by

Coretan Redaksi: Pertamina Hadir dalam Denyut Nadi Masyarakat Sulawesi

Keterangan Foto: Logo PT. Pertamina (Persero)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau biasa kita kenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah pendekatan bisnis dengan memberikan konstribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan dengan memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Istilah CSR ini dikenal secara global saat John Elkintong menerbitkan bukunya tahun 1998 berjudul “Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”. Elkintong memperkenalkan konsep Triple Bottom Line (TBL) dengan 3 P yaitu; People, Planet dan Profit. Ketiga unsur ini adalah pilar yang mengukur nilai kesuksesan suatu perusahaan dengan kriteria; ekonomi, lingkungan dan sosial.

‘FooterBanner’


Di Indonesia, CSR menjadi kukuh sebagai komitmen perusahaan ketika terbit Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, berupa tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, dengan upaya peningkatan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

Pertamina sejak 17 September 2003 berubah status hukumnya menjadi PT. Pertamina (Persero) berdasarkan Akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH No. 20 dan disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM melalui Surat Keputusan No. C-24025 HT.01.01 tanggal 09 Oktober 2003. Perubahan status hukum Pertamina menjadi sebuah konsekuensi logis untuk melaksanakan undang-undang tersebut.

Terlepas dari itu semua, kiprah Pertamina selalu hadir dan begitu mentereng di setiap kehidupan masyarakat Sulawesi. Saat pandemi Covid-19 melanda negeri Indonesia. Dengan sigapnya, Pertamina ikut andil menekan laju penyebaran virus yang menjadi momok masyarakat dengan cara menjadikan wilayah operasi Pertamina sebagai Desa Siaga Covid-19.

Hal itu dilakukan sebagai pemberdayaan masyarakat setempat, upaya preventif dan juga pre-emtif (upaya awal) pencegahan penyebaran virus. Komunitas masyarakat diberdayakan dengan cara memproduksi masker, hand sanitizer dan beberapa face shield. Hasil produksi tersebut dibeli Pertamina dan dibagikan kembali dalam bentuk bantuan. Desa Siaga Covid-19 berada di Ujung Lare (Parepare), Kelurahan Maesa (Bitung), Desa Karang-Karangan (Palopo), Kelurahan Moengko (Poso), dan Kelurahan Lipu (Baubau).

Saat bencana melanda wilayah Sulawesi, Pertamina pun memberikan bantuan kepada korban. Misalnya bencana longsor Trans Sulawesi Palopo-Toraja, bencana banjir di Bantaeng, banjir di daerah Luwu, bencana banjir dan angin puting beliung di Sidrap dan Soppeng, bencana banjir dan longsor di Sangihe Sulawesi Utara, banjir bandang di Sigi Sulawesi Tenggara, serta banjir di Konawe.

Lestarikan Spesies yang Hampir Punah
Ada hal menarik dan inspiratif, ketika Pertamina turut serta melestarikan spesies burung endemik asli Makassar yang hampir punah. Pertamina juga melestarikan Rusa Timor (Rusa Timorensis) di Takalar. Berkaitan dengan kepeduliannya terhadap lestari alam, Pertamina gelar konservasi penyu dan pelepasan tukik di Pinrang.

BACA JUGA:  Begini TPA Tamangapa di Era Danny Pomanto

Kota Makassar punya spesies burung endemik yang statusnya hampir punah. Burung endemik tersebut adalah burung Kacamata Makassar (Zosterops Anomalus), burung Kacamata Sulawesi (Zozterops Consobrinorum), dan burung Kakatua Sulawesi (Sulphurea Sulphurea).

Darmawan Denassa asal Sulsel menginisiasi pelestarian burung endemik dengan membentuk Rumah Hijau Denassa (RHD) di tahun 2017. Setahun kemudian, pada 2018 Pertamina melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Hasanuddin Marketing Operation Region (MOR) VII membantu upaya RHD untuk melestarikan burung endemik tersebut.

Program ini diawali pembuatan ekosistem yang mendukung tumbuh-kembang burung Kacamata Sulawesi dan burung Kacamata Makassar dengan penanaman pohon Sappang (Caesalpinia sappan L), Rao (Drankontamelon dao), dan Kapuk Randu (Ceiba pentadra) di lahan seluas 2,2 Ha.

Apa hasilnya setelah Pertamina ikut ambil bagian? Awalnya, populasi burung Kacamata Makassar dan burung Kacamata Sulawesi di area konservasi hanya berkisar 3-4 pasang dan 20-25 pasang. Pasca upaya pelestarian dilakukan, populasi berkembang menjadi 5-7 pasang untuk burung Kacamata Makassar dan 40 pasang untuk burung Kacamata Sulawesi. Bersama Pertamina, upaya konservasi yang dilakukan Rumah Hijau Denassa terus berkembang.

Lestarikan Rusa Timor
Tahun 2019, kejasama antara Pertamina dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) melestarikan Rusa Timor di kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Setahun kemudian, Rusa Timor yang dikembang-biakkan melahirkan anak rusa tapa cacat bernama Ifati.

Kerjasama ini berlangsung tahun 2019 dengan menggandeng Kelompok Mammetang yang beranggotakan 25 orang mengembangbiakkan Rusa Timor (Rusa Timorensis) dengan konsep penangkaran rusa rakyat terintegrasi dan berkelanjutan di Desa Cakura, kecamatan Polongbangkeng Selatan, kabupaten Takalar.

Lestarikan Alam dan Wilayah Pesisir
Pada bulan September 2020 lalu, sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam, Pertamina menggelar Sosialisasi Konservasi Penyu dan Pengembangan Ekowisata Pesisir di lokasi wisata Pantai Lowita, desa Wiringtasi, kecamatan Suppa, kabupaten Pinrang.

Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kestabilan penyu yang populasinya terancam punah akibat tindakan perburuan telur penyu untuk dijual atau dikonsumsi. Sesuai Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, Penyu termasuk satwa yang dilindungi.

Atas kesadaran pentingnya menjaga populasi penyu, masyarakat berusaha mengumpulkan kembali telur penyu yang sudah beredar, kemudian ditetaskan. Telur penyu yang sudah ditetaskan menghasilkan tukik. Sebanyak 56 tukik dilepaskan di Pantai Lowita yang memiliki potensi konservasi sumber daya alam sebagai tempat bertelurnya penyu**(Rafa)

‘PostBanner’

Comment