by

(Coretan Redaksi) Pilah Pilih Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Makassar

Ilustrasi kursi kekuasaan

Smartcitymakassar.com – HAJATAN Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar tersisa kurang lebih dua minggu lagi. Bisa dipastikan mayoritas pemilih Makassar sudah menjatuhkan pilihannya pada salah satu kandidat yang berkompetisi.

Dengan begitu, tulisan ini bukan ditujukan untuk ikut menggarami lautan dengan cara menyodorkan argumen agar pemilih mengarahkan pilihannya ke salah satu kandidat.

‘FooterBanner’


Catatan pendek ini hanya sekadar ingin kembali merefleksikan esensi demokrasi yang menjadi akar subtansial dari pemilihan langsung pemimpin domestik di suatu daerah.

Pilwali dalam bingkai besar demokrasi adalah sebuah tahapan. Tahapan ini bisa dikatakan jadi bagian paling penting dalam rangkaian pembangunan demokrasi. Di saat inilah rakyat diletakkan kembali sebagai pemegang penuh kedaulatan dalam memilih atau memandatkan kekuasaannya kepada seorang pemimpin. Di saat ini pula rakyat meletakkan diri sebagai pemegang hak penuh kedaulatan dalam menetukan arah masa depan kota dan harapannya tentang kesejahteraan mereka dikemudian hari.

Untuk menuju ke sana, mau tak-mau sangat diperlukan kecerdasan dalam memilah dan memilih calon pemimpin. Transformasi dari rakyat kebanyakan menjadi warga (citizen) sangat diperlukan. Landasan paling pokok dari transformasi ini adalah bagaimana warga merasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gerak dinamika kotanya. Dengan kata lain, ada kesadaran penuh bahwa setiap kebijakan yang nanti dikeluarkan oleh pemerintah kota bakal berdampak besar bagi kehidupannya.

BACA JUGA:  Muscab PPP Soppeng Digelar 18 September, Andi Nurhidayati Undang Bupati dan Wakil Bupati

Di sinilah diperlukan sikap kritis warga dalam menelisik track record para calon pemimpin. Warga harus membuka semua referensinya dalam membaca jejak rekam para calon. Warga juga harus bisa mengukur sejauh mana janji para calon di saat kampanye bisa diwujudkan dan tidak hanya berhenti pada bualan semata.

Dengan demikian kita tak akan terjebak pada kemanisan janji karena terbawa emosional tapi tetap mengedepankan sikap kritis rasional dalam menentukan pemimpin (baca: pelayan) kita dan wajah kota di masa 5 tahun ke depan.

Selamat memilih! (MG)

Comment