by

Dua Prajurit TNI Tewas dalam Kontak Tembak dengan Separatis Papua

Dua Prajurit TNI Tewas dalam Kontak Tembak dengan Separatis Papua

Smartcitymakassar.com – Dua anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) tewas pada Jumat (22/1) dalam baku tembak dengan kelompok separatis di Kabupaten Intan Jaya, Papua, demikian juru bicara militer, sebaliknya kelompok anti pemerintah mengklaim telah menembak tiga orang militer dan mengatakan akan terus melakukan serangan hingga pemerintah memenuhi tuntutan mereka untuk lepas dari Indonesia.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap kelompok separatis yang terlibat dalam kontak senjata tersebut mengklaim tidak ada korban jiwa yang meninggal dunia maupun terluka dari kubunya.

‘FooterBanner’


“Kelompok kiriminal bersenjata (KKB) di Papua kembali melakukan aksi terornya dengan menembaki prajurit dari Yonif R 400/BR yang mengakibatkan dua prajurit TNI gugur,” kata Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi I Gusti Nyoman Suriastawa, kepada BenarNews

Suriastawa menyebut identitas dua prajurit yang gugur adalah Pratu Roy Vebrianto dan Pratu Dedi Hamdani. 

Pratu Roy ditembak dari jarak 200 meter usai dirinya melaksanakan ibadah salat Subuh di Pos Titigi di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Sementara Pratu Dedi yang bertugas di Pos Hitadipa ditembak saat melakukan pengejaran kepada anggota separatis. 

“Korban juga ditembaki secara membabi buta dari arah ketinggian di hutan yang terletak antara Kampung Sugapa Lama dan Kampung Hitadipa,” kata Suriastawa, menjelaskan kronologi serangan kepada Pratu Dedi. 

“Dua korban penembakan KKB itu, meninggal dunia saat dievakuasi ke Timika dengan menggunakan heli Caracal,” sambungnya. 

‘Akan terus lakukan serangan’

Sebby Sambon, juru bicara TPNPB, mengklaim anggotanya berhasil menembak mati tiga prajurit TNI dalam penyerangan yang dipimpin komandan lapangan TPNPB atas nama Yosua Waker. 

“Ya betul, tiga orang TNI kami tembak mati,” kata Sebby kepada BenarNews. 

“Dalam kontak senjata itu, TPNPB kami tidak ada yang korban maupun luka-luka,” katanya. 

Sebby mengatakan pihaknya akan terus melakukan penyerangan pasukan TNI/Polri selama pemerintah Indonesia tidak mengakui hak politik Papua untuk menentukan nasibnya sendiri. 

“Dalam hal ini kami juga minta perhatian Dewan Keamanan PBB, karena eskalasi konflik perang pembebasan Papua Barat yang dilakukan TPNPB semakin meningkat, dan juga akibat perang banyak korban,” ujarnya.

Suriastawa membantah klaim TPNPB dengan menegaskan kembali bahwa prajurit yang tewas berjumlah dua orang serta menyebutkan kemungkinan adanya anggota TPNPB yang terkena tembak dalam insiden yang berlangsung dari pukul 05.00 hingga 12.00 WIT itu. 

“Memang kami belum bisa mengecek kepastiannya karena KKB berada di ketinggian yang sulit dikejar. Tapi kemungkinan besar ada yang kena tembak juga karena kontaknya cukup lama,” kata Suriastawa. 

BACA JUGA:  Di Indonesia, Kebebasan Pers Masih Dihantui Kekerasan Pada Jurnalis

Ini adalah kontak senjata antara kelompok separatis dengan aparat keamanan kedua yang terjadi di Titigi, salah satu perkampungan dekat Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, sepanjang Januari 2021. 

Insiden pertama terjadi pada 9 Januari, saat Prada Agus Kurniawan tewas tertembak di bagian punggung dalam baku tembak dengan kelompok separatis yang terjadi. 

Merespons hal tersebut, Suriastawa mengaku pihaknya tidak akan menambah pasukan pengamanan di Hitadipa. “Tidak ada, namun Yonif R400/BR akan segera diganti paling lambat awal bulan Februari,” tukasnya.

Sementara TPNPB mengaku akan tetap siaga menyusul kemungkinan pengejaran dari aparat keamanan Indonesia. 

Pada awal tahun, kelompok separatis juga menyerang dan membakar pesawat Twin Otter perintis milik Mission Aviation Fellowship (MAF) yang baru mendarat di Distrik Biandoga, Kabupaten Intan Jaya.

Pilot MAF berkewarganegaraan Amerika Serikat bernama Alex Luferchek dan dua penumpang berhasil diselamatkan oleh tokoh agama setempat, namun pesawat dibakar habis, kata pejabat kepolisian setempat.

Pada hari yang sama dengan pembakaran pesawat di Intan Jaya tersebut, sebuah helikopter yang dikemudikan pilot berkewarganegaraan asing saat melakukan survei letak permukaan bumi (GPS) untuk PT Freeport Indonesia di daerah Benangin Tembagapura, Kabupaten Mimika, juga ditembak oleh separatis. Tidak ada korban jiwa dalam kedua kejadian itu.

Kekerasan di Hitadipa, baik berupa kontak senjata antara aparat dan separatis maupun kekerasan kepada warga sipil terjadi sejak aparat TNI bermukim di wilayah perkampungan tersebut, sebut Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya, kelompok investigasi independen yang terdiri dari aktivis dan tokoh masyarakat Papua pada Oktober tahun lalu. 

Tiga warga sipil, Luther Zanambani, Apinus Zanambani dan Pendeta Yeremia Zanambani, tewas di tangan aparat, dan dua prajurit tewas oleh separatis dalam penyerangan yang terjadi pada April dan September 2020.  

Terkait kematian Luther dan Apinus, Komandan Polisi Militer TNI AD Dodik Widjanarko mengakui anggotanya melakukan penyiksaan kepada dua korban dengan turut membakar mayat dan membuang debu mereka ke sungai karena dicurigai sebagai anggota kelompok separatis. 

Pihak militer telah menetapkan sembilan tersangka dan mendalami kemungkinan keterlibatan tiga anggota lainnya. Sementara terkait kasus tewasnya pendeta Yeremia, Dodik mengatakan penyidik TNI masih mengumpulkan bukti. (Sumber: benarnews.org)

‘PostBanner’

Comment