampaikan itu mungkin terjadi, jadi kita benar-benar harus hati-hati dan harus sabar,” tambahnya.

Untuk sementara, proses pengangkatan akan dilakukan AL Indonesia dan Cina pada bagian-bagian kecil dari kapal selam yang karam tersebut. 

KRI Nanggala-402 yang memiliki bobot hingga 1.395 ton dan panjang 59,5 meter, ditemukan dalam kondisi terbelah tiga. Adapun dasar Laut Bali dicirikan oleh lereng yang curam dengan kedalaman maksimum 1.590 meter.  

TNI AL mengatakan kapal-kapal Cina memiliki kemampuan yang mencukupi dalam operasi pengangkatan ini, meski mengakui bahwa tawaran untuk membantu evakuasi juga disampaikan negara lain. 

“Tawaran bantuan sebetulnya datang dari banyak negara. Tapi yang terdekat dan mumpuni ya Cina,” kata Whimbo, tanpa memberikan detail negara mana saja yang juga menawarkan bantuan. 

Torpedo aktif

Julius mengatakan pihaknya juga telah menyiagakan sejumlah KRI sebagai pengamanan di sekitar lokasi karamnya KRI Nanggala-402 lantaran kapal selam tersebut masih membawa torpedo kepala perang yang masih aktif. 

“KRI Nanggala-402 bawa torpedo SUT kepala perang, pastinya akan ditangani secara akurat,” kata Julius, merujuk SUT pada surface and underwater target.

Julius memastikan proses pengangkatan akan menggunakan kehati-hatian sehingga publik tidak perlu mengkhawatirkan bahaya yang mungkin ditimbulkan. 

“Torpedo kan impact, ketika nabrak mungkin baru meledak, kalau tidak impact ya engga (meledak),” kata Julius, seraya melanjutkan, “maka semuanya akan dihitung, torpedonya dihitung, kemudian kondisinya seperti itu kan kita tahu, butuh perhitungan yang matang dan tidak gegabah.” 

BACA JUGA:  Tinjau Bangkalan Bareng Panglima TNI, Kapolri Paparkan Langkah Selamatkan Warga dari Risiko Covid-19

KRI Nanggala-402 hilang kontak saat persiapan melakukan latihan penembakan torpedo di perairan utara Bali, Rabu (21/4). 

Arsenal KSAL Muhammad Ali dalam jumpa pers pekan lalu mengatakan saat kejadian, KRI Nanggala-402 hanya membawa tiga buah torpedo, meski kapal selam ini didesain mampu membawa hingga delapan unit. Masing-masing torpedo diperkirakan memiliki berat hampir 2 ton.

Kepala Staf TNI AL Laksamana Yudo Margono pada Minggu, mengatakan KRI Nanggala-402 layak berlayar dan berlatih penembakan rudal serta torpedo. 

Yudo juga mengatakan, KRI Nanggala-402 menjalani perbaikan total atau overhaul di Korea Selatan yang selesai pada 2012. Setelah itu, kapal ini juga rutin menjalani peliharaan.

“Sehingga, kapal ini mampu dan dinyatakan AL layak melaksanakan layar dan bertempur. Sehingga kita proyeksikan latihan penembakan torpedo kepala latihan dan kepala perang,” kata Yudo. 

Kapal asing lain pulang

Sementara itu, kapal dari Singapura, Malaysia dan Australia serta pesawat pengintaian AS Poseidon yang terlibat dalam pencarian Nanggala-402 telah kembali ke negara asal mereka, disampaikan Kadispen AL, Laksma Julius Widjojono.

“Sudah kembali ke negara asalnya, tugas mereka sudah selesai untuk mencari keberadaan kapal Nanggala 402,” kata Julius kepada BenarNews.  

Singapura mengirimkan kapal pencari MV Swift Rescue, Malaysia dengan kapal serupa yaitu MV Mega Bhakti, sementara Australia dengan kapal HMAS Sirius dan Ballarat.

Julius mengatakan kapal-kapal tersebut tidak memiliki peralatan untuk mengangkat Nanggala-402.

“Berat Nanggala berapa, kedalamannya berapa dan cara mengangkatnya bagaimana jika menggunakan alat mereka, tidak bisa, jadi mereka pulang,” ujarnya.

Sejauh ini, tambahnya, tawaran bantuan hanya datang dari Cina dan Kapal Timas 1201 yang dioperasikan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“Saat ini baru Cina yang sudah clearance, lainnya belum ada,” tegasnya, menambahkan bahwa pihaknya terbuka mengenai tawaran dari negara lain.

Soft diplomacy

Peneliti Senior Center for Sustainable Ocean Policy Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Aristyo Rizka Darmawan, mengatakan keterlibatan kapal AL Cina dalam misi pencarian KRI Nanggala-402 tidak bisa dilepaskan dari aspek diplomasi yang dimainkan oleh Cina maupun Indonesia. 

“Beberapa tahun terakhir, ketika terjadi eskalasi dengan Cina di Laut Cina Selatan, kita bisa lihat diplomasi mulai banyak dimainkan, seperti vaksin dan mungkin salah satunya juga ini,” kata Aristyo melalui sambungan telepon dengan BenarNews.  

“Kita nanti bisa lihat apakah ini tulus atau ada hidden agenda. Secara geopolitik itu yang kita perhatikan. Mungkin tidak secara tertulis imbal baliknya, mungkin berupa soft diplomacy dengan mempertimbangkan respons dengan Cina ketika nanti misalnya terjadi eskalasi lagi,” tambahnya lagi. 

Bantuan yang diberikan Cina dalam hal evakuasi KRI Nanggala-402 menurutnya juga tidak akan berdampak langsung dengan posisi Indonesia di Laut Natuna Utara. 

“Pemerintah, saya kira akan tetap tegas, tetap akan mengeluarkan pernyataan atau sikap yang sesuai dengan ketentuan hukum internasional. Walau kita bebas aktif, tapi tidak juga secara langsung akan membuat aliansi keamanan dengan Cina meski soft diplomacy-nya lebih banyak ke sana dibanding ke AS,” tukasnya.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Muhammad Arif, menilai dampak geopolitik atas kerjasama evakuasi kapal selam ini pasti ada bagi kedua negara, terutama melibatkan negara besar seperti Cina.

“Buat Indonesia dan Cina, ini bisa jadi peluang untuk menunjukkan kalau peningkatan kekuatan maritim Cina bisa berkontribusi positif bagi Kawasan,” ujarnya.

Selama ini, paparnya, narasi yang tergambarkan selalu soal agresifitas dan ekspansi territorial Cina, namun misi bantuan seperti ini bisa menunjukkan bahwa Beijing bisa jadi solusi masalah yang ada di kawasan.

Indonesia, ujarnya, sangat terbuka dari awal dalam melibatkan banyak pihak dari negara lain seperti Singapura, Australia dan Amerika.

“Dengan mengikutsertakan Cina juga bisa menunjukkan bahwa ini misi humanitarian, recovery kapal dan  tidak ada kepentingan politis apapun untuk urusan seperti ini,” ungkapnya. (Sumber: benarnews.org)

‘PostBanner’

Comment