by

Kesaksian Pengungsi dan Ancaman Penyakit Pasca Banjir Bandang Lutra

WC Umum darurat yang dibuat di sekitar lokasi pengungsian warga di kawasan perkebunan kelapa sawit desa Meli, Baebunta, Luwu Utara, 23 Juli 2020. (Foto : Zwaeb Laibe/ SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia dikutip dari Voa).

Smartcitymakassar.com – Masamba. Penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), hipertensi, diare dan gatal-gatal mulai menyerang sebagian warga yang mengungsi akibat banjir bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Upaya tanggap darurat masih terus dilakukan untuk menangani dampak banjir bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang membuat ribuan jiwa mengungsi sejak Senin 13 Juli 2020.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara, Muslim Muchtar, kepada VOA mengatakan sejumlah penyakit mulai menerpa warga di pengungsian.

‘FooterBanner’


“ISPA itu ada 409, ini update data terakhir, kemudian diare 46, dermatitis (penyakit kulit yang ditandai dengan ruam bengkak kemerahan dan gatal) 195, hipertensi 230,” jelas Muslim dihubungi Jumat siang (24/7/2020). Dia menambahkan saat ini sudah didirikan 11 posko kesehatan untuk melayani kesehatan warga.

Sementara itu, Zwaeb Laibe dari tim SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia di Luwu Utara mengatakan warga di lokasi pengungsian umumnya tinggal dengan kondisi sanitasi yang buruk tanpa sarana air bersih dan MCK (mandi, cuci, kakus) yang memadai. Dia mengkhawatirkan bila tidak dikelola dengan baik, permasalahan ini bisa membuat banyak pengungsi terserang penyakit.

“Biasanya minggu kedua itu, mereka tidak dikelola dengan bagus seperti sanitasinya air bersihnya, ini rawan menimbulkan bencana baru lagi bisa mereka kena kolera, diare dan lain-lain,” ungkap Zwaeb

Lanjut Zwaeb mengatakan di desa Meli kecamatan Baebunta, pihaknya sudah berupaya membantu penyediaan air bersih dengan sistem pipanisasi yang dialirkan dari sumber mata air sejauh 700 meter menuju lokasi pengungsian.

Salah satu pengungsi Ibu Lessa (32) seorang ibu rumah tangga yang kini mengungsi di bukit kawasan perkebunan kelapa sawit desa Meli, Kecamatan Baebunta, mengakui air bersih dan MCK masih menjadi permasalahan pengungsi di sana. Dia terpaksa menggunakan sumber air berjarak 100 meter dari tempatnya mengungsi untuk kebutuhan mencuci piring dan pakaian meskipun airnya berwarna agak kekuningan bercampur lumpur.

“Alhamdulillah, di sini sudah ada WC umum tapi apa ya, tidak ada pembuangannya (septic tank), Cuma dua meter antara kloset dan pembuangannya itu terus tidak ada lubangnya. Bau pembuangannya yang bikin tidak enak juga,” ungkap Lessa yang mengungsi bersama suami dan kedua anaknya yang berusia sembilan dan dua tahun.

BACA JUGA:  Kumpul Bareng Petani dan Kepala Desa, Andi Etti Diskusi Ranperda Sistem Pertanian Organik
Ibu Lessa (32) bersama putrinya yang baru berusia sembilan tahun di dalam tenda darurat di lokasi pengungsian warga desa Meli, Kecamatan Baebunta, Luwu Utara, 23 Juli 2020. (Foto : Zwaeb Laibe/ SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, dikutip dari Voa)

Di tempat itu terdapat tiga toilet darurat yang digunakan oleh 400 keluarga. jumlah yang terbatas itu menyebabkan antrian warga untuk mengaksesnya sehingga sebagian pengungsi memilih untuk buang hajat sembarangan.

“Kalau ada pacul yah menggali begitu, gali di tanah, kalau tidak ada ya buang air sembarangan begitu,” ungkap Lessa yang mengaku rumahnya di desa Maipi tertimbun lumpur setinggi satu meter dalam peristiwa banjir bandang.

Lebih lanjut Thiar Andi dari Palang Merah Indonesia di Luwu Utara menjelaskan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pihaknya sudah menyiapkan 110 tandon air di 60 lokasi pengungsian. Untuk pasokan air bersih itu PMI bekerja sama dengan pemadam kebakaran dan PUPR. Namun demikian, diakuinya,ketersediaan sarana MCK masih terbatas.

“Itu semua yang sangat dibutuhkan karena sampai saat ini belum memadai, yang dianggap memadai di lokasi pengungsian itu baru air bersih yang dipasok oleh teman-teman PMI bekerjasama dengan Damkar (Dinas Pemadam Kebakaran) dan PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) , ”jelas Thiar.

Menurut Thiar saat ini tersisa satu lokasi pengungsian yang berada di desa Maipi Kecamatan Masamba yang belum dapat diakses dengan kendaraan roda empat karena jembatan yang terputus.

Sebagai informasi, menurut data BPBD Luwu Utara, hingga 22 Juli 2020 terdapat 3.627KK / 14.483 Jiwa mengungsi di tiga kecamatan –Sabbang, Baebunta dan Masamba. Di antara para pengungsi terdapat 447 bayi, 2223 balita, 303 ibu hamil dan 2623 lansia. Saat ini pendataan juga masih sementara dilakukan di kecamatan Baebunta Selatan, Malangke dan Malangke Barat.

Kebutuhan mendesak para pengungsi diantaranya adalah tandon air, pompa air, obat-obatan dan suplemen, makanan pengganti ASI, pakaian dalam wanita, popok balita dan lansia, selimut dan sarung, perabot rumah tangga, masker, WC portable, alat penerangan portable. (Ip/Voa)

‘PostBanner’

Comment