by

5 Juta Guru Divaksin, Jokowi Targetkan Tatap Muka Sekolah Mulai Juli Ini

5 Juta Guru Divaksin, Jokowi Targetkan Tatap Muka Sekolah Mulai Juli Ini

Smartcittmakassar.com – Presiden Joko Widodo pada Rabu (24/2) menargetkan kegiatan belajar mengajar siswa dapat dimulai pada awal semester baru setelah sekitar lima juta tenaga pendidik di seluruh Indonesia mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Pemerintah pada Rabu mulai meluncurkan dimulainya vaksinasi COVID-19 massal terhadap tenaga pendidikan, dimulai dari SMA Negeri 70 di Jakarta Selatan dengan menyuntik 650 orang guru dan administrator yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan.

‘FooterBanner’


“Targetnya pada bulan Juni nanti lima juta guru, tenaga pendidik dan kependidikan insyaallah sudah bisa kita selesaikan semuanya sehingga di bulan Juli saat mulai ajaran baru semuanya bisa berjalan normal kembali,” kata Jokowi selepas menyaksikan pelaksanaan vaksinasi.

“Hari ini vaksinasi untuk tenaga pendidik dan kependidikan telah dimulai dan saya tadi menyaksikan semuanya berjalan lancar,” kata Presiden.

Ia berharap, setelah dilakukan di DKI Jakarta, vaksinasi bagi tenaga pendidik dan kependidikan ini diharapkan bisa segera diikuti dengan kegiatan serupa di provinsi-provinsi lain.

Sebelumnya pemerintah telah melakukan vaksinasi tahap pertama dengan menyasar tenaga kesehatan yang dimulai sejak 13 Januari 2021. Sementara vaksinasi tahap kedua kali ini memprioritaskan lansia, para pelayan dan pekerja publik, pedagang pasar, wartawan serta tenaga pendidik.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan guru dan tenaga kependidikan menjadi prioritas vaksinasi tahap kedua karena kegiatan tatap muka di sekolah sudah berhenti hampir setahun sejak pandemi COVID-19.

“Diharapkan target sekolah tatap muka akan segera dilakukan apabila vaksin 5 juta guru dan tenaga kependidikan bisa diselesaikan akhir Juni 2021,” ujarnya.

Vaksinasi terhadap guru akan dilakukan bertahap mulai dari sekolah dasar (SD), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Kemudian dilanjutkan ke SMP, SMA dan SMK. Terakhir, ujar dia akan diberikan kepada tenaga kependidikan di perguruan tinggi.  

Menurut Nadiem, pihaknya mengambil tindakan cepat agar guru dan tenaga kependidikan bisa memperoleh vaksinasi karena dirasakan dampak buruk dari pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Sekolah menjadi salah satu sektor yang sampai sekarang belum pernah dibuka dan juga PJJ terlalu lama juga meningkatkan risiko yang sangat besar,” kata dia.  

Nantinya, ujar dia, kegiatan belajar tatap muka di sekolah pun tidak 100 persen dilakukan setiap hari. “Tapi akan terjadi dua kali seminggu atau tiga kali seminggu. Siswa dan guru juga tetap harus mematuhi protokol kesehatan,” paparnya.

 Indonesia menerapkan kewajiban belajar di rumah atau pembelajaran jarak jauh sejak Maret 2020 sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran COVID-19.

BACA JUGA:  Orasi Ilmiah di Seminar IPKN, Kapolri: Sinergitas Polri-Auditor Kunci Cegah Korupsi

Hati-hati

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengatakan meskipun para pendidik sudah divaksin, namun Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tetap harus memastikan penyiapan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli 2021 secara ketat.

“Pastikan 5 Siap, yaitu siap daerahnya, siap sekolahnya, siap gurunya, siap orang tuanya, dan siap anaknya. Jika salah satu tidak siap, maka tunda buka sekolah tatap muka karena akan berpotensi menjadikan sekolah sebagai kluster baru. Harus dipastikan juga bahwa kasus COVID-19 di wilayah itu sudah landai,” kata Retno.

Menurutnya, sekolah-sekolah harus dipastikan sudah menyiapkan infrastruktur untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru menerapkan protokol kesehatan demi melindungi warga sekolah, terutama peserta didik, mengingat vaksin COVID-19 untuk anak-anak belum tersedia.

“Para pendidik dan tenaga kependidikan yang sudah di vaksin tetap  harus melakukan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Jangan mengira setelah ada vaksin berarti akan bebas,” ujar dia.

Ia mendorong pemerintah untuk merancang pengujian vaksin untuk usia anak agar herd immunity atau kekebalan kelompok terwujud.

Herd immunity sulit terwujud jika hanya pendidik dan tenaga kependidikan yang divaksinasi.”

Namun demikian pihaknya tetap mengapresiasi pemerintah yang sudah memprioritaskan pemberian vaksin kepada pendidik dan tenaga kependidikan.

“Hal ini adalah bentuk kepedulian pemerintah pada para guru yang merupakan garda terdepan dalam melayani proses pembelajaran kepada peserta didik,”  ujarnya.

“KPAI akan terus melakukan pengawasan terhadap penyiapan dan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) tahun 2021. Saat ini pun, saya sedang melakukan pengawasan ke sekolah-sekolah yang sudah memulai PTM secara terbatas di wilayah Jawa Barat.”

Menanggapi hal tersebut, pakar pendidikan dari Vox Populi Indonesia, Indra Charismiaji mengatakan era digital saat ini seharusnya mengajarkan belajar di sekolah pun tidak bisa hanya merasa belajar tatap muka paling efektif.

“Harus didorong membuat pembelajaran digitalnya efektif, itu bisa dilakukan apabila guru diajarkan, disiapkan. Ke depan itu yang namanya bekerja tidak harus berangkat ke kantor, dunia pendidikan juga bisa karena apapun ceritanya dunia pendidikan itu bertujuan menyiapkan anak untuk bertahan hidup, bukan hanya untuk mencari kerja,” ujar dia.

Menurutnya, permasalahan saat ini adalah guru belum disiapkan untuk hadapi digital informasi. Ia menyarankan pemerintah untuk menyiapkan guru terhadap model pembelajaran digital. (Sumber: benarnews.org)

Comment