by

Sepenggal Lakon Inspiratif Pasien Covid 19

Keterangan Foto: Rezky Auliya Pratiwi S.Psi.,

Smartcitymakassar.com – Makassar. Awalnya, staf Admisi IGD Rumah Sakit Unhas ini, tak menyangka akan terpapar virus yang menjadi buah bibir masyarakat dunia.

Pasalnya, Rezky Auliya Pratiwi S.Psi., atau Kiki sapaan akrabnya, tahu betul tempat kerjanya begitu rentan terhadap penyebaran virus itu.

‘FooterBanner’


Semuanya diperhitungkan secara cermat, dengan menggunakan peralatan yang mumpuni berikut prosedur tetap (protap) kerja yang ketat.

Bahkan, kesiapan fisik untuk imun tubuh tidak ketinggalan. Semua itu dilakukan agar terhindar dari virus Covid 19.

Namun, meski segala ikhtiar sudah dilakukan dengan persiapan matang dan standar proteksi yang sangat tinggi. Akhirnya, Kiki terpapar juga Covid 19.

Inilah sebuah ketentuan dari Allah Azza Wajallah. Meski di awalnya terasa berat, pada proses selanjutnya, dengan penuh kebesaran jiwa, Kiki menerimanya dengan lapang dada dan tetap optimis bahwa ada hikmah dibalik kejadian itu.

Alumni Psikologi Unhas ini banyak menerima support dari keluarga, tetangga, dan sahabatnya dalam menjalani hari-harinya sebagai pasien Covid 19.

Berikut kisah inspirasi penuh hikmah yang ditimba dari akun FB dan IG atas nama Rezky Auliya Pratiwi;

Menjelang hari ke-4 isolasi di rumah sakit. Mencoba jalani hari-hari di kamar RS seperti bagaimana biasanya jalani hari-hari di rumah saat tidak ada jadwal shift di RS, setahun terakhir sy admisi IGD di RS.

Bangun tidur, sarapan, main handphone, mandi, nonton tv, makan siang, tidur siang, main sosmed, sudah terbiasa melakukan hal2 yg itu2 sj 2 bulan terakhir karna sy penganut #dirumahaja garis keras kalau tidak perlu, selama ada covid.

Bukan hal mudah menerima kondisi setiap kali sy tersadarkan bahwa sy positif terjangkit COVID19, dan sadar bahwa penyakit ini tidak main-main. Tidak terhitung berapa kali meneteskan air mata dalam sehari karna takut, karna rindu org tua, rindu rumah, karna rasa ingin plg, dan karna takut selama ini telah bawa bahaya utk org tua, semoga mereka sehat selalu.

Apalagi ini adalah kali pertama sy masuk RS selama hidup 25 tahun, sekalinya masuk RS harus berhadapan dengan virus ini, tidak bisa dirawat oleh org tua, dan tidak bisa dijenguk. Sulit rasanya berdamai dengan diri dan menerima keadaan.

Sedikit cerita, 30 April kemarin sy mengikuti swab test karna mmg sy dan teman2 seruangan sy harus melakukan swab test mengingat kami bekerja di IGD yg sangat rentan terpapar.

Kurang dari 24 jam sy dihubungi bahwa sy harus beristirahat sejenak dari pekerjaan sy krn kondisi sy yg tidak memungkinkan. Saat itu sy pikir mgkn sy masih mimpi, karna mmg masih pagi, dan sampai saat ini kadang sy masih berharap ini mimpi.

Dengan air mata sy langsung menyiapkan baju dan kebutuhan sy yg lain sblm menyampaikan ke org tua sy, karna berat sekali rasanya, sy tau mereka akan sangat sedih. Tp mau tidak mau harus sy lakukan.

Sejak saat itu sy menjaga jarak dengan mereka, memutuskan untuk isolasi di RS, berangkat sendiri dengan mengemudi sendiri, membawa barang2 sy sendiri, masuk IGD sendiri. Dan yg plg menyakitkan dihari itu, adalah harus pamit dari jauh dengan org tua, dengan bercucuran air mata, tanpa bisa memeluk dan cipikacipiki dengan mereka seperti bagaimana biasanya sy pamit saat akan keluar rumah.

Tp dibalik semua kesedihan diatas, banyak hikmah dan kebahagiaan jg. Awalnya sy ragu menyampaikan berita sedih ini, takut dijauhi dan jd bahan cerita. Tp sy rasa org perlu tahu, untuk menjadi doa dan pelajaran untuk lbh aware dgn virus ini.

Lalu, puluhan org bahkan mungkin ratusan menghubungi sy, memberi doa dan support, bahkan org2 yg telah lama rasanya tidak bersua, hanya berteman sebatas sosmed, hadir mendoakan sy. Tidak sedikit pula teman2 dan keluarga yg ingin mengirimkan ini dan itu untuk sy dan kedua org tua sy yg sedang isolasi mandiri dirumah, sebelum mereka mengikuti swab test besok.

Keluarga2 sy, teman2 sy, lingkungan sy, kini sy tau betapa banyaknya org yg sayang dgn sy. Sy jg bersyukur, karena meskipun virus itu ada dlm tubuh sy, tp Alhamdulillah hingga saat ini ‘mereka’ dengan tentunya perintah Allah tidak menyiksa sy dengan gejala apapun yg berarti, sebelum dan setelah tau sy positif terjangkit, dan insya Allah hingga sembuh sy dalam keadaan yg betul2 sehat.

Hmm ada sih gejala kecil yg tidak begitu mengganggu dan tidak mencurigakan entah itu karna penyakit ini atau bukan. Sebelum sy tes, sy sesekali batuk seperti gatal ditenggorokan, kadang jg tiba2 merasa ngosngosan seperti habis naik tangga, tp sllu sy pikir mgkn hanya karena masker yg mmg harus didouble tiap di kantor, Dan 3 hari sebelumnya sesekali merasa berat di bagian kepala, tp sy merasa itu hal yg biasa dan sering terjadi.

Saat ini, sy rehat sejenak dari doa dan harapan sy yg lain, dan fokus berdoa untuk kesembuhan dan kesehatan untuk sy, kesehatan dan perlindungan untuk kedua org tua sy, keluarga sy, dan semua org2 yg sy sayangi.

Sy mohon jg doa dan support dari teman2 agar sy bisa segera plg dengan sehat dan berkumpul lg dengan keluarga, agar kedua org tua sy sehat2 sj, dan tentu agar pandemi ini segera berlalu, karna kini sy tahu rasanya menyedihkan berada diposisi ini.

Dan sadarilah kalau #dirumahaja mmg sepenting itu saat ini, perbanyak konsumsi makanan sehat dan vitamin, jaga diri dan daya tahan tubuh, perbanyak berdoa agar bumi cepat pulih.

Salam dari sy ya**(Rafa)

‘PostBanner’

Comment