by

Lewat Diskotik, Komunitas Peradaban Makassar Diskusikan “Pemimpin Impian Makassar dan Dinamika Berdemokrasi”

Keterangan: Sejumlah Komunitas/Organisasi hadiri Diskusi Kopi Politik (Diskotik) Komunitas Peradaban Makassar / foto: Ist.

Smartcitymakassar.com – Makassar. Berdiskusi bagi sebagian orang adalah kebutuhan, sebagai respon atas situasi yang berkembang di sekeliling. Ia adalah satu tradisi intelektual yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa perlu label intelektual, seperti halnya dengan komunitas ini.

Komunitas Peradaban Makassar kembali menggelar Diskusi Kopi Politik (Diskotik) di Warkop Chemistry, Jalan Perumnas Antang. Jumat (23/10/2020) malam.

‘FooterBanner’


Di diskotik yang ke-5 ini, komunitas ini mengangkat topik diskusi “Walikota Impian Warga dan Dinamika Demokrasi” yang masih seputar Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar yang akan digelar pada 9 Desember 2020.

Mengawali pembahasan, Founder Komunitas Peradaban Makassar, Mashud Azikin, menyinggung soal kepercayaan dan tradisi. Manusia bisa saling percaya satu sama lain bila tradisi tetap dipertahankan dalam sebuah komunitas masyarakat. Namun demikian, tradisi akan musnah dan ditinggalkan orang sesuai dengan tuntutan waktu.

Sebuah aturan dalam masyarakat diawal kemunculannya pasti akan menghadapi kritik atau bahkan penolakan, dan ketika aturan itu sudah ‘familiar’, tentu saja penolakan tersebut akan berhenti dengan sendirinya, pada fase inilah tatanan tersebut akan tumbuh menjadi sebuah “tradisi”.

“Maka dari itu, karakter kepemimpinan yang kuat akan sangat menentukan lahirnya sebuah budaya baru yang berguna bagi masyarakat,” ucapnya.

Sementara, Founder Glassnet yang merupakan sebuah organisasi nirlaba yang menghimpun warga-warga mancanegara yang pernah bermukin di Kota Makassar, menjelaskan, “Ngopi” pada hakekatnya adalah suatu “gerakan” itu sendiri. Sehingga, lanjut dia, pada abad 14, Ngopi sempat dilarang oleh otoritas Turki.

Dia menyampaikan, kopi sebagai komoditas harus mendapatkan market-nya. Dengan demikian, para pedagang kemudian mencari zona pasar ke Eropa. Sama halnya dengan di Turkey yang mendapat lampu – merah tak boleh masuk Roma oleh otoritas Vatican saat itu.

BACA JUGA:  Dari Nelayan, Pedagang hingga Ibu Rumah Tangga Makin Optimis Pilih ADAMA’

“Saya menangkap apa yang dilakukan oleh Komunitas Peradaban Makassar ini adalah menjadikan ‘Ngopi’ sebagai semacam ‘Strategi Gerakan’,” terang Iqbal Nur Abdurrahman.

Bagi Iqbal, dalam perspektif NGOPI, Komunitas Peradaban Makassar telah memasuki fase “N” (Niat) dan “G” (Gerak) dan sedang berproses ke fase “O” yakni (Organize). dan selanjutnya akan memasuki fase “Program”.

“Saya sangat mendambakan jika seandainya kelompok yang berlainan lokasi di Makassar yang terhubung satu sama lain dalam forum diskusi ini yang “bertemu” dalam kepentingan dan kepedulian bersama membuat semacam resolusi berupa ‘Piagam Makassar’,” urai laki-laki keturunan Selayar yang lama bermukim di Eropa dan Kanada ini.

Di tempat yang sama, penggiat media sosial, Ahmad Said, juga membenarkan bahwa para pejabat cenderung melakukan praktik “tukar-tambah” kekuasaan. Tetapi, menurut dia, disini harus difahami bahwa politik itu sendiri adalah seni mengelola kepentingan dari berbagai elemen pendukung dan publik.

“Sehingga sistem ber-Demokrasi dialam era Industrialisasi 4.0 saat ini merupakan tantangan tersendiri bagi para ‘pemangku-Kebijakan’ dari Piagam-Makassar itu nantinya”, terang Ahmad Said.

Diskusi yang berlangsung sangat menarik dan dinamis ini dipandu oleh Wahyuddin Yunus sebagai moderator ini, turut dihadiri oleh Andi Anshari Salahuddin (politisi Partai Nasdem), Umar Hankam (Pegiat Media Online), Zainal Csr (Founder Kopigikeliling), Hayat Anas (Partai Berkarya), Andi Fuad Abbas (Forum Suara Rakyat), Muh Rafli Imran (Pengacara), Muh Aulia Fajrin (Kopigikeliling).

Selain itu, Syahrul (wartawan), Faisal (Warkop Institute), Muhammad Dzulfikar (Pengacara) dan beberapa Aktifis daei kaum millenial Makassar turut hadir dalam diskusi ini.** (As)

‘PostBanner’

Comment