by

Temukan Perkebunan Sawit Besar-besaran di Lutra, Ini Kata Kejati Sulsel

Kejati Sulsel temukan perkebunan sawit besar di Lutra (kejati sulsel)

Smartcitymakassar.com – Masamba. Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Sulsel) juga ikut mendalami penyebab pasti banjir bandang di sejumlah wilayah Kabupaten Luwu Utara. Adapun penyebabnya diduga kuat karena adanya perkebunan sawit dengan area luas di daerah tersebut.

Menurut Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulsel, Firdaus Dewilmar, terjadi alih fungsi lahan yang diduga kuat menjadi penyebab utama banjir bandang.

‘FooterBanner’


“Saya kan sempat meninjau bersama Gubernur, Pangdam dan Kapolda (Rabu, 16 Juli 2020- red). Nah indikasinya selain karena terjadi penyumbatan sungai, kita temukan juga ada perkebunan sawit besar-besaran,” kata Firdaus di Kota Makassar, Sulsel, Senin (27/7/2020).

Firdaus menjelaskan, perkebunan sawit ini berada di perbatasan Kota Palopo – Kabupaten Luwu Utara. Menurutnya, adanya perkebunan sawit itu karena alih fungsi lahan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab.

“Kalau ada perkebunan sawit, berarti ada pengalihan hutan, makanya itu diperkuat dengan adanya temuan aktivitas somel di perbatasan antara Palopo-Luwu Utara,” jelasnya.

Selanjutnya, Kejakasaan Tinggi Sulsel, kata Firdaus sudah menurunkan tim untuk mencari fakta-fakta di lapangan.

Sebelumnya, Kapolres Luwu Utara AKBP Agung Danar Gito, S.I.K., M.Si, menyampaikan, masih melakukan penyelidikan penyebab terjadinya bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Luwu Utara.

“Kami masih melakukan penyelidikan penyebab banjir bandang dan tanah longsor oleh tim dari Bareskrim Polri dan Polda Sulsel,” ungkap Kapolres Luwu Utara, Kamis (23/7/2020).

Sementara Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulsel, Muhammad Al-Amin meminta penegak hukum serius menangani kasus ini. Jangan hanya melakukan pendekatan yang bersifat formalitas saja.

BACA JUGA:  (Video) Air Kembali Meluap Sore Ini di Masamba, Polres Lutra Alihkan Arus Lalulintas

“Kita harap penegak hukum fokus pada dua hal itu, termasuk mencari dan mencatat perusahaan sawit dan oknum pembalakan liar,” ujarnya.

Muhammad Al-Amin juga menyebut ada campur tangan “pengusaha hitam” yang merusak hutan di Kabupaten Luwu Utara (Lutra) sehingga menyebabkan terjadinya banjir bandang pada Senin, 13 Juli 2020. Ia menjelaskan, pengusaha hitam yang dimaksud adalah pengusaha yang punya banyak uang untuk melakukan pembalakan liar atau illegal logging di Lutra. Pembalakan liar itu berdasarkan analisis dan kajian Walhi atas faktor penyebab terjadinya banjir badang.

“Yang pertama itu karena faktor pembalakan hutan berskala besar, seperti illegal logging kemudian pembukaan lahan yang diperuntukan untuk perkebunan kelapa sawit yang menggerus kondisi wilayah hutan di sana,” kata Amin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/7/2020).

Sebagai informasi, pasca banjir bandang di Lutra, masyarakat dikagetkan dengan banyaknya kayu yang ikut arus saat banjir. Salah satu lokasi tumpukan kayu berada di Dusun Rakki-rakki, Desa Wara, Kecamata Malangke Barat.

Menurut Camat Malangke Barat Sulpiadi, di hilir sungai Rongkong ada sekitar dua Kilometer tumpukan kayu gelondongan yang terbawa pasca banjir bandang.

“Dusun Rakki-rakki adalah hilir Sungai Rongkong, ada sekitar dua kilometer itu tumpukan kayu gelondongan yang terbawa pasca banjir bandang di sana,” kata Camat Malangke Barat Sulpiadi. (Ip)

‘PostBanner’

Comment