by

Menggelar Diskotik ke 4, Komunitas Peradaban Makassar Bahas Rekam Jejak Wali Kota Makassar dari Masa ke Masa

Komunitas Peradaban Makassar saat gelar Diskusi Kopi Politik (Diskotik).(ist)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Sudah 3 pekan, Komunitas Peradaban Makassar menggelar diskusi dengan tema ‘Diskotik’ (Diskusi Kopi Politik) dimana membahas keresahan warga Makassar atas terjadinya degradasi kebudayaan di Kota Anging Mammiri ini di Warkop Chemistry, jalan Perumnas Antang. Jum’at (16/10/2020), lalu.

Gagasan ini sebagai tindak lanjut atas laju derap pembangunan di Kota yang semakin yang tak terarah dan tak terkendali. Komunitas Peradaban Makassar sejak dini telah menghimpun berbagai lapisan masyarakat termasuk generasi Milenial untuk ikut berkontribusi dalam setiap gelaran diskusi yang diadakan.

‘FooterBanner’


Diketahui, pekan lalu (9/10/2020) Politik Uang dan Peran Generasi Milenial dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar menjadi tema yang mengemuka.

Pada Diskotik Ke-4 ini (16/10/2020), Rekam jejak Para Wali Kota Makassar di era pemerintahan orde baru sampai orde reformasi menjadi tajuk diskusi paling menarik dan sexy saat menjelang perhelatan Pilwalkot Makassar yang jatuh 9 Desember 2020 nanti.

Bicara Wali Kota Makassar tentu saja tak bisa dilepaskan sejarah Kota Makassar itu sendiri dan bagaimana rekam jejak para Wali Kota Makassar itu ketika mengemban amanah mengelola pemerintahan Kota yang di abad ke-17 pernah menjadi Bandar Dagang paling “kosmopolit” di kawasan Asia tenggara mengalahkan Tumasik (yang sekarang kita kenal dengan Singapura), ketika itu volume dagang Makassar mencapai 46 juta gulden melampaui singapura yang hanya 16 juta gulden.

Dalam pengantar diskusi kali ini, Founder Komunitas Peradaban Makassar, Mashud Azikin yang mengajak peserta diskusi menelusuri rekam jejak para Walikota Makassar, dari Era Walikota HM Daeng Patompo, Abustam, Jancy Raib, Suwahyo, Malik B Masry, HB. Amiruddin Maula, Ilham Arief Sirajuddin dan Moh Ramdhan Pomanto (Danny Pomanto) dengan berbagai Legacy yang ditinggalkan oleh masing-masing Wali Kota.

BACA JUGA:  Communivation ke-13 Makassar Digital Valley Bahas Tema 'Digitalisasi Tata Kelola Desa'

“Penelusuran rekam jejak mereka ini akan kita jadikan sebagai Time Machine atau mesin waktu untuk proses tapaktilas perjalanan kepemimpinan mereka dimasa lalu untuk diproyeksikan dalam “mereinventing” kejayaan Makassar di masa yang akan datang”, tutur sarjana Kimia Unhas Makassar ini yang saat ini giat melakukan mengembangkan beberapa Komunitas Masyarakat di Kecamatan Manggala Kota Makassar.

Lain halnya dengan ungkapan Founder Kopigikeliling, Zainal CSR yang lebih banyak memberikan pandangan dari perspektif budaya, adat istiadat dan kondisi kesejarahan Kota Makassar di masa lalu.

Yang tak kala’ menariknya adalah usulan dari beberapa peserta diskusi yang menyarakan agar Diskotik (Diskusi Kopi Politik) lebih ditingkatkan menjadi semacam ‘Forum Warga Makassar’ yang nantinya menjadi Forum Dialog antara warga Kota dengan Wali Kota sebagai pengampuh perkembangan peradaban Kota Makassar dimasa yang akan datang,

“Forum ini harus menghasilkan semacam Piagam yang berisi harapan warga terhadap para pemimpinnya berupa target pencapaiannya yang harus dikerjakan oleh para Walikota dalam jangka pendek dan jangka panjang selain program-program yang tertuang dalam janji-janji kampanye ketika terpilih nanti”, kata Ahmad Said, aktifis pergerakan yang saat ini menyibukkan diri sebagai penggiat media sosial.

Sekedar diketahui, dalam diskusi yang mencapai jam 03.00 dini hari ini, turut dihadiri oleh Politisi Partai Berkarya, Zakaria Ibrahim dan Hayat Annas, Penulis dan Penggagas Kampung Bambu Toddopulia, Wahyuddin Yunus, Warkop Institute, Forum Suara Rakyat, Forsik (Forum Sipakainga), beberapa aktifis dari generasi Millenial Makassar.(*As)

‘PostBanner’

Comment