by

Harapan Warga Desa Terpencil di Luwu Utara Pasca Banjir Bandang

Seorang warga menjelaskan kondisi Lutra pasca banjir (sumber: facebook)

Smartcitymakassar.com – Masamba. Pasca banjir bandang yang melanda Kabupaten Luwu Utara, Sulsel pada 13 Juli 2020 lalu, menyisahkan berbagai cerita. Salah satunya cerita datang dari Desa terpencil di Luwu Utara.

Melalui tiga video bersambung yang diterima dan viral dimedsos, terlihat cerita dari Kepala Desa Pombakka dan tokoh Masyarakat setempat, Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara, menjelaskan tentang kondisi jembatan penghubung antar Desa, bahaya tumpukan kayu pasca banjir dan pendangkalan sungai.

‘FooterBanner’


Dari cerita dalam video tersebut, kepala Desa yang diketahui bernama Ahiruddin Kalu menjelaskan bahwa warganya siap siaga 24 jam menjaga kayu gelondongan yang menurut informasinya masih menumpuk sekitar 5 kilometer diatas dan sewaktu waktu bisa mengancam jembatan desanya. Diketahui sebelumnya video viral penjelasan dari Camat Malangke Barat Supriadi tentang banyaknya tumpukan kayu besar di sungai daerahnya.

Tak hanya itu menurut kepala desa, saat ini, sungai sudah lebih tinggi satu setengah meter dari dataran desanya akibat pendangkalan sungai.

Selanjutnya kepala desa dan tokoh masyarakat setempat tersebut juga berharap agar jembatan sepanjang 60 meter penghubung desa tersebut diperhatikan, baik oleh pemerintah daerah, provinsi maupun pusat.

Berikut videonya:

Terkait soal kondisi jembatan desanya, Ahiruddin pada Juli tahun lalu telah menyampaikan kepada Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani bersama Kepala Dinas PUPR Luwu Utara saat meninjau jembatan Pombakka.

Kepala Desa Pombakka, Akhirruddin, mengungkap tiga kebutuhan itu ketika rombongan bupati dan pejabat Luwu Utara bermalam di Pombakka akhir pekan lalu, yakni tanggul, jalan, dan jembatan. Akhirruddin menyebut, Pombakka potensial di bidang pertanian namun terkendala di tiga hal itu.

BACA JUGA:  Buat Para Pengungsi Banjir Lutra, Ini Kabar Gembiranya

Buktinya, tahun 2018 hasil jagung mencapai 1.000 ton sementara tahun 2019 terhitung Januari-April hampir 400 ton.

“Namun pada bulan Mei tanggul jebol dan merusak tanaman kami. Olehnya itu kami sangat berharap segera ada penanganan, masih ada delapan titik rawan dengan total panjang tiga kilometer,” kata Akhirruddin melalu rilis Bagian Humas Luwu Utara, Senin (29/7/2019).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR) Luwu Utara, Suaib Mansur, mengatakan mengenai jalan tahun lalu dianggarkan pengkrikilan tapi tidak bisa dilakukan karena kendala jembatan.

“Jembatan tahun ini dibantu pemerintah provinsi. Kita sudah melakukan desain rangka baja yang ditaksir menghabiskan anggaran delapan miliar. Ini cukup besar untuk skala desa. Setelah desain ini, kita akan komunikasikan dengan provinsi sebab jembatan ini menghubungkan dua kabupaten yakni Luwu dan Luwu Utara,” terang Suaib.

Kondisi jembatan yang sangat memprihatinkan dan rawan ambruk, dibenarkan oleh kepala bidang bina marga kabupaten Luwu Utara, Mahful.

“Betul kondisinya demikian, jembatan ini merupakan jembatan yang juga menghubungkan dua kabupaten, olehnya itu Pemkab Luwu Utara melalui Dinas PUPR terus melakukan upaya koordinasi sebab jembatan ini merupakan kewenangan pemprov,” ungkap Mahful, yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis pagi (23/4/2020).

Mahful juga mengatakan bahwa, jembatan tersebut telah di desain sejak tahun lalu, dan pembangunan fisiknya di targetkan tahun 2020 ini.

“Kita berharap bahwa pekerjaannya betul di laksanakan tahun ini. Semoga anggaran fisiknya tidak terkena realokasi Untuk penanganan Covid-19, mengingat urgensitasnya jembatan ini bagi masyarakat,” ungkap Mahful. (Ip)

‘PostBanner’

Comment