by

Kasus COVID 19 di Indonesia Tembus 1 Juta Orang, RS Kewalahan

Kasus COVID di Indonesia Tembus 1 Juta Orang, RS Kewalahan

Smartcitymakassar.com – Angka kasus COVID-19 di Indonesia menembus di atas satu juta orang pada Selasa (26/1), sementara rumah sakit di berbagai daerah termasuk Jakarta hampir terisi penuh karena penularan yang semakin cepat.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 melaporkan terdapat penambahan 13.094 kasus baru selama 24 jam terakhir, sekaligus mencatat rekor tertinggi sepanjang 10 bulan terakhir dan menjadikan jumlah total mencapai 1.012.350.

‘FooterBanner’


Sementara jumlah kematian bertambah 336 orang, menjadikan total korban jiwa di Indonesia mencapai 28.468.

“Angka ini membuat kita harus merenung. Angka satu juta ini mengindikasikan semua rakyat harus bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi pandemi ini,” ujar Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers.

Ia menyayangkan setidaknya ada lebih dari 600 tenaga medis yang menjadi korban COVID-19. Lonjakan angka harian COVID-19 terjadi sejak awal Januari menyusul liburan panjang Natal dan tahun baru dengan angka pertambahan kasus harian selalu melampaui di atas 10 ribu.

Ia mengatakan, salah satu cara untuk mengatasi pandemi antara lain harus mengurangi laju pengurangan dari virus dengan cara mematuhi protokol kesehatan.

“Ini yang sangat susah dilakukan. Hal ini ngga bisa dilakukan seorang diri, membangun gerakan disiplin ini. Kita akan menghadapi kehidupan yang akan berbeda, sehingga wajib mengingatkan semua orang agar kita disiplin mematuhi protokol kesehatan 3 M (masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M),” ujarnya.

Kemudian, tambahnya, adalah dengan meningkatkan kapasitas testing, tracing dan treatment (3T).

“Ini tanggung jawab di Kemenkes untuk memastikan program testing itu, kita juga harus lakukan tracing terhadap kontak erat dan harus siapkan tempat isolasi yang nyaman tanpa nularin yang lain. Kami akan kerja keras agar program 3T bisa dilakukan,” ujarnya.

3 kali lipat lebih besar  

Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan ini bukan lagi saat untuk merenung karena situasi di Indonesia sudah sangat serius. Ia memperkirakan keadaan pada saat ini bukan angka yang sebenarnya.

“Keadaannya bisa saja tiga kali lipat dengan angka yang ada sekarang atau sekitar 3 juta orang terpapar (1 persen) dari total penduduk di Indonesia,” ujar dia kepada BenarNews.

Hal ini disebabkan karena kapasitas testing yang rendah. Indonesia termasuk dalam negara dengan kapasitas terendah di dunia dengan 32 ribu per 1 juta penduduk.

“Angka satu juta penduduk ini seharusnya sudah terjadi pada September dan Agustus 2020 lalu, 10 bulan penanganan ini ternyata belum mendekati keadaan yang sebenarnya,” tambahnya.

Menurutnya, ada banyak kasus yang selama ini tidak terdeteksi dan dianggap enteng, padahal bisa menjadi pemicu penularan lanjutan sehingga menimbulkan wabah tersembunyi atau silent outbreak.  

Silent outbreak terjadi ketika RS penuh dan kematian meningkat. Intervensi karantina sangat dibutuhkan untuk mereka yang tidak terdeteksi. Jika tidak, maka kita akan semakin jauh dari kata terkendali, membumbung tinggi, tidak bisa melandai,” ujar dia.  

Menurutnya, pemerintah perlu menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat secara merata di Jawa dan Bali dengan dosis yang sama di setiap daerah sebelum Indonesia mengalami dampak yang jauh lebih buruk.

“Keadaan sekarang berada di belakang kecepatan virus menyebar. Perlu dilakukan peningkatan screening, klinik demam, tracing diperkuat. PSBB ketat seharusnya minimal 1 bulan karena gak akan efektif jika hanya 2 minggu,” ujar dia.

Meningkatkan kapasitas tracing, testing dan treatment (3T) saat ini jauh lebih penting daripada vaksinasi dan protokol kesehatan.

“Jangan sampai protokol kesehatan lagi yang dikejar-kejar padahal situasi sekarang sudah semakin serius. Bukan tidak mungkin kasus meledak besar ditengah program vaksinasi dan tidak ada jaminan vaksinasi akan berhasil,” tegasnya.

BACA JUGA:  Polri Hentikan Penyidikan Kasus 6 Anggota FPI yang Tewas

Awal bulan ini, Indonesia memulai program vaksinasi dengan target prioritas petugas medis. Hingga Jumat, sekitar 132.004 petugas medis telah menerima suntikan pertama dari Coronavac, yang diproduksi perusahaan Cina, Sinovac.

Indonesia menargetkan akan memvaksinasi sekitar 70 persen dari jumlah populasi penduduk atau sekitar 181 juta jiwa dalam waktu 15 bulan.

Tapi sejauh ini, dua minggu setelah vaksinasi diluncurkan pertengahan bulan ini, jumlah orang yang telah menerima vaksin masih di bawah 300 ribu menurut data Kementerian Kesehatan.

RS penuh

Kelompok relawan LaporCovid19 mencatat adanya satu kasus warga Depok yang meninggal dunia di dalam taksi online dalam keadaan menderita gejala seperti COVID-19 karena ditolak 10 rumah sakit.

Dalam rilisnya, LaporCovid19 mengatakan mereka menerima laporan langsung dari keluarga pasien pada awal Januari lalu.

“Anggota keluarganya meninggal di dalam taksi daring setelah ditolak 10 rumah sakit rujukan COVID-19,” demikian tulis LaporCovid19.

Menurut Sekretaris Jenderal Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), Lia Gardenia Partakusuma, mengatakan kondisi demikian kemungkinan terjadi karena keterisian rumah sakit yang dalam kondisi penuh.

Setidaknya ada 10 provinsi di Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan dengan keterisian bed RS melebihi angka 60 persen seperti DKI Jakarta (85,7 %), Yogyakarta (83,04%), Banten (77,3%), Jawa Barat (75,02%), Sulawesi Tengah (71,79%) dan Jawa Timur (70,02%).

“Bukan tidak mungkin jika angka terus naik sampai minggu depan maka RS tersebut kolaps atau tidak bisa lagi menerima pasien karena sudah penuh,” ujanya kepada BenarNews.

“Kami kesulitan juga karena hunian tidak bisa menerima pasien baru, pasien lama juga kan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa sembuh jadi bukannya menolak,” ujarnya.  

Ia menjelaskan, untuk beberapa kasus, ada yang membutuhkan ruang ICU namun karena penuh ditempatkan ke ruangan biasa. “Ada gradasi penurunan kualitas pelayanan kesehatan, IGD juga penuh karena waiting list sudah banyak. Hal ini bisa menyebabkan angka kematian yang semakin tinggi,” ujar dia

Saat ini karena keadaan darurat, banyak tempat tidur untuk pasien biasa diubah menjadi ruangan untuk pasien COVID-19 sehingga pelayanan untuk pasien lain pun juga terganggu.

“Artinya pasien yang seharusnya dirawat karena penyakit lain tidak bisa lagi dirawat. Kondisi ini sudah tidak ideal untuk pelayanan, tidak ada kesesuaian kasus dengan fasilitas yang dibutuhkan,” ujar dia.  

Menurut Juru Bicara Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Halik Malik, semua pihak seharusnya bergotong royong untuk mendukung dokter dan fasilitas kesehatan agar mampu melaksanakan tugas dan memberikan pelayanan dengan baik.

“Kesiapsiagaan faskes dan dokter di Indonesia belum memadai, sementara beban pelayanan terus meningkat atau tidak kunjung berkurang, karena angka temuan kasus yang masih tinggi bahkan meningkat, akibatnya sebagian dokter terpaksa bekerja overload/overtime, kelelahan di tengah minimnya perlindungan,” katanya kepada Benarnews.

“Kesenjangan kapasitas sistem kesehatan antar wilayah dan ketimpangan sumberdaya antar faskes menyebabkan perbedaan respon yang mencolok dalam surge capacity [kemampuan menampung] akibat pandemi hal ini berdampak juga pada tingginya angka kematian,” tambahnya.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dijadwalkan menerima suntikan vaksin COVID-19 dosis kedua pada Rabu pagi di Istana Merdeka.

Sebelumnya, Jokowi menerima suntikan pertama pada 13 Januari 2021 lalu.

Pada Senin, Jokowi mengklaim bahwa pemerintah berhasil menangani krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi.

“Kita bersyukur Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik,” kata Jokowi dalam acara Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-gereja (PGI) di Indonesia yang ditayangkan di YouTube. (Sumber: benarnews.org)

‘PostBanner’

Comment