by

Coretan Redaksi: Pilkada dengan Publik yang Cerdas

Ilustrasi pilkada 2020

Smartcitymakassar.com – ATMOSFIR politik jelang Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Makassar 2020 terasa semakin memanas. Dinamika antara pendukung baik dari kalangan partai maupun relawan semakin gegap gempita.

Hal ini sangat wajar, mengingat perhelatan memilih orang nomor 1 di Makassar ini hanya menyisakan hitungan hari. Seperti laiknya jelang Pilwalkot sebelum-sebelummnya, suasana hiruk-pikuk -terutama di jagat media sosial- semakin seru. Perebutan wacana dan pembangunan opini menjadi bagian dari medan pertempuran dalam meraih simpati dukungan terhadap kandidat yang bertarung.

‘FooterBanner’


Dalam konteks pembangunan opini serta percaturan perebutan isu, kita mengenal ada 3 cara yang kerap digunakan para tim sukses maupun relawan. Pertama kampanye positif. Kampanye jenis ini dilakukan dengan cara memperkuat citra figur kandidat dengan menonjolkan sisi baik kandidat tersebut. Baik itu tentang integritas, kesuksesan, ketegasan, kepemimpinan dan lain-lain.

Kedua adalah kampanye negatif. Kampanye jenis ini biasanya menyasar kandidat tertentu dengan ‘mengumbar’ konten negatif. Tapi kampenye ini bukan hoaks atau fake news karena memang mengandung fakta terkait kekurangan seorang kandidat. Dalam politik, kampanye jenis ini sah-sah saja bahkan memang diperlukan agar publik tahu apa yang menjadi track record kandidat.

BACA JUGA:  Silaturahmi dengan Pendukungnya, Danny Pomanto: Danny-Fatma Tidak Ada 'Dekkeng na' Hanya Rakyat Dibelakangnya

Ketiga adalah kampanye hitam. Kampanye ini berisi hoaks dan fake news yang menjurus ke fitnah. Kampanye ini tak memiliki dasar kebenaran apa pun selain dipergunakan untuk menyesatkan persepsi publik. Kandidat atau pendukung kandidat yang memakai jenis kampanye hitam ini bisa dinilai telah menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Dan kandidat semacam ini layak untuk tak dipilih.

Politik pilkada sebaiknya dibangun dengan dasar etika serta memperkuat demokrasi yang mencerdaskan publik. Bila tidak maka yang tersuguhkan adalah umbaran fitnah dan ujung-ujungnya kita hanya akan melahirkan penguasa dan bukan pemimpin. (MG)

‘PostBanner’

Comment