by

Selamat Milad HMI-ku

Keterangan Foto: Himpunan Mahasiswa Islam

Smartcitymakassar.com – Makassar. Nakhoda hebat tidak lahir dari lautan tenang, melainkan dari gelombang besar. Itulah mengapa sebuah karya monumental hadir dilatari oleh sebuah “kegelisahan” seorang anak manusia terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Adam Smith menuliskan The Wealth of Nations, karena melihat sepak terjang praktik dan teori ekonomi merkantilisme yang sering menyebabkan perang, memunculkan negara jajahan, dan upah pekerja yang tidak adil sehingga kesejahteraan masyarakat menjadi suram. The Social Contract hadir dan ditulis oleh Jean Jacques Rousseau. Rosseau berkata miris, “manusia dilahirkan dalam kondisi bebas, namun dimana-mana ia terbelenggu”.

‘FooterBanner’


Begitu pun dengan kegelisahan seorang pemuda asal Tapanuli Selatan, Sumatera Utara – Lafran Pane mahasiswa fakultas Hukum Sekolah Tinggi Islam (STI). Meski tidak menuliskan buku seperti Smith dan Rosseau, tetapi putra dari Sutan Pangurabaan Pane ini (tokoh pergerakan nasional dan sastrawan andal) memprakarsai berdirinya organisasi bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang gaungnya hingga hari ini masih membahana di berbagai pelosok negeri. Atas jasa Lafran Pane, tahun 2017 lalu pemerintah menyematkan sebagai pahlawan nasional.

Tapak tilas HMI hadir dan menjadi ikon dalam pembangunan bangsa, di awali masa kemerdekaan yang penuh gejolak. Tahun 1946, suasana politik Indonesia khususnya di ibu kota Yogyakarta mengalami polarisasi antara pihak pemerintah dan oposisi. Pihak pemerintah yang dipelopori Partai Sosialis ingin berjuang secara diplomasi. Sementara pihak oposisi dari Partai Masyumi bersama koalisinya memilih angkat senjata melawan Belanda. Polarisasi ini menyeret Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) untuk berorientasi kepada Partai Sosialis. Namun, mahasiswa yang masih memiliki idealis tidak dapat menerima keadaan tersebut, karena Belanda semakin memperkuat diri dengan mendatangkan bala bantuan dengan persenjataan yang modern.

Di lain pihak, Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) yang beranggotakan seluruh mahasiwa dari tiga Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yaitu: Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI), dan Balai Perguruan Tinggi Gajahmada, dalam operasionalnya tidak berjalan efektif. Organisasi tersebut tidak serius dengan komitmen untuk kepentingan mahasiswa saat itu, sehingga terjadi penumpukan aspirasi yang tidak tersalurkan dengan benar.

Atas kondisi realitas yang menggelisahkan itu, Lafran Pane mencoba untuk mencari solusi. Bulan November 1946 mengadakan rapat dengan mengundang 30 orang perwakilan dari mahasiswa Islam dari PMY dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang berada di Yogyakarta untuk membahas masalah pendirian organisasi baru. Namun, solusi pendirian organisasi baru mendapat penolakan, utamanya dari organisasi PMY itu sendiri.

BACA JUGA:  Webinar Creavision IndigoHub Makassar Bahas Topik 'UX Series : Understanding Users with In-depth Interview'

Setelah 3 bulan penolakan itu berlalu, selanjutnya Lafran Pane mengadakan pertemuan secara mendadak pada tanggal 5 Februari 1947 yang dipimpin olehnya bertempat di ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam (sekarang UII) yang menetapkan berdirinya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI yang bertujuan untuk: Mempertahankan negara Republik Indonesia, mempertinggi derajat rakyat Indonesia, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Hingga saat ini, HMI sudah 74 tahun berkiprah mengarungi samudera yang sangat luas. Tak terbilang kader terbaiknya tampil memberi warna dalam pembangunan Indonesia. Sebut saja misalnya: Ismail Hassan Metareum, Nurcholish Madjid, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Hasyim Muzadi, Chasbullah Baidawi, Mahfud MD, Azyumardi Azra, Abdullah Hehamahua, Ferry Mursyidan Baldan, dan masih banyak lagi kader lainnya.

Suatu ketika di tahun 2017, dalam sebuah forum Majma’al Buhuts al Nahdliyah, KH. Mustofa Bisri yang kerap disapa Gus Mus melontarkan sebuah kalimat yang koran Suara Merdeka menuliskan judul berita, “Gus Mus Iri pada HMI”.

Lontaran itu bisa jadi sebagai nilai plus bagi HMI. Tokoh HMI meski berbeda rumah politik, namun mereka tetap memegang identitas asalnya. Berbeda dengan Jalaluddin Rakhmat, dia berkata bahwa kita harus mengapresiasi HMI. Lembaga ini sudah banyak mencetak pemimpin bangsa. Mulai dari lembaga-lembaga politik, pemerintahan, pemikir Islam, dan level pengambil keputusan.

Jejak para alumni kader HMI haruslah menjadi pelajaran bagi bangsa ini, bagaimana hebatnya daya intelektual yang mereka peroleh melalui proses akademisi yang penuh dinamika dan cukup melelahkan. Terkadang dalam prosesnya, justru kepahitan dan kegetiran yang dialami.

Pada titik itulah, kader HMI harus memiliki pribadi yang tangguh dan siap mengambil segala resiko untuk mencapai arah tujuan yang telah diamanatkan dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI bahwa, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhana Wata’ala***(RM)

Comment