by

Puncak Mei dan Diprediksi 143,390 Kasus Corona di Sulsel, Penelitian Unhas: Pemerintah Harus Cepat Bergerak

Sampel darah positif corona (ist)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Universitas Hasanuddin (Unhas) mengeluarkan hasil modeling terkait kasus virus Corona atau Covid-19 di Sulawesi Selatan (Sulsel). Melalui tim Departemen Epidemiologi FKM Unhas, Tim Departemen Statistika, FMIPA Unhas, Tim Departemen Matematika.

Adapun hasilnya, estimasi dari dua model perkiraan total yang terinfeksi di Sulsel berjumlah 143,390 pasien.

‘FooterBanner’


Perkiraan yang asymptomatic atau gejala ringan 70.000 sampai 80.000 orang. Kemudian Perkiraan jumlah orang yang memerlukan penaganan (masuk RS) 28.678 orang dan perkiraan jumlah yang memerlukan penanganan intensive 5.736.

Penelitian ini menggunakan permodelan metode Richard’s Curve atau modeling kurva sebagai simulasi laju penularan kasus COVID-19 di Sulsel.

Kita sudah dapat laporan real yang dilaporkan oleh pemerintah. Tetapi kita mesti tahu, bahwa data yang dilaporkan itu adalah yang diperiksa (tes). Bukan menggambarkan berapa sebenarnya yang ada di masyarakat secara keseluruhan. Mungkin sebagian sudah menjalani tes, sebagiannya lagi tidak,” kata ketua tim peneliti, Ansariadi Ph.D kepada wartawan, Rabu (8/4/2020).

Ansariadi menjelaskan, berdasarkan data dan fakta lapangan hasil permodelan, sebanyak 80 persen masyarakat yang terinfeksi, asymptomatic atau ‘tanpa gejala’, atau pun masuk dalam kategori gejala ringan. Mereka yang terjangkit tanpa gejala karena imun atau kekebalan tubuhnya masih kuat. Selebihnya adalah mereka berusia renta dan rentan yang terinfeksi dengan gejala langsung, seperti demam hingga sesak nafas. Yang dikhawatirkan, menurut Ansariadi, jumlah penderita yang sedikit ini kemudian secara serentak membeludak.

BACA JUGA:  Andi Sudirman Terima Kunjungan Wakil MUI Sulsel dan Kemenkunham

“Ini kan tingkat penularannya sangat cepat, masif. Jadi kalau secara serentak semua yang positif sakit, maka yang kewalahan adalah rumah sakit. Sementara yang terjangkit tanpa gejala, kalau lambat laun tidak ditangani, akan menambah jumlah yang sedikit itu tadi. Yang tidak bergejala, menjadi bergejala,” jelas Ansariadi.

Menurut Ansariadi, jumlah kasus COVID-19 di Sulsel bisa berlipat ganda jika tidak ada pola intervensi melalui pemerintah. Setiap hari, kini jumlah orang terinfeksi bisa mencapai 5 hingga 30 orang. Per Selasa (7/2), pemerintah mencatat ada 122 total kasus positif

Dengan peningkatan tiga kali lipat per empat hari, diperkirakan puncak pandemi di Sulsel terjadi pada Mei mendatang dengan jumlah sekitar 80 ribu kasus, serta terakumulasi 143 ribu orang. Olehnya, jika dibiarkan tanpa intervensi, kasus COVID-19 di Sulsel diprediksi terus meningkat. Berpotensi ada 28,678 pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit, sedangkan 5.736 orang membutuhkan perawatan intensif.

Peneliti menyimpulkan bahwa populasi penduduk di Sulsel saat ini semakin terancam.

“Artinya ketika pemerintah semakin cepat bergerak, risiko penularan akan semakin kecil. Semakin lama, akan semakin besar. Itu estimasi perhitungan sementara. Kalau dengan intervensi pemerintah dan itu maksimal, maka risiko penyebaran akan berkurang bahkan tidak ada lagi korban,” ucapnya. (Aan/Ip)

‘PostBanner’

Comment