by

2 Periode Jadi Wakil Ketua DPRD Kota, Ni’Matullah: Kandidat Rasional Akan Jadikan ARA Sebagai Alternatif Pertama

Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel, Ni’Matullah, besama beberapa Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten/Kota.(As)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telahpersiapkan kader terbaiknya untuk ikut dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendatang.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulawesi Selatan (Sulsel), Ni’Matullah. Menurut Ullah, sapaan akrabnya, partai Demokrat menyiapkan sekitar 6 kader untuk ikut di Pilkada 2020 yang akan dilaksanakan di 12 Kabupaten/Kota di Sulsel.

‘FooterBanner’


“Sejak awal, saya minta minimal 5 – 6 kader untuk maju, artinya ada 50% di 12 Kabupaten/Kota, ini secara rasional, jadi saya berharap hasil Fit and Propert Test itu bisa memberi gambaran untuk mendorong ke 6 kader kita ini (3 maju 01 dan 3 maju 02)”, jelas Ullah.

Disinggung soal kewajiban kandidat lain untuk berpasangan dengan kader partai berlambang Marcy ini, kata Ullah, itu tidak mungkin.

“Kami tidak mau ada pemaksaan kepada kandidat lain untuk mengambil kader kita, dan pertama itu berbahaya dalam kontestasi politik, karena tidak ada kawin paksa itu berlanjut lama”, ungkap legislator Sulsel ini.

“Apalagi kalau kalah, kandidat tersebut bisa beralasan bahwa gara-gara kita paksa berpasangan dengan kader kita, terus ini (kawin paksa) juga mengindikasikan kalau kader kita tidak siap”, tambah Ullah.

BACA JUGA:  ASN Terlibat Politik Praktis, Ari Ashari: Tegas Sedikit Dong Pak Pj

Bukan hanya itu, dirinya juga mengungkapkan, dibeberapa Kabupaten yang akan menggelar Pilkada 2020, akan rugi jika ada kandidat yang menolak untuk berpasangan dengan kader partai Demokrat, baik 01 maupun 02.

Pasalnya, menurut Ullah, beberapa kader partai Demokrat sudah tidak diragukan lagi reputasinya.

“Tidak usah jauh-jauh, misalnya Makassar, ada pak Adi Rasyd Ali (ARA), reputasinya sudah tidak diragukan lagi, tidak gampang duduk di DPRD Kota dengan posisi yang sama, padahal dapilnya termasuk dapil Neraka ini, artinya ada basis yang jelas dibawah, apalagi pengetahuannya soal pemerintahan”, beber Ullah.

“Jadi, untuk kandidat yang rasional, pasti akan menjadikan ARA sebagai alternatif pertama. Tapi, kita disini tidak dalam posisi memaksa mereka, karena kalau ada paksaan itu ujungnya tidak baik”, tutup Ullah. (As)

‘PostBanner’

Comment