by

Terbaru, PVMBG Kementerian ESDM Rilis Hasil Kajian Banjir Bandang Lutra

Faktor penyebab banjir Lutra (esdm)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Sebulan setelah banjir bandang yang melanda Luwu Utara, Badan Geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu (12/8/2020), merilis hasil kaji cepat kegiatan Tanggap Darurat bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bertajuk Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Banjir Bandang Di Kecamatan Masamba Dan Kecamatan Baebunta, Lutra, berikut hasil kajian PVMBG selengkapnya:

‘FooterBanner’


1. LOKASI DAN WAKTU KEJADIAN

Banjir bandang terjadi di Kota Masamba dan lima kota lainnya meliputi Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara. Banjir Bandang terjadi pada hari Senin, 13 Juli 2020 malam pukul 21.00 WITA. Informasi dari lokasi kejadian bencana yang berada di tepi S. Kula, Desa Kemiri, luapan banjir yang membawa material pasir pernah terjadi pada pertengahan Mei 2020 dan pada hari Minggu malam tanggal 12 Juli 2020

2. JENIS BENCANA

Bencana yang terjadi berupa banjir bandang/aliran bahan rombakan akibat longsoran bagian hulu sungai Radda dan sungai Kula yang menyatu menjadi Sungai Massamba di Kota Massamba serta longsoran akibat erosi lateral sepanjang alur yang dilaluinya serta dipicuh curah hujan tinggi dengan intensitas lama.

3. DAMPAK DAN POTENSI DAMPAK KEDEPAN GERAKAN TANAH DAN BANJIR BANDANG/ALIRAN BAHAN ROMBAKAN:

1) Dampak korban Banjir Bandang berdasarkan Data Resmi Pemerintah Daerah Kab. Luwu Utara tertanggal 23 Juli 2020; (a) Korban yang terdiri dari korban hilang 10 orang; korban luka /dirawat 106 orang dan korban meninggal dunia 38 orang, dan (b) Pemukiman terdiri 2827 unit rusak ; distribusi transimisi listrik, jaringan air minum , jembatan terputus.

2) Kondisi alur sungai pasca banjir bandang :

a. Terbukanya lahan hutan akibat kejadian gerakan tanah di bagian hulu sungai yang merupakan daerah tangkapan hujan. Gerakan tanah dan banjir bandang berpotensi terulang Kembali.

b. Pendangkalan sungai, dan setempat – setempat terjadi juga pendalaman dasar sungai seperti di Desa Meli.

c Perluasan limpasan material pada alur sungai terutama pada pertemuan jembatan dan pada kelokan sungai.

4. KONDISI DAERAH BENCANA :

1) Karakteristik morfologi pada aliran sungai banjir bandang :

a. Hulu sungai banjir bandang berada di kawasan pegunungan yang berhutan lebat dan merupakan area tangkapan hujan. Wilayah tersebut membuka ke arah tenggara. Pada wilayah pedataran, alur sungai Radda berbelok ke arah selatan dan aliran sungai Kula menyatu dengan Sungai Massamba yang melewati Kota Massamba.

b. Perbukitan bergelombang tinggi dengan kemiringan lereng terjal (lebih dari 30°) dengan elevasi puncaknya di zona tangkapan hujan berkisar dari 175 – 1400 m dpl). Buttu Lero (1220 m .dpl) merupakan puncak tertinggi di Area Tangkapan hujan S. Radda yaitu . Sedangkan titik tertinggi di Area Tangkapan Hujan di S. Kula adalah puncak Buttu Magandang (lk 1453 m dpl). Lembah sungainya dicirikan lembah sungai sempit berbentuk V . Bagian tengah merupakan wilayah perbukitan bergelombang rendah sampai sedang ( 5° – 20° ) dengan ketinggian 50 – 175 m dpl. Pada wilayah pedataran berkemiringan lereng 0 – 5 ° dengan ketinggian < 50 m dpl. Pada bagian tengah dan pedataran, morfologi lembah sungai di bagian hilirnya berubah bentuk menjadi lembah lebar berbentuk U.

c. Perluasan lateral dataran banjir bandang alur sungai akibat gerusan / erosi lateral aliran dan limpasan endapan banjir bandang.

2) Geologi daerah aliran sungai terlanda banjir bandang :

a. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malili, Sulawesi (Simandjuntak, drr, 1991). Batuan penyusun pada wilayah dataran dan bantaran sungai berupa endapan alluvium (Qal) yang terdiri dari lumpur, lempung, pasir, kerikil dan kerakal. Pada bagian utara yang tersusun oleh Formasi Granit Kambuno (Tpkg) yang terdiri dari batuan beku Granit dan Granodiorit . Dan endapan lava basalt dan andesit, breksi gunungapi dan tuf dari Formasi Batuan Gunungapi Lamas (Tplv). Pada Formasi Granit Kambuno banyak ditemukan indikasi patahan/sesar geser lama

b. Pengamatan lapangan sepanjang sungai Radda dan Kula :

– Dibangun oleh jenis batuan beku granodirit (bagian dari Formasi Granit – Kambuno) banyak dijumpai retakan pada batuan akibat patahan masa lalu. Bagian atasnya telah mengalami proses lapukan semi lanjut (berwarna putih kelabu ) sampai lanjut (membentuk soil/tanah kuning – kemerahan). Pelapukannya jika terkena air dan tekanan bersifat urai. Sepanjang alur sungai, batuan granodiorit ditutupi secara tidak selaras endapan alluvium. Endapan alluvium berukuran pasir hingga fragmen berukuran boulder (> 2 m) merupakan salah satu indikator endapan banjir bandang masa lalu.

– Endapan banjir badang pada 13 Juli 2020 merupakan percampuran kayu dan batuan berbagai ukuran dari lumpur, pasir, kerikil dan kerakal hingga boulder batuan berdiameter mencapai 2 – 3 meter. Bentuk fragment batuan bervariasi dari menyudut yang merupakan indikasi material baru hingga membulat yang merupakan material batuan lama. Sumber endapan berasal dari batu dan pelapukan batuan granodiorit baik di S. Radda maupun S. Kula.

– Estimasi minimal volume endapan banjir bandang di Sungai Radda 5.352.919 m3 (Luasan landaan dari deliniasi drone : 3.167.408 m2 dengan estimasi tebal rata- rata 1,69 m.

– Estimasi minimal volume endapan banjir bandang di Sungai Kula 6.189.330 m3 (Luasan landaan dari deliniasi drone : 4.126. 220 m2 dengan estimasi tebal rata- rata 1,5 m).

3) Tata Guna Lahan :

Lahan pada alur sungai banjir dandang secara umum dapat dibagi dalam dua kategori :1. Lahan Hutan diatas alur sungai banjir bandang pada elevasi > 125 m dpl di Desa Meli dan pada ketinggian lebih dari >175 m dpl di Desa Maipi. 2. Lahan pemukiman, perkebunan serta persawahan pada elevasi < 125 m dpl di Desa Meli dan pada ketinggian < 175 m dpl di Desa Maipi

4) Keairan /Curah hujan :

a. Prakiraan curah hujan dari BMKG sejak yanggal 11 Juli – sampai tanggal 13 Juli 2020 : pada tanggal 11 Juli hingga 12 Juli 2020 , prakiraan curah hujan sedang berlangsung antara pukul 14:00 – 17 :00 WITA. Pada tanggal 13 Juli 2020, menunjukan parkiraan curah hujan rintik rintik

b. Sumber lokal masyarakat menyebutkan bahwa :

– Peningkatan debit air sungai, meluap ke pemukiman dan taman kota. Kejadian tersebut pada minggu ke dua bulan Mei 2020, pada malam Senin 12 Juli 2020 dan diakhiri oleh 13 Juli 2020 pukul 21:30 WITA

– Hujan lebat menerus dari siang dan berhenti menjelang magrib pada tanggal 13 Juli 2020 (Sumber: Bapak Jamal warga Desa Kemiri yang berbatasan dengan tepian S. Kula)

5. BERDASARKAN PETA PRAKIRAAN POTENSI TERJADI GERAKAN TANAH PADA :

a. Bulan Juli 2020 di Sulawesi Selatan (Badan Geologi), daerah alur sungai banjir Bandang terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

b. Sejak bulan Desember 2019 hingga Mei 2020, Wilayah hulu alur sungai banjir bandang merupakan wilayah potensi tinggi gerakan tanah sebagai implikasi potensi curah hujan tinggi. Indikasi proses penjenuhan tanah telah berlangsung lama.

BACA JUGA:  PW GP Ansor Sulsel Gelar Apel Kebangsaan Secara Virtual

6. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA BENCANA DIPERKIRAKAN :

a. Pola curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama beberapa bulan sebelumnya serta kejadian curah hujan lokal sebelum terjadi banjir bandang menjadi pemicu utama terjadinya bencana.

Hulu sungai merupakan morfologi tangkapan hujan (Catchment Area) dengan morfologi berupa lembah sempit di hulu sungai ( berbentuk V) menjadi lembah melebar ke arah hilir ( berbentuk U).

b. Material penyusun lembah sungai berupa batuan rentan terjadinya longsor terdiri dari batuan beku granodiorit banyak mengandung retakan akibat patahan lama dan sifat tanah pelapukannya sarang dan mudah luruh jika terkena air

c. Longsoran pada tubuh lereng yang terbawa oleh aliran air permukaan melalui alur-alur air.

Pengerosian secara lateral sepanjang alur sungai yang dilalui menambah volume sedimen yang bercampur kayu dan pohon tumbang meningkatkan daya rusak.

d. Pembentukan tanggul alam di sepanjang alur sungai sebagai dampak akumulasi longsoran di hulu sungai dan erosi sepanjang alur sungai

e. Aliran sungai yang mengandung sedimen berbagai ukuran dan batang kayu, dapat tersendat saat melewati Infrastruktur jembatan dan terjadi akumulasi energi air yang berkembang cepat serta daya dorongnya dapat merobohkan jembatan .

f. Pemukiman berada dalam bantaran alur sungai yang dilalui oleh banjir bandang lama dan baru

7. MEKANISME

1) Wilayah hulu sungai merupakan wilayah tangkapan hujan dengan potensi curah hujan tinggi. Air hujan meresap kedalam tanah meningkatkan kandungan air dalam retakan batuan dan pelapukannya. Infiltasi air menerus menyebabkan tanah pelapukan yang bersifat urai, berat massanya bertambah, tahanan geser tanah pelapukan dan daya ikatnya menurun serta meningkatnya daya dorong pada lereng. Daya dorong bertambah juga dikontrol kemiringan lereng, proses erosi saat aliran air bergerak diantara rekahan/retakan batuan, dipermukaan lereng dan pada batas tanah pelapukan dengan batuan granodirit dibawahnya. Kombinasi dari faktor pengontrol geologi setempat dan intensitas curah hujan mengakibatkan vegetasi hutan tidak mampu lagi menjaga kestabilan lereng yang telah berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadilah gerakan tanah/longsoran.

2) Bahan rombahan akibat gerakan tanah/longsoran tersebut terakumulasi dengan sedimen lama di sungai dan menambah volume sedimen sungai. Akumulasi sedimen berdampak pada terbentuknya tanggul – tanggul alam sepanjang alur sungai. Saat hujan, debit air meningkat, memicuh akumulasi air pada tanggul tanggul alam tersebut. Daya dorong bertambah dan akhirnya mampu menjebol tanggul alam

3) Aliran banjir bandang berupa percampuran sedimen berukuran dapat lebih dari lebih dari 2 m, sedimen lama di dasar sungai dan erosi sepanjang sungai serta pohon yang tumbang bergerak cepat mengikuti alur sungai. Pelepasan energi air yang besar dan cepat melabrak sepanjang alur sungai baru dan lama . Setempat – setempat pergerakan air yang membawa sedimen dan kayu tersendat saat melewati kelokan sungai dan jembatan. Jebolnya jembatan akibat tidak mampu menahan debit air yang terus meningkat. Menjelang jembatan poros utama Luwu – Luwu Utara, air aliran dari bagian lebih hulu dari jembatan langsung bergerak mengikuti kelurusan sungai dan sebagian melimpas aliran ke kiri dan ke kanan alur sungai.

8. KESIMPULAN

a. Kejadian Banjir Bandang di Luwu Utara dikontrol kondisi alamnya. Kejadian ini dikontrol oleh kombinasi kondisi geologi setempat , kejadian gerakan tanah di hulu sungai , terbangunnya dan jebolnya tanggul – tanggul alam serta dipicu oleh akumulasi curah hujan

b. Terbukanya lahan hutan akibat gerakan tanah meningkatkan ketidakstabilan lereng dan berpotensi terulang kejadian gerakan tanah dan banjir bandang di masa dating

c. Wilayah terdampak banjir bandang umumnya berada pada alur sungai di bagian hilir, wilayah pedataran, kelok sungai serta pemukiman berbatasan dengan jembatan

d. Pendangkalan sungai yang tidak dikendalikan akan berdampak potensi bencana susulan. Dengan kondisi ini maka saat terjadinya curah hujan tinggi dapat memicu limpasan air sungai berpotensi terjadinya banjir lumpur

e. Pembelajaran terpenting dari kejadian ini adalah dengan kondisi hutan pada hulu sungai masih lestari dapat memicuh bencana apalagi jika terjadi alih fungsi lahan yang tidak dikendalikan akan berdampak yang sangat merugikan semua pihak dalam jangka Panjang

f. Sehingga perlu penataan kawasan ulang di alur sungai banjir bandang dengan mempertimbangan mitigasi bencana geologi untuk mengurangi dampak bencana di masa datang

9. Rekomendasi Teknis:

Mengingat wilayah di hulu sungai telah hutan terbuka, terdapat potensi bencana berulang terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang, maka direkomendasikan :

a. Peningkatan kewaspadaan masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana dan pada alur sungai terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama untuk mengantisipasi terjadinya gerakan tanah susulan yang berkembang kembali menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang;

b. Mejaga aliran air sungai tetap lancar dan mengalir pada alur sungai yang terbentuk sekarang dan perlu kegiatan normalisasi alur sungai dengan agenda rutin pengerukan sedimentasi di alur sungai yang mendangkal

c. Pengurangan potensi dampak bencana melalui penataan kawasan terdampak gerakan tanah dan banjir bandang sepanjang alur sungai dari hulu hingga ke hilir sungai dengan:

– Lestarikan hutan yang ada dan tidak mengalih fungsikan lahan hutan hulu sungai minimal wilayah tangkapan hujan pada batas Desa Meli dan Maipi

– Pemindahan pemukiman pada daerah terdampak.

– Tidak mengembangkan infrastruktur vital strategis, pemukiman atau sarana publik di sekitar aliran sungai terdampak banjir bandang terutama yang berhulu di daerah perbukitan yang rawan longsor dan alur sungai terdampak banjir bandang.

– Pengendalian alih fungsi lahan disepanjang alur terdampak bencana mulai dari desa Meli dan Maipi ke arah wilayah hilir sungai

– Pembuatan buffer antara wilayah pemukiman dengan alur lembah sungai dengan menanam pohon berakar kuat, cepat tumbuh, bermanfaat yang diproyeksikan tidak akan perna di tebang dan atau membangun tembok penahan tebing/talud pada lereng terjal di sepanjang alur sungai dan pada kelokan sungai.

– Pembuatan rambu, jalur dan lokasi evakuasi

e. Pembangunan sabo dam pada bagian atas Desa Meli dan Desa Maipi untuk mengendalikan aliran sedimentasi dari hulu sungai.

f. Penanaman vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menahan lereng pada bekas longsor serta untuk menahan laju erosi dan aliran bahan rombakan

g. Pemantauan mandiri pada aliran sungai dan disseminasi informasinya dengan melibatkan peran serta masyarakat terutama yang bermukim di sepanjang alur sungai untuk antisipasi ;

– Curah hujan lokal di hulu sungai, untuk peningkatan kewaspadaan terhadap banjir bandang susulan dan potensi banjir luapan sungai

– Menjadikan Desa Meli di hulu sungai Radda dan Desa Maipi, serta Desa lainnya yang berbatasan dengan hutan sebagai titik kendali pemantauan

– Jika ditemukan material longsor yang menghambat aliran sungai, segera normalisasi aliran sungai tersebut karena berpotensi berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang

– Jika ditemukan retakan pada tebing atas, maka segera menutup retakan dengan tanah liat atau material kedap dan dipadatkan

h. Peningkatan kapasitas adaptasi ancaman bencana melalui sosialisasi untuk kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana;

i. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat. (Ip)

LAMPIRAN LAMPIRAN GAMBAR ESDM:

Gambar: Tumpang susun Peta Rupa Bumi (RBI) dengan deliniasi peta aliran dan dampak Banjir Bandang menunjukan lokasi kejadian bencana. Desa Maipi dan Desa Meli merupakan pemukiman terakhir pada batas Hutan di luar Area tangkapan hujan (Catchment area)
Gambar : Tumpang susun Peta Morfologi dan Landaan Banjir Bandang (Drone ). Hulu alira banjir bandang merupakan morfologi yang membentuk Area tangkapan hujan (Catchment area)
Gambar : Tumpang susun Peta Geologi dan Landaan Banjir Bandang (Drone). Menunjukan kontrol geologi dari karakter batuan dan pelapukannya serta wilayah yang terindikasi patahan / sesar
Gambar : Tumpang susun Peta Geologi dan Landaan Banjir Bandang (Drone). Menunjukan kontrol geologi dari karakter batuan dan pelapukannya serta wilayah yang terindikasi patahan / sesar
‘PostBanner’

Comment