by

Rabu Hijrah dan Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) Gelar Talk Show Bertema ‘Reorientasi Umat dari Politik ke Ekonomi Syariah’

Keterangan Foto: Rabu Hijrah dan Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) Gelar Talk Show Bertema ‘Reorientasi Umat dari Politik ke Ekonomi’

Smartcitymakassar.com – Makassar. Pandemi COVID-19 serta gejolak politik dalam negeri membawa dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Di tengah segala dinamika yang ada, sekelompok generasi muda Islam yang tergabung dalam Rabu Hijrah tetap konsisten menyuarakan pentingnya memaksimalkan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Pada kesempatan ini, Rabu Hijrah bekerja sama dengan Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) menggelar sebuah talk show dengan tema “Reorientasi Umat dari Politik ke Ekonomi Syariah.”

‘FooterBanner’


Mengambil momentum 212, talk show ini diselenggarakan pada Rabu, 2 Desember 2020 malam di Mesjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pasat. Dihadiri oleh aktivis Pemuda Islam tingkat nasional dan umum, baik secara fisik maupun virtual.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM Pemuda Islam Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman serta memaksimalkan potensi ekonomi umat Islam di Indonesia terlepas gejolak politik dalam negeri.

Adapun pembicara pada talk show ini adalah KH. Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia; Puteri Komarudin, Anggota Komisi XI DPR RI; Guntur Subagja, Asisten Stafsus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan, dan Arief Rosyid Hasan, Ketua Pemuda DMI yang juga merupakan Penggagas Rabu Hijrah.

Sesuai arahan dari Wakil Presiden Republik Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, terkait arus baru ekonomi Indonesia untuk penguatan ekonomi dan keuangan syariah, Guntur Subagja, Asisten Stafsus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan yang membuka diskusi mengatakan, “Bapak Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin menekankan pentingnya sistem ekonomi yang berkeadilan dan keumatan. Mengapa kita harus pro aktif dalam membangun ekonomi umat? Lima besar eksportir produk halal terbesar di dunia tidak ada yang negara Muslim. Sebaliknya, lima besar importirnya adalah negara-negara Muslim, termasuk Indonesia.”

Arahan dari Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin seolah bagai gayung bersambut dengan apa yang selama ini disuarakan oleh para aktivis Rabu Hijrah. Konsisten merangkul dan menggerakkan generasi muda Islam sejak tahun 2004, serta mengawal isu ekonomi keumatan sejak 2010, Arief Rosyid Hasan Ketua Pemuda DMI serta Penggagas Rabu Hijrah merasa sangat berbahagia atas sambutan baik dari para narasumber yang berkenan berbagi dalam talk show pada hari ini. Arief menyampaikan, “Kita semua bertanggung jawab untuk membangun ekonomi umat. Reorientasi umat dari politik ke Ekonomi Syariah bukan berarti kita tidak perlu mengurus politik, tapi di tengah situasi politik dalam negeri saat ini, mari kita bersama-sama fokus memaksimalkan potensi Ekonomi Syariah di negara kita.”

BACA JUGA:  Bank Syariah Indonesia dan Cita-cita KH Ma'ruf Amin

Menanggapi pemaparan Guntur dan Arief terkait perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia, Puteri Komarudin, Anggota Komisi XI DPR RI mengatakan, “Kita harus mengapresiasi langkah pemerintah, melalui Kementrian BUMN, yang akan melakukan merger bank syariah. Harapannya, bank syariah dapat semakin menggerakkan UMKM dan tentunya semakin membesarkan Ekonomi Syariah Indonesia di mata dunia. Contohnya dalam hal industri halal; selama ini Indonesia hanya menjadi pasar industri halal yang besar namun belum menjadi produsen. Harapannya, industri halal bisa semakin ditingkatkan lagi agar menjadi suatu kesatuan yang holistik.”

Putri dari mantan politisi Golkar Ade Komarudin ini menegaskan, “Oleh sebab itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk mendukung RUU Ekonomi Syariah. Pembahasannya belum dimulai saat ini, tetapi kita memerlukan dukungan dan aspirasi dari rekan-rekan yang hadir di ruangan ini,”

Bergabung secara virtual, KH. Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin menuturkan, “Kembali mereorientasikan umat ke ekonomi. Tema disksusi malam ini sangat relevan dengan situasi yang sedang dihadapi bangsa. Satu jawaban saya, mari kita fokus pada pesantren-pesantren agar memiliki kurikulum pengembangan ekonomi dan pengembangan keterampilan berekonomi. Jangan hanya keterampilan mengajar atau keterampilan Bahasa, agama, dakwah, dan sebagainya, tapi melupakan ekonomi.”

KH. Hamka Haq pun menambahkan, “tanpa keahlian di bidang ekonomi dan teknologi yang diperlukan dalam mengelola ekonomi, maka SDM kita akan terus digarap oleh orang asing.”

Acara talk show pada hari ini hanya merupakan bagian dari agenda besar Rabu Hijrah untuk menyuarakan ekonomi umat sampai ke kota-kota lain di Indonesia. Pada akhirnya, akselerasi Ekonomi Syariah memerlukan setiap sektor dan lini masyarakat untuk bahu-membahu demi tercapainya potensi yang maksimal**(Jen)

‘PostBanner’

Comment