by

Tarwih di Rumah Serta Tak Perlu Mudik dan Salat Id, Ini Surat Edaran PP Muhammadiyah

Kantor PP Muhammadiyah (ist)

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Virus Corona atau COVID-19 khususnya di Indonesia masih terus berkembang. Berbagai langkah dilakukan pemerintahan untuk mengatasinya, termasuk sosial distracting.

Padahal, sebentar lagi bulan suci ramadhan dan hari raya idul Fitri akan datang bagi umat muslim di seluruh dunia.

‘FooterBanner’


Sedih memang membayangkan dampak virus Corona ini. Umat Islam bakal melalui hari-hari Ramadan tanpa salat tarawih berjemaah seperti selama ini yang dikerjakan. Termasuk puncaknya, salat hari raya Idulfitri pun bakal ditiadakan, dan mungkin menjadi pertama kali dalam sejarah, Salat Id tidak dilaksanakan.

Hal ini sudah dipertegas Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah jika wabah virus corona belum meredah dengan mengeluarkan surat edaran, guna mengantisipasi berbagai kondisi ke depan.

Surat edaran itu bernomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang wabah Covid-19 dan surat bernomor 03/I.0/B/2020 tentang penyelenggaraan salat Jumat dan fardu berjemaah saat Covid-19 melanda.

Soal penegasan Salat Tarawih dirumah, Salat Id ditiadakan dan termasuk tak perlu berpuasa bagi tenaga medis, PP Muhammadiyah menjelaskan dalam maklumatnya pada halaman 12 poin 12 (a,b,c,d) bahwa:

12. Apabila kondisi mewabahnya Covid-19 hingga bulan Ramadan dan Syawal

mendatang tidak mengalami penurunan, maka:

a. Salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadan yang lain (ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya) sesuai dengan dalil yang disebutkan pada angka 7 di atas.

BACA JUGA:  Wartawan Senior Sulsel Ini Umumkan Dirinya Positif Covid-19

b. Puasa Ramadan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik, dan wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

c. Untuk menjaga kekebalan tubuh, puasa Ramadan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas dan menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

Tenaga medis yang menangani pasien Covid-19 membutuhkan kekebalan tubuh ekstra dan kesehatan baik fisik maupun non-fisik. Dalam rangka itu ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa apabila dikhawatirkan bilamana tetap berpuasa justru akan membuat kekebalan tubuh dan kesehatannya

d. Salat Idulfitri adalah sunnah muakkadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun apabila pada awal Syawal 1441 H mendatang tersebarnya covid-19 belum mereda, salat Idulfitri dan seluruh rangkaiannya (mudik, pawai takbir, halal bihalal, dan lain sebagainya) tidak perlu

diselenggarakan. Tetapi apabila berdasarkan ketentuan pihak berwenang covid-19 sudah mereda dan dapat dilakukan konsentrasi banyak orang, maka dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan pihak berwenang mengenai hal itu. Adapun kumandang takbir ‘Id

dapat dilakukan di rumah masing-masing selama darurat Covid-19. (Aan/Ip)

Adapun edaran selengkapnya dapat diunduh di sini:

http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/EDARAN%20Tuntunan%20Ibadah%20di%20Masa%20Darurat%20Covid-19.pdf

‘PostBanner’

Comment