by

Tiba-tiba Lutra 20 Positif covid-19, Begini Kronologinya

Tenaga medis corona (ilustrasi)

Smartcitymakassar.com – Masamba. Menyusul adanya peningkatan kasus positif virus Corona atau covid-19 yang signifikan dalam dua hari saja, dari tiga menjadi 20 kasus terkonfirmasi positif covid-19 (meskipun kasusnya adalah positif imported case), Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara (Pemkab Lutra), Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memutuskan menaikkan status Luwu Utara dari siaga darurat bencana non alam covid-19 menjadi tanggap darurat.

Hal ini diungkap Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Muslim Muhtar, Sabtu (2/5/2020), di Masamba, dilansir dari rilis resmi humas Pemkab Lutra.

‘FooterBanner’


Menurut Muslim, dengan naiknya status Luwu Utara menjadi tanggap darurat, maka penanganan covid-19 harus bisa dilakukan lebih cepat, tepat, fokus, terarah dan terpadu.

“Salah satu bentuk penanganan yang bisa kita lihat tadi adalah dengan membawa 19 orang yang terkonfirmasi positif untuk dikarantina di Makassar sesuai instruksi pimpinan, dan kita yang fasilitasi mereka,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Muslim juga mengatakan bahwa posko-posko penjagaan di sebelah barat dan timur juga diperketat. Orang dari luar daerah tak bisa lagi asal masuk tanpa menunjukkan KTP, surat keterangam sehat, termasuk hasil rapid test.

“Semua ini kita lakukan demi memutus mata rantai penyebaran covid-19. Mari kita dukung bersama upaya ini,” jelasnya.

Sebelumnya diketahui Lutra kini memiliki 20 kasus positif covid-19, terhitung sejak Sabtu 2 Mei 2020. Hal itu setelah ada penambahan 17 kasus positif. Penambahan kasus positif merupakan hasil contact tracing dari kasus pertama. Semua kasus positif berasal dari klaster Temboro Magetan, Jawa Timur. Hal ini diungkap Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Luwu Utara untuk Penanganan Covid-19, Komang Krisna, Sabtu (2/5/2020), di Masamba.

“Total yang positif covid-19 sampai hari ini adalah sebanyak 20 orang. Kasus positif pertama sementara dikarantina di Makassar. Kemudian kita lakukan kontak tracing dari kasus pertama. Kontak tracing ini kemudian kita lakukan pemeriksaan PCR tahap I terhadap 15 santri, dan hasilnya ada 2 santri yang positif covid-19. Posisinya di Bonebone,” tutur Komang.

Komang menyebutkan, pada pemeriksaan PCR tahap II, ada 41 santri yang diambil sampel swab hidung dan tenggorokannya, dan hasilnya telah dikeluarkan BBLK Makassar, yakni ada 17 kasus yang terkonfirmasi positif covid-19.

“Kami mendapatkan informasi ini langsung dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan melalui sambungan telepon seluler,” kata Komang.

17 santri bersama 2 santri asal Bonebone langsung dibawa ke Makasssar untuk dilakukan karantina di Swissbell Hotel Makassar.

“Jadi, 19 santri yang positif sudah tidak ada lagi di Luwu Utara. Keluarganya juga akan kita lakukan kontak tracing besok untuk memastikan apakah di Luwu Utara ini sudah masuk wilayah transmisi lokal atau tidak,” terang Komang.

Lebih rinci Komang menjelaskan, bahwa pada awalnya ada 73 santri dari Temboro yang dilaporkan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan kepada Pemerintah Kabupaten Luwu Utara. Ke-73 santri ini langsung melakukan pemeriksaan rapid test di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

BACA JUGA:  Pemuda Mahasiswa Bersatu Datangi Kantor Bupati Tagih Janji Bupati Bantaeng

“Hasil rapid test yang didapatkan waktu itu adalah satu kasus yang reaktif, sementara kasus lainnya non reaktif, sehingga pihak Bandara Sultan Hasanuddin dan Dinas Kesehatan Provinsi, merekomendasi santri non reaktif ini pulang ke rumahnya masing-masing di Luwu Utara, sementara satu kasus reaktif diminta untuk karantina di Makassar,” ungkap Komang.

Dengan dipulangkannya puluhan santri yang hasil rapid test-nya non reaktif, membuat pihaknya, dalam hal ini Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara berinisiatif melakukan kontak tracing dan mengambil sampel swab hidung dan tenggorakan puluhan santri ini untuk dilakukan pemeriksaan PCR di BBLK Makassar.

“Seandainya Pemda tinggal diam, kita biarkan, kita tidak respon, dan kita tidak periksa, pasti akan sangat berbahaya bagi masyarakat Luwu Utara sendiri, dan kita tidak mau melakukan itu,” katanya.

Komang pun menyebutkan, sampai saat ini pihaknya masih berupaya mencari kasus-kasus tersebut untuk dilakukan pemeriksaan swab hidung dan tenggorokan.

Lanjut Komang menjelaskan, setelah pemeriksaan tahap I dan II, pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan tahap III dengan jumlah sampel 48 orang, termasuk 20 sampel dari kasus positif pertama di Palopo yang ada di RSUD Sawerigading.

“Untuk kasus positif di Palopo, kita sudah lakukan kontak tracing dan hasilnya ada 20 orang yang kontak erat,” ungkapnya.

Adapun sebaran kecamatan untuk 17 santri yang positif covid-19 ini adalah Masamba tujuh orang, Baebunta lima orang, Baebunta Selatan satu orang, dan Sukamaju empat orang. Terkait tempat tinggal (baca: rumah) 17 santri ini, Tim Gugus Tugas Kabupaten Luwu Utara langsung melakukan intervensi khusus, dengan penyemprotan disinfektan.

Sebagai informasi, sebelumnya Gubernur Sulsel, Nurdin abdullah melakukan pemantauan terkait pelaksanaan rapid tes ratusan santri dan santriwati asal jawa timur yang baru saja tiba di bandara internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Rapid tes ini bertujuan untuk memastikan kesehatan warga yang baru saja tiba terbebas dari covid-19 sekaligus untuk memotong rantai penyebaran di Sulsel.

Rombongan santri dan santriwati gelombang pertama ini berjumlah 176 orang asal pesantren al fatah temboro kabupaten Magetan Jawa Timur. mereka merupakan warga Sulsel yang tersebar di berbagai daerah kabupaten kota.

Sebelum di pulangkan ke daerah asalnya masing – masing, seluruh santri dan santriwati menjalani pemeriksaan suhu badan menggunakan thermal scanner di terminal kedatangan dan pemeriksaan rapid tes oleh petugas kantor kesehatan pelabuhan bandara.

Meski belum ditemukan adanya positif terinveksi virus corona melalui rapid tes di bandara, seluruh santri dan santriwati nantinya akan kembali menjalani karantina mandiri selama 14 hari di daerahnya masing-masing yang langsung di pantau melalui pemerintah daerah setempat.

Santri dan santriwati asal Jawa Timur yang merupakan warga Sulsel ini diketahui berjumlah 760 orang. Mereka tiba melalui bandara sultan hasanuddin makassar secara bertahap menggunakan empat maskapai. (Ar/Ip)

‘PostBanner’

Comment