by

Betapa Berharganya Sebungkus Nasi Bagi Para Pekerja Harian Lepas

Smartcitymakassar.com – Surabaya. Pandemi corona yang melanda dunia, termasuk Indonesia, berimbas pada kondisi ekonomi. Kelompok ekonomi menengah ke bawah, khususnya para pekerja harian lepas, sangat bergantung pada pendapatan harian untuk biaya hidup. Sebungkus nasi sangat bernilai karena turunnya penghasilan secara drastis.

Diki, seorang pengemudi ojek motor online di Surabaya, mengandalkan perolehan pendapatannya sehari-hari dari mengantar penumpang atau memenuhi pesanan pembelian makanan. Perebakan virus corona membuat pendapatannya turun drastis. Bahkan ketika ditemui VOA, Sabtu (4/4), ia mengaku tidak sarapan karena harus berhemat.

‘FooterBanner’


“Sepi banget, ini saya berangkat jam setengah delapan (pagi), sampai sekarang masih dapat empat setengah, empat orderan ini. Ini pun belum kemasukan nasi, baru ini,” ujar Diki.

Informasi tentang adanya tempat yang membagikan nasi bungkus gratis untuk makan siang tidak disia-siakan Diki. Ia mengatakan program ini sangat membantunya. Ia sangat menghargai gerakan masyarakat yang peduli dan solidaritas antar masyarakat di tengah pandemi virus corona.

“Membantu banget, dari kita posisi keadaan sepi, kita dapat (info) dari rekan-rekan ke sini, ini berharga banget buat kita,” imbuh Diki.

GKI Ngagel Bagikan Nasi Bungkus Bagi Pekerja Harian Lepas

Aksi berbagi 100 nasi bungkus per hari dan vitamin C bagi tukang becak, ojek, pemulung serta sopir angkutan, digagas oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngagel, Surabaya.

Pendeta Florida Rambu, dari GKI Ngagel, menyebut gerakan peduli pada pekerja harian lepas ini sebagai hal positif untuk membantu kesulitan sebagian masyarakat, yang mengandalkan hidupnya dari pekerjaan di jalan maupun dari apa yang dikerjakan.

“Dalam keadaan normal saja, tukang ojek, tukang sampah, pemulung, kondisi mereka pasti tidak sebaik orang-orang yang bekerja dengan penghasilan tetap, apalagi dalam kondisi seperti begini. Dengan memberi makan, harapannya uang makan mereka bisa dipakai untuk yang lain,” kata Florida Rambu.

BACA JUGA:  Antara Anggaran Pusat dan Daerah untuk Percepatan Penanganan Banjir Bandang Luwu Utara

Jemaat GKI Ngagel kata Pendeta Florida, bergotong royong menyumbang dana dan tenaga, untuk mewujudkan aksi sosial ini. Makanan yang dibagikan kepada para pekerja harian lepas ini dipesan dari jemaat yang biasanya berjualan makanan, serta dari warung-warung sekitar yang hari-hari terakhir ini semakin sepi pembeli.

“Ada dua tempat yang kami pesan, yang pertama jemaat yang biasa jual makanan, mereka sepi juga nih, lapaknya sepi. Nah, kami pesan dari mereka, lalu nanti mereka yang akan pasok ke sini. Tapi yang kedua, kami juga beli dari warung-warung sekitar gereja, warung-warung sekitar gereja ini banyak yang sepi, kami beli juga dari mereka,” kata Florida.

“Lalu ada jemaat yang tahu bahwa ada warung yang sepi dan dia kenal, dia tahu makanan di situ, boleh, kami akan beli di situ juga. Jadi kenapa kami harus tahu di mana kami beli, dan pada siapa kami beli, karena kami kan untuk masyarakat luas. Kita memastikan bahwa makanan yang mereka beri adalah makanan yang baik,” lanjutnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2019 menunjukkan jumlah pekerja sektor informal di Indonesia diperkirakan mencapai 74 juta jiwa atau sekitar 57 persen, sedangkan pekerja sektor formal mencapai sekitar 53 juta jiwa atau sekitar 43 persen.

Pendeta Florida berharap, melalui gerakan bersama meskipun kecil seperti ini, permasalahan terkait dampak virus corona akan dapat diringankan. Langkah tersebut sekaligus diharapkan dapat menyebarkan pengaruh positif bagi kelompok masyarakat lain untuk ikut terlibat membantu sesama yang membutuhkan. (Aan/Voa)

‘PostBanner’

Comment