by

Sosial Budaya di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Kata Pengamat

Budayawan Sulawesi Selatan (Sulsel) sekaligus mantan anggota DPR RI, Asmin Amin.(As)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Dampak pandemi Covid-19 atau yang biasa didengar dengan nama virus Corona tidak hanya terlihat dari sektor kesehatan dan ekonomi semata. Pandemi yang telah banyak merenggut korban jiwa ini juga sangat berdampak pada sektor sosial budaya.

Berbicara sosial budaya, Budayawan Sulawesi Selatan (Sulsel), Asmin Amin menyampaikan, hadirnya Covid-19 di Negara Indonesia itu secara tidak langsung telah menganiaya budaya kita. Bahkan kata dia, Covid-19 ini menganiaya Agama.

‘FooterBanner’


“Fakta yang paling real misalnya dari segi Agama kita (Islam), pemerintah ini tidak berusaha membuat protokol penanganan kematian, penguburan Covid-19 ini yang sesuai dengan Agama kita, karena ada beberapa aturan yang harus dilakukan sebelum penguburan. Dan jika itu tidak dilakukan, maka 1 kampung itu bisa berdosa”, jelas orang yang kerap disapa Tetta ini saat ditemui dikediamannya. Kamis (21/1/2021).

Bahkan, hadirnya Covid-19 ditanah air, silaturahmi sesama umat manusia juga terbatas. Pasalnya, ada aturan protokol kesahatan yang harus ditaati. Dengan adanya protokol kesehatan ini, kata Tetta, pemerintah bisa bertindak apa saja.

BACA JUGA:  Iman Hud: Bagi Pelaku Usaha yang Terus Membandel, Kita Beri Sanksi Tegas

“Dia (pemerintah) bisa menggunakan dana berapa saja, dia bisa endapkan kemana saja, batasi pertemuan – pertemuan, hingga demo – demo dibatasi. Bahkan dengan protokol ini, dia bisa perintahkan Polisi dan TNI untuk bertindak tegas. Dengan demikian muncul kecurigaan bahwa pemerintah ingin memelihara protokol ini”, kata Pengamat Sosial dan Budaya asal Jenneponto ini.

“Ini sangat kasar, Bicara saja (saya ambil contoh yang di Bali itu), bicara saja soal masker itu ditangkapi dan diadili. Jadi menurut saya, patut dicurigai bahwasannya protokol ini dipelihara untuk melanggengkan otoriter pemerintah, bahkan masih banyak keanehan yang telah memporakporandakan sistem sosial kita”, tambah Tetta yang juga eks anggota DPR RI.

Intinya, menurut Tetta, “pemerintah tidak berusaha membuat protokol khusus yang sesuai agama dan kebudayan kita, mereka ‘memakan’ mentah aturan dari WHO yang kemungkinan banyak orang sana yang tidak paham dengan agama dan paham dengan kebudayan kita”, tutupnya.(As)

‘PostBanner’

Comment